Urbanus Xaverius Landa

Oleh

Urbanus Xaverius Landa*

Bapak saya adalah seorang tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di Pelabuhan L. Say Maumere dan mama adalah seorang pedagang kaki lima di pelabuhan yang sama yang setiap saat dapat digusur. Pekerjaan orangtua telah memasukan kami sebagai salah satu keluarga miskin di Kota Maumere. Setelah lulus SMA di tahun 2000, kami tidak memiliki cukup uang untuk biaya kuliah. Karena itu, kami tidak berpikir atau bahkan berangan-angan untuk kuliah seperti orang-orang Maumere pada umumnya, khususnya yang datang dari keluarga mampu. Oleh karena itu, bapak hanya berpesan ke saya untuk pergi merantau mengikuti saudara sepupu dengan harapan dapat diberi jalan untuk hidup yang lebih baik.

Pada tahun 2004, saya akhirnya memutuskan untuk kuliah di Unika Widya Mandala Surabaya dengan modal nekat saja. Saya bilang nekat karena memang kami tidak memiliki cukup uang. Di tahun itu, uang SPP sebesar Rp8,5 juta dibayar saat pendaftaran ulang. Biaya kuliah per/semester sebesar Rp4,5 Juta. Jadi, satu tahun biaya kuliah Rp9 Juta di luar biaya hidup, uang kos, belanja buku, fotokopi, dan juga biaya lainnya. Saya membayar itu dengan uang hasil tabungan selama kerja di perantauan.

Terus terang, uang yang ada hanya cukup untuk bertahan dua semester. Orang tua mulai menyerah karena masalah biaya. Anda bisa bayangkan, biaya kuliah di atas memang mustahil bagi orangtua saya mengingat pekerjaan hari-hari adalah buruh pelabuhan yang penghasilannya selalu tidak pasti saat itu.

Kalau Anda katakan “su tau orang tua miskin ju paksa diri”, sekali lagi saya katakan, keputusan kuliah adalah tindakan nekat saya. Saya hanya ingin bisa hidup lebih baik dari kehidupan keluarga selama ini. Kuliah adalah satu-satunya jalan ke arah perubahan itu. Itulah alasan mengapa saya paksa diri.

Untuk bertahan di semester tiga, saya mengandalkan surat permohonan tunda bayar uang kuliah. Dengan surat ini, saya akhirnya bisa bertahan sampai semester empat. Namun, pada saat yang sama, saya pun mulai mengajukan surat pengunduran diri sebagai mahasiswa setempat karena saya telah sadar bahwa kami tidak dapat bertahan lagi alias doi penga ledha (telah benar-benar kehabisan uang). Namun, para dosen saat itu berusaha membesarkan hati saya bahwa mereka akan mencarikan jalan keluarnya. Bagi mereka, orang seperti saya tidak boleh putus kuliah karena saya dipandang mampu hidup bersama ilmu yang saya pelajari.

Mukjizat terjadi. Pada semester lima, saya mendapat beasiswa Keuskupan Maumere atas perjuangan antik Romo Jhon Eo Towa. Saat saya bertemu yang terkasih Uskup Sensi Potokota di Sa’o Uskup Ndona-Ende, Beliau katakan demikian “Banus, Roh Kudus punya cara kreatif untuk menolong engkau.”

Dengan beasiswa ini, saya akhirnya menyelesaikan pendidikan sarjana psikologi di Unika Widya Mandala Surabaya dengan gratis. Bagi kami, dengan pengalaman di atas, beasiswa adalah juga tindakan Allah yang menolong. Tanpa beasiswa, tentu saya tidak dapat memberitakan ini untuk Anda.

