Jumat, 29 Mei 2020

Masih Ada 7 Desa Sangat Tertinggal di Matim

- Advertisement -

Borong, Ekorantt.com – Berdasarkan hasil ukur Indeks Desa Membangun (IDM) sesuai Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 2 Tahun 2016, pada tahun 2019 di Kabupaten Manggarai Timur terjadi peningkatan yang sangat signifikan perihal kemajuan pembangunan desa, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Timur, Ir. Boni Hasudungan di ruang kerjanya pada Senin, (26/08/2019).

Kata Boni, dari 159 desa yang ada di Manggarai Timur, jumlah desa dengan status sangat tertinggal yang sebelumnya 58 desa, kini tersisa 7 desa. Lanjut Boni, 51  desa lainnya mengalami peningkatan status dari sangat tertinggal menjadi tertinggal. 

Tujuh desa sangat tertinggal di Matim antara lain, Desa Golo Munga Barat, Desa Golo Wontong (Kecamatan Lambaleda), Deas Golo Ros, Desa Compang Teber dan Satar Lenda (Kecamatan Rana Mese) serta Desa Mosi Ngaran dan Nanga Puun  (Kecamatan Elar Selatan).

Dijelaskan Boni, desa dengan status tertinggal sebelumnya berjumlah 80 desa dan berkurang menjadi 55 desa tertinggal karena 25 desa mengalami kenaikan status menjadi desa berkembang. Selanjutnya, jumlah desa tertinggal pun bertambah menjadi 106 desa setelah 51 desa naik status dari sangat tertinggal ke desa tertinggal. Kata Boni, kenaikan status desa-desa ini terus terjadi dan saling mempengaruhi.

Desa dengan status berkembang yang sebelumnya berjumlah 19 desa kini berkurang menjadi 18 desa karena 1 desa mengalami peningkatan status menjadi desa maju.

Boni menjelaskan, desa berkembang jumlahnya bertambah menjadi 43 desa setelah terjadi penambahan 25 desa yang naik status dari desa tertinggal menjadi desa berkembang. 

Desa maju sebelumnya berjumlah 2 desa, kini menjadi 3 desa, karena 1 desa naik status dari desa berkembang menjadi desa maju. Tiga desa maju itu yakni Desa Golo Lobos, Desa Bangka Pau di Kecamatan Poco Ranaka dan Desa Nanga Labang di Kecamatan Borong.

Adapun rincian tiap-tiap kecamatan antara lain sebagai berikut.

Pertama, di Kecamatan Borong ada 15 desa. Sebelumnya tidak ada desa kategori maju. Pada tahun 2019, 1 desa mengalami peningkatan status menjadi desa maju yaitu Desa Nanga Labang. Sedangkan kategori desa berkembang dari 3 menjadi 6 desa. Desa tertinggal berkurang dari 10 menjadi 8, dan desa sangat tertinggal sudah tidak ada karena 2 desa yang sebelumnya masuk kategori sangat tertinggal yaitu Desa Golo Leda dan Desa Poco Rii meningkat statusnya menjadi desa tertinggal.

Kedua, Kecamatan Poco Ranaka. Dari 21 desa sejak tahun 2018 sudah ada 2 desa maju yaitu Desa Golo Lobos dan Desa Bangka Pau. Desa Berkembang bertambah dari 8 desa menjadi 13 desa. Desa tertinggal berkurang dari 11 menjadi 6 desa. Di Kecamatan ini sejak tahun 2018 sudah tidak ada desa sangat tertinggal.

Ketiga, di Kecamatan Lamba Leda ada 24 desa. Untuk kategori desa berkembang jumlahnya bertambah dari 1 desa menjadi 7 desa, desa tertinggal bertambah dari 11 desa menjadi 15 desa, dan desa sangat tertinggal berkurang dari 12 desa menjadi 2 desa sangat tertinggal yaitu Desa Golo Munga Barat dan Desa Golo Wontong.

