BUMDes Wela Pau Produksi Sandal Jepit dan Pemecah Kemiri

Borong, Ekorantt.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan sebuah jenis usaha yang dikelola serta diprioritaskan untuk pengembangan Desa. BUMDes  menjadi salah satu langkah dari pemerintah pusat untuk usaha-usaha pemerataan pembangunan ekonomi, khususnya bagi masyarakat Desa.

Dengan pemerataan ini diharapkan tidak akan terjadi lagi kesenjangan antara masyarakat di perkotaan dan pedesaan. Selain itu, diharapkan masyarakat pedesaan bisa memiliki kemandirian dalam memajukan desanya.

Melihat hal ini, Pemerintah Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan usaha kreatifnya memanfaatkan program BUMDes. Salah satu hasil karya  kreatif yang mereka produksi adalah usaha sandal jepit dan mesin pemecah kemiri.

Kepala Desa Benteng Pau, Benyamin Raging ketika ditemui EKORA NTT di lokasi kegiatan Bursa Inovasi Desa yang berlangsung di aula Paroki St. Paulus Mano, Kecamatan Poco Ranaka Rabu, (7/08/2019) menjelaskan, dirinya sangat mendukung dan  menyambut baik serta memberikan apresiasi yang tinggi terkait hadirnya BUMDes yang ada di wilayah Desa Benteng Pau.

Raging bercerita, BUMDes di desanya diberi nama Wela Pau. Kegiatan yang dilakukan dan dikembangkan dalam BUMDes ini adalah memproduksi sandal jepit dan alat pemecah kemiri.

iklan

“Hadirnya BUMDes Wela Pau ini bisa menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat khususnya angka pengangguran”, ungkapnya.

Selain menjawab angka pengangguran, tambah Raging,  BUMDes Wela Pau juga bisa menambah PAD Desa Benteng Pau ke arah yang lebih baik. 

Untuk selanjutnya, jelas Raging, aktivitas produksi sandal jepit dan pemecah kemiri ini akan terus ditingkatkan melalui penambahan modal dari dana desa. Ini dimaksudkan agar BUMDes tersebut tidak mengalami hambatan. 

Raging mengisahkan, kegiatan ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemerintah Desa Benteng Pau  dengan seluruh masyarakat Desa. Baik pemerintahan Desa maupun masyarakat percaya bahwa kehadiran BUMDes dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Benteng Pau ke arah yang lebih baik.

Kata Raging, penyaluran dana Desa yang didapatkan desanya di tahun 2019 sebesar 1,3 miliar. Dari besaran dana ini alokasi untuk BUMDes mencapai 100 juta rupiah.

Sementara itu Direktur BUMDes Wela Pau Ferdinandus Koret menjelaskan bahwa produk-produk yang ditawarkan oleh BUMDEs Wela Pau sudah mulai dipesan oleh warga masyarakat di desanya hingga beberapa desa tetangga.

“Kemarin kami mengikuti kegiatan Bursa Inovasi Desa di Kecamatan Borong dan hasil sandal yang kami produksi hampir semuanya habis terjual. Rata-rata hasil produksi yang kami kerjakan mencapai 150 pasang sandal”, ungkapnya. Harga sandal yang diproduksi oleh BUMDes Wela Pau adalah Rp. 10.000 untuk segala jenis ukuran.

Koret berharap sandal jepit hasil produksi dari BUMDes Wela Pau ini semakin baik dan meningkat.  Ia berharap produk sandal dari BUMDES yang ia pimpin bisa segera dipesan oleh seluruh pengusaha maupun masyarakat Manggarai Timur, sebab kualitas produknya tidak kalah saing dengan produk-produk yang datang dari luar.

Pendamping Desa Benteng Pau Marianus Kesman mengatakan bahwa dirinya merasa sangat bangga dan senang sebab ide untuk mengadakan BUMDes itu melalui satu kajian mendalam. Sebagai pendamping, ia berperan mencari informasi ke berbagai pihak dan akhirnya mimpi membentuk BUMDes tersebut bisa terwujud.

“Saya sangat bangga dengan Kepala Desa Benteng Pau. Mereka secara transparan mengalokasikan dana 100 juta sehingga BUMDes Wela Pau, Desa Benteng Pau ini punya dua unit pengelola usaha yaitu produksi mesin pemecah kemiri dan usaha produksi sandal jepit dan dikerjakan oleh masyarakat Desa Benteng Pau sendiri”, terang Kesman.

Menurut Kesman, jauh sebelumnya pihak pemerintah Desa Benteng Pau merespons baik instruksi Menteri Desa untuk pembentukan BUMDes menuju desa mandiri. Baginya, di waktu-waktu yang akan datang Desa-Desa yang ada di Indonesia tidak lagi harus bergantung pada dana Desa.

Melalui BUMDes, Desa-Desa bisa memiliki pendapatan asli Desa. Usaha pabrik sandal dan mesin pemecah kemiri akan menjadi faktor penunjang yang bisa meningkatkan pendapatan asli Desa Benteng Pau.

“Saya sebagai pendamping Desa Benteng Pau mengharapkan semua pihak yang memiliki kepentingan supaya dapat mendukung sekaligus membeli produk sandal jepit hasil produksi BUMDes Wela Pau. Kita tidak boleh bergantung kepada orang luar lagi karena kita orang Manggarai khususnya orang Manggarai Timur bisa memproduksi dan memiliki kemampuan untuk menciptakan sandal jepit”, jelasnya.

Kesman menerangkan, dari empat desa yang ia dampingi, semuanya sudah siap untuk membentuk BUMDes. Dua desa sedang menjalankan BUMDes-nya masing-masing, yakni Desa Benteng Pau dan  Desa Golo Wuas.

Di Desa Golo Wuas, mereka berorientasi kepada usaha produksi tepung kopi Golo Wuas dan itu dikelola oleh BUMDes. Di Desa Golo Wuas, selain produksi tepung kopi, BUMDes juga memiliki usaha percetakan bata merah. Sedangkan pembentukan BUMDes di dua desa yakni Desa Sipi dan Paan Waru masih dalam tahap sosialisasi. Dua desa ini telah menganggarkan dana desa tahun 2020 untuk pembentukan BUMDes.

Menurut Kesman, pemerintah Desa terus memberikan dukungan melalui alokasi modal bagi aktivitas-aktivitas BUMDes.  Berbagai kekurangan BUMDes perlu difasilitasi oleh dana Desa agar semua masyarakat yang ada di Desa tidak susah dan tidak bergantung lagi dengan produk yang datang dari luar.

Stefanus Mustaram salah seorang  pembeli sandal jepit mengaku sangat kaget dan kagum dengan sandal jepit hasil produksi BUMDes Wela Pau. Menurutnya, produk sandal jepit Wela Pau sama persis dengan produk sandal-sandal yang datang dari luar NTT.

“Saya kaget ketika melihat mereka memproduksi sandal jepit ini. Luar biasa dan hebat,” ungkapnya penuh kagum.

Kesan Mustarman, BUMDes Wela Pau yang berasal dari Desa Benteng Pau ini sungguh sangat luar biasa dan bisa menjadi contoh bagi Desa lain yang ada di Kabupaten Manggarai Timur untuk segera membentuk BUMDes.

Mulia Donan

TERKINI
BACA JUGA