Senin, 25 Mei 2020

Menyantap Nutrisi Jemawut di Tengah Pandemi

- Advertisement -

Larantuka, Ekorantt.com – Kehidupan bertani sangat lekat dalam kehidupan komunitas masyarakat adat di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, NTT. Sebagai petani, mereka menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan, seperti padi, jagung, umbi-umbian, sayuran, dan berbagai jenis buah-buahan lainnya.

Satu jenis panganan lokal yang dibudidayakan oleh komunitas masyarakat adat Bantala yakni jemawut (Setaria Italica). Jemawut adalah salah satu jenis pangan lokal yang dikonsumsi semasa paceklik, kala kekeringan atau krisis pangan berkepanjangan melanda.

Wete, demikian nama lokal jemawut di Desa Bantala. Jemawut diolah dengan cara yang sangat sederhana, yakni dimasak dengan air seperti menanak nasi. Usai dimasak, jemawut diguyur dengan santan kelapa.

Amat sederhana olahannya, namun rasanya sangat manis dan lembut di lidah.

“Dulu kami sering berlomba makan jemawut. Jika ada yang makan jemawut ukuran 2 kaleng susu hingga selesai maka jadi pemenang. Tapi tidak ada yang sanggup makan jemawut ukuran 2 kaleng susu sampai habis. Setengah gelas susu saja, kita sudah sangat kenyang. Satu kaleng susu, jemawut dapat dimakan oleh seluruh anggota keluarga dan kita dapat bertahan dari rasa lapar sepanjang hari,” ungkap Yohanes Kerobi Hurint, Ketua Komunitas tetua adat atau ‘Ata Kelake’ desa Bantala.

Kementerian Pertanian Indonesia merilis, jemawut adalah salah satu pangan lokal yang memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibanding beras dan jagung.

Kandungan gizi yang dimiliki meliputi karbohidrat 84,2 %, protein 10,7 %, lemak 3,3 %, dan serat  1,4 %. Kandungan karbohidrat yang tinggi ini tentu saja membuat jemawut menjadi pangan andalan dalam menghadapi masa paceklik. Kandungan nutrisinya juga mampu meningkatkan stamina di tengah meluasnya pandemi Covid-19.

Cara menanam jemawut pun sangat mudah. Cukup dihamburkan di atas permukaan tanah. Dalam kultur budaya agraris Desa Bantala, jemawut ditanam di batas-batas kebun dan tidak bisa di tengah kebun.

Hal ini dilakukan karena proses pertumbuhan jemawut lebih cepat dan dapat menghambat proses bertumbuhnya padi dan jagung.

Banyak sedikitnya produksi jemawut tergantung luas lahan kebun adat yang digarap. Kalau lahan luas, pasti hasilnya juga banyak. Tapi kalau lahan yang digarap sedikit otomatis hasilnya sedikit.

Bagi masyarakat setempat, jemawut diyakini sebagai tanaman pelindung. Ia melindungi padi dan jagung dari serangan hama seperti babi dan monyet.

Selain dikenal sebagai cadangan pangan lokal saat musim paceklik, jemawut juga diyakini sebagai makanan yang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam jenis seperti: demam, pembekuan darah, dan patah tulang.

Khusus untuk demam dan memperlancar peredaran darah, jemawut biasanya dimasak menjadi bubur untuk dimakan.

“Kalau patah tulang, biji jemawut diulek hingga halus dicampurkan ke air dan dioleskan ke bagian patah tulang. Ataupun membekunya darah di dalam tubuh akibat hantaman benda keras akibat kecelakaan, dimasak saja menjadi bubur untuk dikonsumsi sebagai obat dalam,” tutur Kerobi Hurint.

Tanaman Spiritual

Jemawut diperlakukan seistimewa padi dan jagung. Saat panen, jemawut adalah jenis pangan yang lebih dulu dipanen dan dibawa pulang ke hoku (pondok padi di dekat rumah). Masyarakat setempat pantang menjual jemawut dari kebun adat.

Masyarakat Bentala biasa menggunakan Jemawut sebagai sarana utama dalam ritual adat, misalnya; saat upacara Utalaka Sedan Puke (upacara adat panen padi) dan ritual adat pernikahan.