Prioritas

Setelah mendengar kabar mengenai rencana beasiswa Pemda Sikka baru-baru ini, saya langsung mendukung karena baik adanya. Selama kuliah di Widya Mandala, beasiswa serupa juga sudah diberikan Pemda TTU untuk anak-anak TTU. Di tahun 2006, karena program Pemda TTU ini, saya akhirnya menghubungi Wakil Bupati Ansar saat itu untuk melakukan penjajakan serupa: semoga Pemda Sikka dapat memberikan beasiswa Pemda bagi anak-anak Maumere di Unika Widya Mandala Surabaya atau di Unipa. Pikiran saya, semakin banyak orang mendapat beasiswa Pemda, semakin mukzizat itu nyata, alias banyak orang yang tertolong.

Gambaran ini mau menunjukan bahwa beasiswa pertama-tama ditujukan kepada orang-orang dengan ekonomi lemah. Prinsip bantuan adalah diberikan kepada yang membutuhkan atau orang lemah. Jika tidak dibantu, maka mereka sudah pasti tidak mampu bergerak maju. Di sinilah dibutuhkan rasa kepedulian khususnya di pihak pemerintah sebagai pelaksana tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Orang-orang kaya tidak membutuhkan beasiswa karena mereka memiliki kemampuan sendiri bahkan mereka memiliki kemampuan ekstra yang bisa digunakan untuk menolong orang lain untuk bisa kuliah. Prinsip ini yang kita sebut sebagai solidaritas.

Selain karena alasan ekonomi yang lemah, pemberian beasiswa juga harus mempertimbangkan dua alasan ini.

Pertama, mahasiswa yang akan diberikan beasiswa adalah orang dengan niat kuliah tinggi. Dia harus punya niat yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Niat kuliah akan membuat kita percaya bahwa ia akan menyelesaikan kuliah sehingga beasiswa tidak sia-sia.

Niat ini juga akan membawa dia kepada syarat kedua bahwa dia mampu membuat pemberi beasiswa percaya bahwa orang ini kelak mampu hidup bersama disiplin ilmu yang dipelajarinya. Harapannya, di masyarakat nantinya ia sebagai sarjana mampu menularkan ilmu pengetahuan dalam hidup sehari-hari. Ia dapat memperbaiki keadaan dari pendekatan disiplin keilmuannya sehingga kita tidak akan mendengar orang berkata sisnis “sama we’e” alias sama saja atau tidak punya ciri hidup sebagai seorang yang berpendidikan tinggi.

Saya kira, dua syarat di atas adalah hal yang patut dipertimbangkan oleh Pemda manakala akan memberikan beasiswa sehingga beasiswa itu benar-benar tepat sasaran. 

Sebuah Model

Saat ini ketika kita menggagas beasiswa, kita harus mengakui bahwa zaman telah berubah. Kita berada pada situasi yang sangat baik bila dibandingkan dengan 10 atau 15 tahun lalu. Perubahan ini salah satunya ditandai dengan hadirnya dana desa. Dana desa dapat dilihat sebagai alat bantu di bidang pendidikan. Maksud saya adalah Pemda semestinya dapat duduk bersama dengan semua aparatur Pemdes di Kabupaten Sikka ini untuk menghasilkan satu gerakan bersama mendanai pendidikan tinggi yang baik di kabupaten ini.

Setiap Pemdes diharapkan memberikan beasiswa bagi anak-anak dari desa itu dengan jumlah tertentu. Fokus pemberian beasiswa berada di tingkat desa/kelurahan. Beasiswa ini tidak membebani keuangan kabupaten karena dia diambil dari sumber pemasukan desa juga dengan memanfaatkan semua kemungkinan pendapatan desa.

Akan tetapi, mengapa dalam hal ini Pemdes harus dilibatkan?

Prinsip yang digunakan dalam program ini adalah gotong-royong. Semakin banyak Pemdes yang terlibat dalam program ini maka besarnya biaya yang harus ditanggung oleh Pemda terasa ringan dan pemberian beasiswa bisa lebih tepat sasaran karena orang-orang di desa/kelurahan lebih saling mengenal satu sama lain sehingga mereka tahu siapa yang tepat mendapatkan beasiswa ini setelah ditetapkan syarat-syaratnya.

