Mahasiswa KKN Integrasi FKIP UKI Santu Paulus Ruteng melakukan pelatihan pembuatan pupuk kompos di Desa Lawi, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Senin (29/7/2019).

Ruteng, Ekorantt.com – Mahasiswa KKN Integrasi FKIP Universitas Katolik Indonesia (UKI) Santu Paulus Ruteng melakukan pelatihan pembuatan pupuk kompos di Desa Lawi, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Senin (29/7/2019).

Pembuatan pupuk kompos ini merupakan salah satu program kerja KKN yang bertujuan memberikan kesadaran bagi para petani Desa Lawi tentang pentingnya penggunaan pupuk kompos dalam sektor pertanian.

Pelatihan pembuatan pupuk kompos ini juga melibatkan seorang warga atas nama Bapak Markus Amput (70), yang telah lama memulai pengembangan pembuatan pupuk kompos itu.

Pembuatan pupuk kompos yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat, sebenarnya membantu masyarakat setempat. Namun, sayangnya, selama ini hanya Bapak Markus seorang yang bertani menggunakan pupuk kompos.

“Masyarakat di sini lebih sering menggunakan pupuk kimia. Mungkin karena tidak mau repot membuat pupuk sendiri,” tutur Bapak Markus saat berbincang dengan koordinator KKN, Elin Nanus.

Untuk diketahui, bahan dasar pembuatan pupuk kompos ini terdiri dari kotoran hewan yang telah kering,  gula,  rumput (daun sensus),  halia,  serai,  dan air cucian beras yang telah dicampur dengan batang pisang. 

Proses pembuatannya juga cukup mudah.  Rumput, halia dan daun serai dicincang halus,  kemudian dicampur dengan kotoran kering,  gula,  minyak tanah secukupnya,  juga campuran air cucian beras dan batang pisang.

Jika semua bahan telah tercampur rata,  selanjutnya tinggal diisi ke dalam karung sebagai wadah proses fermentasi yang membutuhkan waktu selama kurang lebih 2 minggu.

Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos ini juga melibatkan pelajar SD dan SMP Desa Lawi.

“Selain para petani,  kami juga mengajak anak muda serta pelajar SD dan SMP yang ada di Desa Lawi.  Ini adalah pengetahuan berharga yang mungkin tidak diperoleh di sekolah.  Menurut kami, sejak dini mereka (para pelajar)  perlu memahami manfaat penggunaan pupuk organik dan bahaya penggunaan pupuk kimia dalam bertanam. Kelak, jika mereka menjadi petani milenial,  mereka dapat mengaplikasikan pelatihan ini,” ujar Elin Nanus kepada Ekora NTT, Selasa (30/7/2019).

Selanjutnya, kata aktivis PMKRI itu, pupuk hasil pelatihan ini akan digunakan dalam pelatihan menanam sayur bagi pelajar SD dan SMP Desa Lawi.

Adeputra Moses

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here