Jetho Lawet

Oleh: Jetho Lawet*

Hujan yang mengguyur di penghujung tahun 2019 hingga awal tahun 2020 tidak hanya menyebabkan musibah banjir di beberapa wilayah Indonesia tetapi juga banjir musibah di jagat media sosial seperti facebook, youtube, twitter, instagram.

Musibah tersebut berupa umpatan, hujatan, bahkan makian yang dilontarkan oleh netizen baik dalam bentuk teks maupun emoticon. Jika ditelisik lebih jauh, komentar-komentar netizen yang jauh panggang dari etika, moral, dan nilai-nilai agama merupakan ekspresi emosi netizen terhadap tokoh pemerintahan tertentu.

Salah satu tokoh yang paling banyak memanennya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Netizen beramai-ramai memvonis sang gubernur sebagai ‘gabener’ yang paling bertanggungjawab atas masalah banjir yang diderita warga DKI Jakarta.

Tidak hanya itu, netizen juga saling serang terkait masalah banjir tersebut. Salah satu netizen di media sosial youtube bahkan menghujat dengan berkata, “Yang salah itu bukan sang gubernur, tetapi yang memilihnya yang goblok”.

Terlepas dari benar tidaknya vonis tersebut, penulis ingin menyoroti perilaku kebahasaan netizen di media sosial yang sudah keterlaluan karena tidak dibarengi dengan kesantunan berbahasa. Alih-alih mengkritik kinerja sang gubernur, netizen kebablasan dalam ketidaksantunan berbahasa yang memberikan gambaran kepada publik betapa rendahnya kesantunan berbahasa masyarakat Indonesia dalam bermedia sosial.

Jati Diri

Pengguna media sosial di Indonesia tidak sedikit. Berdasarkan hasil riset  Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya.

Sementara pengguna gadget mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Peningkatan jumlah pengguna media sosial di Indonesia tidak diimbangi dengan kesadaran akan kesantunan berbahasa dalam memberikan kritikan atau komentar.

Jumlah pengguna yang membengkak berbanding terbalik dengan kesantunan bertutur kata di media sosial.

Santun berbahasa menjadi sebuah perilaku langkah dalam atmosfer bermedia sosial netizen Indonesia. Tentu kita masih ingat akan kasus umpatan idiot yang mendera Ahmad Dhany di media sosial sehingga pentolan grup band Dewa 19 tersebut harus mendekam di penjara selama setahun (Tempo.com, 11/6/2019).

Tentu masih banyak lagi kasus serupa yang lolos dari perhatian aparat penegak hukum. Penyebabnya adalah status yang disandang setiap orang. Jika yang mengumpat, menghujat, atau memaki adalah salah satu publik figur maka sudah tentu hal tersebut menjadi viral.

Sejatinya, masih teralu banyak orang yang berkomentar lebih tidak santun dari yang dilakukan Ahmad Dhany. Dan itu luput dari perhatian media dan aparat penegak hukum.

Kesantunan berbahasa memberikan gambaran sifat dan kepribdian pemakainya. Tidak heran kalau ada peribahasa yang mengatakan bahasa menunjukkan bangsa. Penutur yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang santun mencerminkan sifat dan kepribadiannya yang baik.

Demikian pun sebaliknya. Komunikasi yang dibangun dengan bahasa yang tidak santun mendeskripsikan kepribadian penutur yang amburadul.

Relasi kausalitas antara bahasa dan perilaku penutur ini telah dibahas oleh Saphir dan Whorf yang mengemukakan bahwa bahasa bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menggambarkan pola pikir dan pola laku pemakainya.

Bertolak dari teori tersebut, muncul pertanyaan, apakah pola pikir dan pola laku bangsa Indonesia adalah penghujat, pengumpat, bahkan pemaki?

Di mata dunia, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang adil dan beradab. Bangsa besar yang memegang teguh adat ketimuran yang sarat dengan nilai moral, etika dan agama. Sayangnya, ketidaksantunan berbahasa di media sosial yang marak terjadi mencoreng dan menegasikan predikat adil dan beradab sebagai cermin jati diri Indonesia.