Andaikata satu Pemdes berkomitmen memberikan beasiswa kepada 10 anak per tahunnya maka lebih dari 1000 anak yang tertolong di kabupaten ini setiap tahun.  Kita harus bahagia karena program ini. Tentu sangat diharapkan, mahasiswa yang bersangkutan dapat melakukan penelitian skripsi di desanya sehingga hasil penelitian dapat dijadikan landasan ilmiah bagi kemajuan desa entah itu di bidang pertanian, ekonomi, psikologi, kebudayaan dan adat istiadat. Mengapa mahasiswa harus melakukan penelitian di desa, itu karena ia dibiayai oleh desa bukan perusahan-perusahaan swasta. Semakin banyak penelitian ilmiah semakin besar kemungkinan keputusan pembangunan desa didasarkan pada analisis rasional, bukan suka-suka.

Kedua yang juga penting, desa pada umumnya merupakan asal para leluhur kita. Di desa pelaksanaan tradisi terus diwariskan turun-temurun. Akan tetapi, tradisi yang diwariskan kepada kita harus diakui belum menampung makna pendidikan modern. Pendidikan dimulai dari PAUD hingga pendidikan tinggi tidak masuk sebagai unsur adat-istiadat kita padahal adat adalah salah satu penggerak hidup komunitasnya. Sejauh ini pendidikan dianggap sebagai urusan keluarga masing-masing bukan urusan dan tanggung jawab komunitas adat. Barangkali adat-istiadat kita tidak mengenal konsep pendidikan modern.

Kita pada umumnya baru mengenal pendidikan modern setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Bahkan di tahun 1990-an, pendidikan tinggi masih terbilang mewah. Di Maumere, pendidikan tinggi baru dirasakan rakyat setelah kehadiran Unipa di tahun 2005. Kini dari desa ke desa orang berbondong-bondong datang kuliah di Unipa karena adanya kemudahan berupa jarak yang dekat. Ini yang saya maksudkan pendidikan tinggi telah merakyat. Siapa saja dari pelosok desa apa saja di kabupaten ini asalkan niat ia bisa kuliah.

Keterlibatan Pemdes beserta masyarakat desa merupakan satu cara mencairkan pendidikan modern perlahan-lahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari adat-istiadat kita orang Maumere, sehingga suatu waktu di masa mendatang pada saat membicarakan adat, entah itu adat perkawinan, pendidikan anak sudah menjadi bagian di dalamnya. Dampaknya akan sangat mendasar bahwa pendidikan modern tidak saja merupakan tanggung jawab Negara, melainkan juga sudah menjadi tanggung jawab komunitas adat orang-orang Maumere baik sebagai ata Muhan, ata Palu’e, ata Krowe dan ata Lio.

Unipa Maumere 

Lalu bagaimana dengan peran Pemda?

Di atas, saya sudah jelaskan bahwa beasiswa ditanggung oleh Pemdes sehingga Pemda dapat fokus pada hal lain yang lebih strategis.

Apa itu hal lain yang saya maksudkan di sini?

Di pulau Flores ini, kehadiran Universitas Nusa Nipa Maumere tidak bisa dilepaskan dari Pemda Sikka karena Pemda Sikka-lah yang menciptakan Unipa. Oleh karena itu, prioritas utama pemberian program beasiswa dan sejenisnya pertama-tama harus menempatkan Unipa di tempat pertama.

Prioritas terhadap Unipa adalah sebuah cara membangun pendidikan tinggi yang berkelanjutan di bumi Maumere ini. Dengan kata lain, saya ingin katakan bahwa beasiswa adalah salah satu cara Pemda memberikan dukungan berkelanjutan setelah Unipa dibangun tahun 2005 lalu.

Dukungan Pemda dapat dijalankan dengan dua cara.

