Kopi Pulu Pulu di Cornel Coffee, Yogyakarta.

Yogyakarta, Ekorantt.com – Beberapa waktu lalu, EKORA NTT sempat berkunjung ke salah satu kedai kopi di Jalan Cempaka, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Salah seorang sahabat EKORA NTT, Kanis namanya, telah menunggu duluan di situ. Kata dia, yang notabene merupakan seorang penikmat dan pemburu kopi, keistimewaan kopi di tempat tersebut patutlah dicoba.

Nama kedai itu Cornel Coffee. Meskipun kedengarannya a la western, tempat ini sebetulnya dimiliki oleh orang Indonesia. Lebih tepatnya, wiraswastawan dari Toraja, Sulawesi Selatan.

Tentu saja kopi-kopi yang dijual di situ berasal dari tanah Toraja. Ada beberapa jenis yang sempat dicatat EKORA NTT; Pulu Pulu, Rante Uma, Sapan, dan jenis Toraja Spice.

Kami memesan jenis Pulu Pulu sebagaimana direkomendasikan salah seorang pramusaji. “Ini yang paling sering dicari, Mas. Rasanya juga mantap,” begitu sarannya.

Sepuluh menit berselang, kopi tadi pun dihidangkan. Pembuatannya memang memakan waktu cukup lama, sebab biji kopi mentah mesti disangrai terlebih dahulu kemudian digiling dan selanjutnya diseduh dengan air panas bertakaran didih tertentu. Peralatan/mesin kopi tersedia lengkap.

Rasa kopi (tanpa gula) ini tak terlalu masam ataupun pahit. Taraf manisnya pun tak mencolok. Namun, itu sepertinya bukan manis. Entahlah, deskripsi apa yang lebih tepat mewakili. Sebuah hal yang tak mengherankan karena kopi Pulu Pulu sendiri berjenis Arabika yang secara umum punya aroma dan cita rasa yang kaya.

Desain interior Cornel Coffee, Yogyakarta.

Desain interior Cornel Coffee juga ditata untuk berikan kenyamanan bagi para pengunjungnya. Areanya luas dengan tempat duduk yang berjarak. Selain untuk ngobrol/diskusi/pertemuan, pengunjung juga dapat mengerjakan tugas-tugas pribadi.

Ada juga rak-rak yang menyediakan bermacam buku bagus. Pada kesempatan itu, Kanis mencomot salah satu buku tetratologi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Untuk dibacanya sembari menikmati kopi hitam dan mengeja malam yang dingin.

Selain itu, sebuah layar LCD ditempatkan pada dinding dan mempertontonkan slide visual situasi perkebunan kopi di Toraja. Sebuah perkebunan yang memasok kopi-kopi untuk Cornel Coffee.

Menyaksikan gambar-gambar itu, penikmat kopi rasa-rasanya dihantar melawati peristiwa pengolahan juga kehidupan para petani kopi. Kemungkinan besar, pemilik tempat itu sengaja membikin tatanan termaktub demi ciptakan kondisi intens dalam diri orang-orang yang berkunjung. Dari kopi sebagai minuman di atas meja hingga kopi sebagai tanaman di kebun-kebun Toraja.

Usai menyeruput kopi di situ, kami pun pulang. Dan kami baru sadar, unsur Toraja di tempat itu semakin komprehensif saja tersebab variasi luaran kedai yang dibuat menyerupai rumah adat Toraja, yakni Tongkonan. Ketika menengok, kita langsung tahu bahwa tempat itu sangat kental dengan nuansa Toraja-nya.

Begitulah secuplik pengalaman EKORA NTT menikmati kopi Toraja di Kota Yogyakarta. Tempat ini tak hanya sekadar medium minum kopi, tapi juga punya karakter tersendiri. Mungkin berupa laku napak tilas bagi orang-orang Toraja pun Sulawesi Selatan, kesempatan bersantai bagi siapa saja untuk mengambil jarak dari keriuhan kota ataupun jadi ruang untuk mewujudkan ide-ide dalam kepala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here