Perekat Relasi Sosial

Manusia sejatinya tidak hanya sebagai makluk yang berakal budi, makluk ekonomi, makluk politik tetapi juga sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa membangun dan menjalin relasi dengan sesamanya. Usaha ini dilakukan dengan menggunakan bahasa sebagai mediator. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Sudaryanto (2009) bahwa bahasa memiliki fungsi interpersonal dimana digunakan untuk membangun dan menjalin relasi sosial.

Manusia tidak hidup sendiri di sebuah pulau yang menutup kemungkinan baginya untuk berinteraksi dengan sesamanya. No man is an island, demikian petuah berbahasa Inggris menasehati.

Segala bentuk umpatan, hujatan bahkan makian yang diluapkan oleh netizen niscaya akan melahirkan keretakan sosial yang berujung pada hilangnya semangat persatuan dan kesatuan. Bahasa tidak lagi menjadi alat yang merekatkan setiap warga dalam relasi sosial seperti yang digagas oleh Sudaryanto (1990).

Bahasa malah dianasir menjadi senjata yang paling ampuh menghujat, mengumpat, bahkan memaki sesama yang bermuara pada perpecahan.

Hal ini sudah didengungkan oleh Lakoff (dalam Purwo, 1994) bahwa kesantunan dikembangkan oleh masyarakat guna mengurangi friksi (perbedaan pendapat/perpecahan).

Realitas sosial inilah yang sedang dan bakal terus kita hadapi jika tak ada kesadaran dan langkah tegas dari berbagai pihak. Tentu kita tak ingin agar ketidaksantunan ini diwariskan kepada anak cucu.

Ketidaksantunan berbahasa tidak boleh dipandang sebagai persoalan remeh temeh sebab jika perilaku tersebut dibiarkan bukan tidak mungkin perpecahan bakal terjadi. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa hidup terpisah-pisah seperti sate. Jangan heran kalau orang sering memelestkan sila ketiga pancasila menjadi ‘persatean Indonesia’.

Hal ini sudah digadang-gadang oleh Leech (1993) bahwa dalam bertutur hendaknya memperhatikan kesantunan karena kesantunan tidak bisa diaanggap remeh. Bertolak dari kenyataan ini tersebut maka penulis mengemukakan beberapa hal agar diperhatikan secara seksama.

Pertama, membangun kesadaran berbahasa santun masyarakat Indonesia melalui pendidikan baik formal maupun informal.

Peserta didik di berbagai level pendidikan perlu mendapatkan pembelajaran terkait kesantunan berbahasa tidak hanya di media sosial tetapi juga dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Penulis teringat akan masa-masa menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah yang diajarkan adalah Kesantunan Berbahasa. Mungkin banyak yang menganggap matakuliah tersebut tidak terlalu berdampak dalam dunia kerja, tetapi secara tak langsung pembelajaran itu sangat berguna dalam berkomunikasi terkait pemilihan kata yang tidak melukai orang lain.

Pada level informal, perlu adanya sosialisasi dari pemerintah terhadap warga dalam berselancar di media sosial sehingga menumbuhkembangkan kesadaran untuk santun berbahasa.

Kedua, pemerintah melalui Kominfo perlu menyaring memblokir akun-akun yang memuat komentar-komentar bernada menghujat, mengumpat, bahkan memaki sesama di media sosial.

Ketiga, perlunya sanksi yang tegas dari aparat penegak hukum kepada para penghujat, pengumpat dan pemaki di media sosial sehingga menimbulkan efek jera.

Hemat penulis, fenomena ketidaksantunan berbahasa ini bukan merupakan sebuah bencana alam, sesuatu yang dbiarkan terjadi karena berada di luar kapasitas manusia, melainkan sebuah ironi yang mesti diperangi. Kalau bukan sekarang kapan lagi?

* Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here