Kalau dia manusia yang bermoral, Patrick Juang Rebong pasti sedang kecewa, marah, dan menyesal setengah mati.

Bagaimana mungkin sebuah even tinju internasional bertajuk “NTT Big Fight” – “Pertempuran Besar NTT” – bisa-bisanya gagal total?

Bagaimana mungkin even tinju internasional yang menghadirkan Manot “Spider” Comput, petinju kelas dunia dari Thailand,  dan Irina, DJ Top Asia dari Rusia, macet di tengah jalan?

Lebih dari pada itu, bagaimana mungkin even tinju internasional yang sudah menjual nama para politisi dan penjabat kepolisian di NTT di ruang-ruang publik – Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Wakapolda NTT Johni Asadoma, dan Bupati Sikka Robby Idong – bisa berakhir memalukan?

Patrick Juang Rebong, Sang Promotor Arena Promotion, mungkin sedang merasa kecewa, marah, dan menyesal.

Akan tetapi, Patrick Juang Rebong, Sang Politisi dari Partai Perindo, harus tahu diri.

Yang paling berhak merasa marah, kecewa, dan menyesal bukan dirinya, melainkan rakyat NTT pada umumnya dan rakyat Sikka pada khususnya!

Rasa amarah, kecewa, dan menyesal rakyat NTT dan Sikka bisa diungkap dalam satu pertanyaan kecil ini: dari mana dan ke mana uang proyek “NTT Big Fight II” Tinju Internasional Maumere” ini mengalir?

Herman Siswanto girang bukan kepalang. Ia bakalan dapat durian runtuh dari even tinju internasional di Maumere.

Patrick Juang Rebong (Promotor Ring Arena Promotion), Rudolfus Ali (Ketua Panitia), Erick B. Sabon (Ketua Panitia Pelaksana), Toni Kolin (Ketua Ring), dan Viktor Sudarmadji menemuinya di Hotel Benggoan Maumere di Jalan Moat Toda.

Komisaris PT Sikka Express Wisata ini diminta membiayai tiket pesawat pulang pergi bagi sekitar 32 penumpang peserta tinju internasional di Maumere dari Jakarta, Bangkok, dan tempat lainnya.

Awalnya, berdasarkan “Surat Pernyataan”, dia dimintai duit pengadaan tiket sebesar Rp42.636.700,00, tetapi membengkak menjadi Rp63.203.200,00 akibat tambahan beberapa penumpang.

Dia menyanggupi permintaan tersebut karena lima (5) orang penanggungjawab even di atas “menyatakan akan bertanggungjawab atas pengembalian dana pembelian tiket event sebesar Rp42.636.700,00 setelat-telatnya pada tanggal 03 Agustus 2019 kepada PT SIKKA EXPRESS WISATA di Maumere.

Selain itu, pengusaha “tour and travel” di Maumere ini tergiur karena “dengan bantuan tiket kerja sama tiket ini, kami Ring Arena Promotion bersama Pemda Sikka & Bupati Sikka akan memberikan 10 persen pendapatan tiket/karcis pemasukan event selama 2 (dua) hari di Stadion Gelora Samador, 1 sampai 3 Agustus 2019.”

Iman siapa yang tak bakal goyah manakala dijanjikan fee sebagai pasive income dari suatu proyek yang tak dikerjakannya sama sekali?

Dan iman Herman Siswanto goyah. Dia menyanggupi.

Akan tetapi, apes nian nasib Beliau!

Bukannya mendapatkan fee 10%, pihak Ring Arena Promotion malah bawah kabur sekitar Rp60-an juta duit miliknya di atas.

Dia hanya dapat uang down payment (DP) sebesar Rp5 juta.

Dia loss Rp60-an Juta hanya dalam tempo semalam.

Apesnya lagi, saat melaporkan kasus penipuan dan pencurian uang ini ke Polres Sikka, polisi suruh dia laporkan kasus itu ke POLDA NTT.

Polres Sikka tidak mau tangani kasus itu.

Durian benar-benar runtuh di atas kepala Herman!

Dedi Olderikus awalnya juga girang bukan kepalang.

Manager Produksi PT Choin Entertainment ini bakalan raup duit segar dari Ring Arena Promotion sebesar Rp30 Juta atas jasanya sebagai vendor penyedia sound system, lighting, rigging, dan barikade dalam even tinju internasional di kampung halamannya di Maumere.

Berdasarkan surat “Perjanjian Kerja Sama NTT Big Fight II Tinju Internasional Maumere 1 – 3 Agustus 2019”, yang ditandatangi dirinya dari pihak PT Choin Entertainment (PIHAK I) dan Erick B. Sabon dari pihak Panitia NTT Big Fight II Tinju Internasional Maumere (PIHAK II), “PIHAK I bersedia membayar PIHAK II dengan nilai Rp.30.000.000,00.”

Selanjutnya, “seluruh pembayaran dilakukan dengan cara cash sebesar 50% sebelum loading dan 50% sisa setelah sound cek di hari acara.”

Akan tetapi, apes pula nasib Beliau!

Ring Arena Promotion mangkir, ingkar janji, dan kabur dari arena tinju. Panitia hanya membayarnya Rp17 juta. Sisanya sebesar Rp13 Juta dibawa kabur panitia.

Inilah alasan mengapa dia menghentikan sound system pada saat tinju sedang berjalan.

Jadi, ke mana duit proyek tinju internasional di Maumere mengalir?

Patrick Juang Rebong diduga sudah punya minimal Rp70-an juta di saku hasil “bawa kabur” duit dari Herman Siswanto dan Dedi Olderikus. Herman Siswanto kantongi saldo loss Rp5 juta. Dedi Olderikus kantongi profit Rp17 juta. Trans Nusa, Nam Air, dan Wings ikut menikmati aliran dana dari proyek ini, tentu secara legal.

EKORA NTT, selaku media massa yang mengiklankan even ini dalam dua edisi, juga kecipratan uang iklan sebesar Rp3 Juta, tentu secara legal. Kita belum tahu, berapa duit rakyat yang masuk ke saku para petinju, penghibur, dan anggota panitia lainnya?  

Akan tetapi, satu pelajaran penting dari skandal memalukan ini adalah setiap proyek di NTT selalu beri keuntungan bagi para pengusaha (dalam kasus ini PT Sikka Express Wisata, PT Choin Entertainment, Wings, Trans Nusa, NAM, dan EKORA NTT), politisi, birokrat, kontraktor, jurnalis “calo proyek”, dan kelompok “aji mumpung” lainnya.

Rakyat NTT umumnya hanya bisa gigit jari. Untung kalau bisa bawa kabur kursi milik panitia!

Akhirnya, mengapa rakyat NTT dan rakyat Sikka mesti marah soal gagal total proyek tinju internasional di Maumere ini?

Di Rujab di Jalan El Tari, Direktur Bank NTT Cabang Maumere Ben Bloy Bogar menyerahkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp65 juta kepada Bupati Robby Idong untuk menyukseskan even yang katanya “bergengsi” ini.

Uang puluhan juta rupiah itu milik kita!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here