Keempat, di Kecamatan Sambi Rampas ada 14 desa. Jumlah desa berkembang 3 desa. Desa tertinggal bertambah dari 6 menjadi 11 desa karena 5 desa sangat tertinggal pada tahun sebelumnya meningkat statusnya pada tahun ini. Di kecamatan ini, sudah tidak ada desa sangat tertinggal.

Kelima, di Kecamatan Elar ada 14 desa. Pada tahun sebelumnya tidak ada desa berkembang tetapi di tahun 2019, 2 desa meningkat statusnya menjadi desa berkembang. Desa tertinggal bertambah dari 8 menjadi 12 desa. 6 desa sangat tertinggal pada tahun 2018 seluruhnya meningkat menjadi desa tertinggal.

Keenam, di Kecamatan Kota Komba ada 19 desa. Desa berkembang bertambah dari 1 menjadi 2 desa. Desa tertinggal bertambah dari 11 menjadi 17 desa. Tidak ada lagi desa sangat tertinggal  karena 7 desa sangat tertinggal pada tahun sebelumnya meningkat statusnya menjadi desa tertinggal.

Ketujuh, di Kecamatan Rana Mese ada 21 desa. Ada 2 desa berkembang. Desa tertinggal bertambah dari 9 menjadi 16 desa. Desa sangat tertinggal berkurang menjadi 3 desa dari 10 desa pada tahun sebelumnya. Desa sangat tertinggal itu antara lain Desa Golo Ros, Desa Compang Teber dan Desa Satar Lenda.

Kedelapan, di Kecamatan Poco Ranaka Timur ada 18 desa. Jumlah desa berkembang bertambah dari 1 menjadi 5 desa. Desa tertinggal bertambah dari 11 menjadi 13 desa. Di Kecamatan ini sudah tidak ada lagi desa tertinggal.

Kesembilan, di Kecamatan Elar Selatan ada 13 Desa. Pada tahun 2019 ini, 3 desa mengalami kenaikan status menjadi desa berkembang. Desa tertinggal bertambah dari 3 desa menjadi 8 desa. Sedangkan, desa sangat tertinggal berkurang menjadi 2 dari 10 desa pada tahun sebelumnya. Desa-desa tertinggal itu antara lain Desa Mosi Ngaran dan Desa Nanga Puun.

Dikatakan Boni, lndeks Desa Membangun menggambarkan perkembangan kemandirian Desa.  lndeks Desa Membangun (IDM) merupakan komposisi yang dibentuk dari lndeks Ketahanan Sosial dengan beberapa indikator.

1. lndeks Ketahanan Ekonomi dan lndeks Ketahanan Ekologi Desa. lndeks Ketahanan Sosial terdiri dari Dimensi Modal Sosial (indikator solidaritas sosia|, memiliki toleransi, rasa aman penduduk, kesejahteraan Sosial); Dimensi Kesehatan (indikator pelayanan kesehatan, keberdayaan masyarakat, dan jaminan kesehatan); Dimensi Pendidikan (indikator akses ke pendidikan dasar dan menengah, akses ke pendidikan non formal dan akses ke pengetahuan); dan Dimensi Pemukiman (indikator akses ke air bersih, akses ke sanitasi, akses ke Iistrik, dan akses ke informasi dan komunikasi).

2. lndeks Ketahanan Ekonomi, terdiri dari Dimensi Ekonomi dengan indikator keragaman produksi masyarakat desa, tersedia pusat pelayanan perdagangan, akses distribusi/ logistik, akses ke lembaga keuangan dan perkreditan, lembaga ekonomi, dan keterbukaan wilayah.

3. Indeks Ketahanan Lingkungan/Ekologi, terdiri dari Dimensi Ekologi, dengan indikator kualitas lingkungan serta potensi rawan bencana dan tanggap bencana.