Dalam ritus Utalaka Sedan Puke, jemawut diletakkan dalam sebuah tempurung kelapa bersama seekor ikan, kemudian diletakkan di bawah batang padi dan jagung. Setelahnya, diinjak oleh tuan tanah setempat. Proses ini menandai mulainya proses panen di kebun adat.

Suku-suku tertentu di Desa Bantala memakai jemawut atau wete dalam pernikahan adat. Seorang wanita resmi menjadi istri seseorang anak suku apabila sudah makan wete yang disuap oleh sang suami dalam ritus ‘Taku Wete’. Jika belum, wanita itu belum dianggap sah sebagai istri.

Selain punya nutrisi yang banyak, Kerobi Hurint menuturkan, wete selalu hadir dalam sejarah masyarakat adat Sesa Bantala.

TERKINI

Tindakan Penutupan Jalan di Hikong Melawan Hukum

Maumere, Ekorantt.com - Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya, Marianus Gaharpung mengatakan, tindakan sepihak penutupan jalan umum yang dilakukan oleh Kepala Desa Hikong merupakan tindakan...

Heboh Aksi Penutupan Jalan Negara Berujung Maut, Ini Penjelasan Kades Hikong

Maumere, Ekorantt.com – Aksi penutupan jalan negara Maumere-Larantuka, tepatnya di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka bikin heboh. Ekora NTT berkesempatan mewawancarai Kepala Desa (Kades)...

Hidup Berpindah-pindah, Lukas Lodan Sekeluarga Menumpang Gubuk Reyot di Urunpigang

Maumere, Ekorantt.com - Nahas memang nasib yang dialami oleh Lukas Lodan dan Marta Pewa. Pasangan suami istri dengan empat anak ini harus tinggal berpindah-pindah...

Akses Pasar Terbatas, Desa Detusoko Barat Kembangkan Inovasi ‘Dapur Kita’

Ende, Ekorantt.com - Ferdinandus Nando Watu, penggagas konsep ekowisata di Kabupaten Ende yang kini menjabat sebagai kepala desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende...

BACA JUGA

Mantan Kades Lela Harus Diproses Hukum

Maumere, Ekorantt.com – Tidak berhenti pada pencopotan, Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), Marianus Gaharpung mendesak agar mantan Kepala Desa Lela, Frederich Frans Baba...

AWK Desak Pemerintah Berikan Dana Stimulan untuk Koperasi

Maumere, Ekorantt.com - Senator asal Nusa Tenggara Timur, Angelo Wake Kako (AWK) mendesak pemerintah untuk memperhatikan nasib koperasi kredit di tengah pandemi Covid-19. Dalam suratnya...

Ketika Orang Lain Masih Berbisik… (Mengenang EP da Gomez)

Oleh: Dion Db Putra “Dion, coba kau baca dulu yang saya tulis itu kah. Menurut saya perlu segera dimuat karena masalahnya sedang aktual”. Itu katanya suatu...

E.P. Da Gomez: Politisi, Pemikir dan Pejuang Demokrasi (Sebuah Obituari)

Oleh: Andreas Hugo Pareira* Sekitar setahun yang lalu diawal bulan Mei 2019, setelah selesai Pileg-Pilpres, sebelum kembali ke Jakarta, saya sempat berkunjung ke rumah E.P....

Setia Menjaga Perbatasan

Maumere, Ekorantt.com - Pandemik Covid-19 telah melanda lebih dari 200 negara di dunia termasuk Indonesia. Sejumlah upaya telah dan sedang dikerjakan untuk mengobati dan...

Kapan Kita Sekolah Lagi Ibu?

Maumere, Ekorantt.com - “Kapan kita sekolah lagi Ibu? Kami mau ke sekolah bermain dengan teman-teman. Kami sudah bosan di rumah”. Sekilas ungkapan polos dari anak-anak...

Fraksi Nasdem Ende Minta Eks Penumpang Lambelu Harus Diswab

Ende, Ekorantt.com - Fraksi Partai Nasdem DPRD Kabupaten Ende meminta Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Ende untuk melakukan swab test seluruh eks penumpang...

Akses Pasar Terbatas, Desa Detusoko Barat Kembangkan Inovasi ‘Dapur Kita’

Ende, Ekorantt.com - Ferdinandus Nando Watu, penggagas konsep ekowisata di Kabupaten Ende yang kini menjabat sebagai kepala desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here