Pertama, berupa subsidi uang kuliah bagi semua mahasiswa tanpa kecuali. Uang kuliah ditanggung sebagian oleh Pemda sehingga biaya kuliah menjadi lebih murah. Misalkan biaya kuliah satu semester adalah Rp4 juta setelah disubsidi biaya kuliah menjadi Rp1,5 juta saja per/semesternya. Pemda menanggung Rp2,5 juta per/mahasiswa. Murahnya biaya kuliah akan menarik minat anak-anak muda di Flores bahkan di Indonesia untuk datang kuliah di Unipa. Kehadiran mereka akan membuat banyak orang berkunjung ke kota Maumere.

Inilah yang persis terjadi di kota-kota besar seperti kota Malang dan Yogyakarta. Kehadiran orang dalam jumlah banyak dengan durasi empat sampai lima tahun selama masa kuliah akan mendorong kemajuan ekonomi masyarakat setempat dimulai dari bisnis kos-kosan, percetakan, kios sembako, kebutuhan akan makanan, pakaian hingga bisnis agen travel dan lainnya.

Saya pikir keputusan untuk memberikan subsidi uang kuliah jauh lebih bernilai strategis jika dibandingkan dengan keputusan melakukan berbagai macam proyek pembangunan fisik yang sering kali mubazir dan kurang bernilai untuk jangka panjang. Inilah adalah investasi jangka panjang di bidang pendidikan dengan pengaruhnya yang sangat positif terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat di Sikka, salah satunya ekonomi kita akan tumbuh sehingga kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.

Kedua, dukungan Pemda berupa dana hibah penelitian. Setiap organisasi yang inovatif selalu didukung oleh ramainya penelitian. Kita lihat perusahaan-perusahaan telekomunikasi dan militer maju pesat berkat penelitian yang terus-menerus. Keunggulan di bidang penelitian membutuhkan dukungan dana terus-menerus. Demikian pun halnya dengan Unipa, dukungan dana hibah penelitian akan mendorong Unipa melakukan penelitian ke berbagai bidang kehidupan masyarakat kabupaten Sikka bahkan Flores. Penelitian-penelitian ini akan menjadi pijakan perubahan dan kemajuan masyarakat Flores di masa depan. Maumere kemudian menempatkan dirinya menjadi kota pusat penelitian yang khas di daratan Flores ini.

Sumber Dana

Tentu pemerintah dapat menggunakan dana yang bersumber dari APBN. Namun, saya menawarkan sumber pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD menuntut kreativitas Pemda dengan menggunakan kekuatan daerah.

Saya menawarkan empat jalan keluar.

Pertama, meningkatkan produksi yang lebih besar dari pabrik coklat Cho-Sik untuk diekspor keluar negeri.

Kedua, mendorong bisnis PDAM untuk segera memiliki pabrik AMDK sendiri sehingga PDAM selain menjual air minum lewat pipa meteran juga menjual dalam bentuk air gelas dan botol ke masyarakat.

Ketiga, mendorong dibentuknya pabrik pengalengan daging babi sehingga bisa di ekspor ke luar negeri. Pabrik pengalengan daging babi dapat dilakukan karena banyaknya ketersediaan ternak babi di Maumere dan Flores.

Keempat, dibentuknya industri minuman Moke dengan kualitas baik untuk di pasarkan se-daratan Flores. Keuntungan dari empat pabrik di atas dapat digunakan sebagai sumber pendanaan.

Selain itu, Pemda juga dapat menggalang dana dari orang-orang kaya di Maumere setiap tahunnya sebagai bentuk solidaritas terhadap kemajuan masyarakat Sikka dan juga kita dapat membentuk peraturan daerah berupa retribusi pesta seperti retribusi pesta pernikahan dan pesta sambut baru. Dana retribusi pesta dapat dikumpulkan melalui aparat desa dan kelurahan. 

*   Penerima Beasiswa Keuskupan Maumere di Unika Widya Mandala Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here