Indeks Desa Membangun mengklasifikasi desa dalam lima (5) status, yakni: (1) Desa Sangat Tertinggal; (2) Desa Tertinggal; (3) Desa Berkembang; (4) Desa Maju; dan (5) Desa Mandiri.

Mulia Donan

TERKINI

Di Tengah Covid-19, Kadis Peridag Flotim Minta Warga Manfaatkan Pasar Oka

Larantuka, Ekorantt.com - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Peridag) Kabupaten Flores Timur, Siprianus Sina Ritan meminta warga Larantuka, terutama warga yang menetap di bagian...

Menengok Kiprah Dosen IKTL Waibalun Kala Pandemi Covid-19

Larantuka, Ekorantt.com - Covid-19 yang tengah mengancam peradaban manusia hingga ke pelosok-pelosok desa menggerakkan civitas akademika IKTL Waibalun untuk terjun ke masyarakat. Mereka memberikan...

Hingga Bulan Mei, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

Jakarta, Ekorantt.com - Otoritas Jasa Keuangan memperhatikan dampak pandemi Covid-19 yang relatif mulai memberikan tekanan terhadap sektor jasa keuangan, meskipun dari berbagai indikator dan...

Launching BLT DD, Bupati Djafar: Jangan Pakai untuk ‘Wuru Mana’

Ende, Ekorantt.com – Bupati Ende, H. Djafar H Achmad melaunching pembayaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) tahun anggaran 2020 di Desa Nanganesa,...

BACA JUGA

AWK Desak Pemerintah Berikan Dana Stimulan untuk Koperasi

Maumere, Ekorantt.com - Senator asal Nusa Tenggara Timur, Angelo Wake Kako (AWK) mendesak pemerintah untuk memperhatikan nasib koperasi kredit di tengah pandemi Covid-19. Dalam suratnya...

2.630 Pelaku Perjalanan Melintas di Posko Weri Pateng Manggarai Sepekan Terakhir

Ruteng, Ekorantt.com - Sejak beroperasi 15 Mei 2020 lalu, posko pengawasan pelaku perjalanan di Weri Pateng, Desa Persiapan Redo, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai telah...

Julie Laiskodat Bagi Sembako di Flotim, Katarina: Terima Kasih

Larantuka, Ekorantt.com - Sebagai bentuk kepedulian di tengah Covid-19, anggota Anggota DPR RI dari Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat memberikan sumbangan paket Sembako kepada...

Berdamai dengan Corona, Bupati Robi: Tetap Jaga Diri

Maumere, Ekorantt.com - Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan bupati/walikota se-NTT menyepakati kehidupan normal baru (new normal) di NTT dalam rapat virtual, Selasa (26/5/2020). (Baca juga:...

Dana Covid-19 di NTT, Leo Lelo: Rp810 Miliar Lebih Itu Bersumber Dari Mana Saja

Kupang, Ekorantt.com - Pemerintah Provinsi NTT telah merampungkan recofusing, realokasi, dan rasionalisasi anggaran penanganan Covid-19 di wilayah NTT. Dana Rp810 milliar yang bersumber dari...

Demokrat Manggarai Bagi Sembako dan APD di Dua Kecamatan

Ruteng, Ekorantt.com - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat  Kabupaten Manggarai kembali membagikan 110 paket Sembako dan 150 masker untuk masyarakat di Kabupaten Manggarai,...

Heboh Aksi Penutupan Jalan Negara Berujung Maut, Ini Penjelasan Kades Hikong

Maumere, Ekorantt.com – Aksi penutupan jalan negara Maumere-Larantuka, tepatnya di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka bikin heboh. Ekora NTT berkesempatan mewawancarai Kepala Desa (Kades)...

Stefanus Sino, 30 Tahun Bersandar Hidup dari Gundukan Sampah

Maumere, Ekorantt.com - Namanya Stefanus Sino. Lelaki berusia enam puluh tahun  ini sudah menjadi pemulung selama 30 tahun. Menurutnya menjadi pemulung bukanlah impian masa...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here