Arman Dhani

Oleh

Arman Dhani*

Apakah demonstrasi dan aksi massa bisa langsung mengubah keadaan? Jawabannya barangkali tidak. Tapi sebagai sebuah aksi, ia menunjukkan di mana sikap kita. Maka, tulisan ini saya coba susun sebagai basis argumentasi dan landasan moral protes langsung oleh publik, terutama berkaitan dengan sejumlah peristiwa demonstrasi belakangan terkait kebijakan kekuasaan yang tidak pro rakyat.

Beberapa kalimat tanya yang diberi arsiran miring merupakan himpunan dari pertanyaan-pertanyaan terkait semangat aksi massa ini yang akan coba saya jawabi.

Memang demo dan aksi langsung punya dampak apa ? Apa urgensi atau kiblatnya? Tapi, kalau kalian menikmati THR, cuti hamil, 5 hari kerja, 8 jam kerja, perempuan boleh memilih asuransi kesehatan, penghapusan perbudakan, itu sebenarnya tanpa disadari merupakan hasil dari aksi langsung dan demonstrasi sipil itu sendiri. Lalu, apakah semua aksi masa dan demonstrasi punya hasil positif? Tentu saja tidak. Aksi Kamisan berlangsung lebih dari 602 kali, selama 12 tahun dan pemerintah tak peduli. Tapi bukan berarti tak berhasil. Anda tahu, ibu-ibu Plaza de Mayo berjuang 29 tahun untuk mendapatkan keadilan. Itu artinya semangat melawan ketidakadilan tak segampang dikebiri oleh retorika kacangan dari penguasa.

Kalau memang baik, mengapa aksi massa/demo mengganggu kepentingan publik? Ada banyak jenis demonstrasi, protes, pembangkangan sipil, mogok, hingga blokade. Masing-masing punya fungsi dan caranya sendiri. Tapi, tujuannya sama; mengganggu rasa nyaman. Mengapa demo/aksi massa harus mengganggu rasa nyaman? Karena jika keadaan baik-baik saja, aksi massa tak akan terjadi. Karena keadaan tidak nyaman, kondisi mengganggu, maka pemangku kebijakan atau pemerintah harus bertindak. Merespons aksi, ini tujuannya

Demonstrasi itu hak, tapi ‘kan keamanan dan kenyamanan publik juga hak, kenapa itu mengganggu? Betul. Pemogokan mengganggu kepentingan dan hak publik. Mereka berjuang untuk sesuatu yang lebih besar. Kenyamanan itu ukurannya lebih kecil daripada hak sipil, ketenangan juga levelnya lebih kecil ketimbang hak hidup. Di sebuah negara, kita bicara tentang kepentingan orang banyak. Jika banyak yang resah, kita sebagai civil society juga semestinya gelisah.

Pertanyaan lain yang mungkin diajukan ialah apa hak kalian berdemo? Greta Thunberg pernah bilang bahwa “We who live in places where you are allowed to strike and protest have a moral obligation to do it. If not for yourself, then for those who cannot.” Maknanya, kita punya tanggung jawab moral untuk itu sebagai sesama manusia.

Mengapa protes? Kenapa tidak melakukan gugatan? Sekali lagi, ada banyak bentuk protes dan gugatan hukum adalah salah satunya. Tapi, jika publik, masyarakat dan kita tidak bereaksi terhadap satu produk kebijakan, pemerintah akan bilang “Lha setuju”.

Lalu, kalian akan bertanya lagi; Kenapa tidak bekerja lebih baik, gabung ke pemerintah, lalu mengubah keadaan dari dalam? Sekali lagi, ada banyak bentuk protes, jika kalian ASN dan bisa membantu mengubah dari dalam, ayo lakukan, kami dukung, jika masih belum bisa, aksi langsung.

Kalian mungkin juga akan katakan, tugas mahasiswa itu kuliah, bukan demo. Namun ingat; tugas buruh juga bekerja, tapi saat protes, mereka bisa berikan kita hak untuk cuti, THR, asuransi kerja, upah layak, saat satu kebijakan dibuat, yang kena semua, bukan satu kelompok masyarakat.

Dan terkait soal RUU KUHP, Anda mungkin tak terlalu peduli dan bilang “Ah saya tidak akan kena KUHP atau apalah itu.” Sesungguhnya belum saatnnya saja. Setiap masyarakat akan terdampak kebijakan yang dibikin pemerintah. Sebelum terjadi pada Anda, sebelum terjadi pada orang yang Anda sayang, regulasi yang berpotensi korup mesti dilawan.

Kamu mungkin juga ingin bertanya; Kalau saya ingin bantu tapi tak ingin ikut aksi boleh? Tentu saja sangat boleh. Jika Anda pemilih, surati dan beri tahu wakil Anda di DPR. Jika Anda akademisi bantu riset kebijakan. Jika Anda ulama, bantu dengan doa. Jika Anda warga biasa, dukung mereka. Jika Anda jurnalis, tulislah kenyataan sosial yang ada.

Sekarang ramai, paling besok lupa. Buat apa? Benar, ingatan kita pendek, tapi bukan berarti semua tak peduli. Ada simpul gerakan yang mengawal isu sejak lama. Masuk dalam simpul itu, pelajari isunya, kawal bersama, rawat ingatan, dan sebarkan.

Kenapa harus paham isu? Memangnya protes mesti paham? Paham tentu saja lebih baik. Sebagai misal, kita menolak bahaya ancaman global krisis iklim meski tidak paham teknisnya secara saintifik, kita paham dampaknya pada manusia, kita melawan penyebab-penyebab ancaman global ini meski tidak paham teknisnya.

Mahasiswa yang protes itu memangnya sudah baca semua rancangan undang-undang yang diprotes? Palingan sekadar ikut-ikutan? Betul, Bung dan Nona. Mereka sama seperti sedang meneladani seorang presiden yang bisa tanda tangan kebijakan, tanpa membaca isinya. Poinnya adalah solidaritas sikap, ada lembaga yang sejak lama fokus dan mengawal isu, mereka memberi tahu ancaman dan dasarnya, solidaritas bisa dibangun dari jejaring simpul.

Saya bukan mahasiswa, apakah boleh ikut aksi? Sangat boleh. Anda tidak harus mendukung semua agenda aksi atau paham semua protes. Anda hanya harus cari tahu mana agenda yang penting bagi Anda, memahami alasan mengapa menolak, dan bersolidaritas bersama teman-teman yang lain.

Apakah saya harus mendukung semua aksi? Tidak harus. Ada beberapa tuntutan, Penolakan R-KUHP, UU Pertanahan, Kekerasan di Papua, Mendesak Pengesahan RUU PKS, dan lainnya. Pilih isu yang menurut Anda penting, yang Anda pahami, dan berjejaringlah untuk menguatkan simpul gerakan.

*Mantan Jurnalis Tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here