Kamis, 13 Agustus 2020

“Kami Bangga Punya Produk Beras Organik”

Larantuka, Ekorantt.com – Segenap warga Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur kini boleh berbangga.

Kebanggaan mereka pertama dan terutama adalah karena Pemerintah Desa dalam kerja kemitraan bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Bogor, Yayasan Ayu Tani dan PT Wish Indonesia terlibat dalam upaya menyiapkan petani dari Desa Hewa yang mengelola lahan pertaniannya secara lebih profesional sampai pada pemasaran beras dari para petani ke BUMDes. Selanjutnya dari BUMDes dipasarkan keluar desa.

Memanfaatkan jenis padi bibit Galur 88, IF 8 dan IF 17, dengan penggunaan pupuk organik dan juga menerapkan kearifan lokal berupa pemanfaatan sejumlah ramuan dari akar dan dedaunan untuk mengusir hama adalah beberapa contoh kecil yang telah, sedang dan akan terus dikerjakan oleh para petani.

Sirilus Jilu, petani berusia 62 tahun, mewakili para petani menjelaskan ada perubahan yang berarti bagi warga di desanya karena kerja kemitraan ini.

“Kami tentunya harus banyak berterima kasih karena kalau selama ini kami bertani di lahan kering saja maka adanya pembukaan percetakan sawah itu kami juga bisa masuk dan menggarap di lahan basah yang dimulai pada tahun 2016 lalu itu,” ujar Sirilus.

“Pada waktu awal sampai dengan berjalan pada tahun 2019 itu juga belum banyak petani yang masuk menggarap di sawah. Bisa jadi karena soal sumber daya manusia sesama kami yang beralih dari lahan kering ke lahan basah itu. Jadi ketika kami mulai masuk ke sawah terus ada pendampingan dari KRKP Bogor, Ayu Tani dan PT Wish pada tahun 2020 ini semakin menguatkan semangat kami untuk mantap bertani,” sambungnya.

Sirilus adalah salah satu anggota kelompok tani Ri’it Anak yang bersama para petani lainnya mengikuti Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian. Sekolah Lapangan ini dimulai pada Februari 2020 dengan menggandeng PT WiSH Indonesia, KRKP Bogor dan Yayayasan Ayu Tani.

Pemerintah Desa Hewa sendiri bersama pihak kemitraan memang menggagas terciptanya kemandirian pangan bagi warga desanya dengan menerapkan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan.

Lebih dari itu, Desa Hewa menagetkan untuk jadi pemasok beras organik ke desa-desa di kabupaten Flores Timur.

“Tahun 2016 lalu, desa kami dapat program percetakan sawah baru. Ada lahan seluas 200 hektare yang dibuat jadi sawah. Jadi kami berencana desa kami harus jadi pemasok beras organik. Pengelolaan produk beras organik ini dilakukan oleh BUMDes,” demikian kata Claudius Lein Kein, Sekretaris Desa Hewa.

Niat baik itu, kata Lein Kein, terjawab karena adanya dampingan dari Yayasan Ayu Tani, KRKP Bogor, dan PT WiSH Indonesia sejak Februari 2020 lalu.

“Sekolah Lapangan sudah berjalan dan saat ini bibit dari uji coba itu sudah ada jadi pada musim tanam kali ini lahan sawah di desa kami sudah siap untuk ditanami dengan bibit baru hasil dari sekolah lapangan itu,” sambungnya.

Yosef Dopi, 52 tahun, Ketua Gapoktan Ri’it Anak menjelaskan sekolah lapangan membuat dirinya dan segenap kepala keluarga petani mengalami perubahan, tidak hanya soal bakal mendapatkan banyaknya hasil padi tetapi juga soal pola pikir/mindset.

“Kami ini berprofesi sebagai petani lahan kering sebelumnya. Jadi kami kerja saja. Saat musim tanam kami tanam, musim petik kami petik jadi prinsipnya ya karena kami petani jadi kerja saja sesuai musim. Musim tanam ya tanam. Tetapi sejak dimulainya program pemerintah yang membuka percetakan sawah lalu sampai ada pendampingan dari Ayu Tani, KRKP Bogor dan dari PT WiSH Indonesia itu pikiran kami mulai terbuka untuk mulai mengembangkan pertanian secara lebih maju lagi,” sebutnya.

Yosef lebih jauh menjelaskan dalam sekolah lapangan, mereka menanam padi dengan jenis Galur 88, IF 8, dan IF 17 yang disediakan oleh Yayasan Ayu Tani dan KRKP Bogor.

Tiga jenis padi ini ini lalu ditanam berdampingan dengan varietas padi lokal.  Hasil dari uji coba dengan menggunakan pupuk hayati yang disediakan oleh PT WiSH Indonesia ternyata menghasilkan bulir padi yang berlimpah.

“Jadi kami coba buat hitung itu kalau dari padi jenis lokal yang selama ini kami tanam itu beda jauh sekali. Kalau padi lokal kami dalam satu bulir ada sekitar 200-an biji maka dari jeis galur 88, IF 8  dan IF 17 itu dalam satu bulir bisa mencapai 340-an biji. Jadi kami punya kesimpulan jenis baru ini rupanya cocok untuk lahan sawah kita,” demikian urai Benyamin Widin, petani yang juga merangkap Direktur BUMDes Hewa.

Benyamin mengemukakan bahwa kerja sama dalam sekolah lapangan Biointensive Pertanian menunjukkan hasil yang memuaskan.

Diyakini, impian sebagai salah satu desa pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan petani, mulai dari bibit sampai pupuk organik kemudian membeli kembali hasil padi milik petani lalu menyalurkannya lagi, dapat terwujud.

“Kita beri akses ke petani supaya bisa dapat pupuk organik. Lalu berikan pendampingan lagi dalam sekolah lapangan itu jadi jalan terang sebagai desa penyedia beras organik ini sudah siap. Target kami ya bisa tujuh ton kami dapatkan dari petani. BUMDes beli dari petani di desa ini dengan Rp10 ribu lalu dikemas dengan label dan dijual kepada desa-desa di seputaran Kecamatan Wulanggitang ini dengan Rp11 ribu sampai dengan Rp12 ribu/kg. Produk beras organik kami ini kami namakan Beras Helero,” jelas Benyamin.

Sementara itu, Direktur Yayasan Ayu Tani, Thomas Uran mengemukakan bahwa produk beras organik yang dihasilkan oleh para petani di Desa Hewa jelas membantu 1.400-an jiwa dari 354 kepala keluarga yang ada di Desa Hewa.

“Saat ini petani Hewa sangat bergantung pada harga jual mete, karena memang desa ini juga penghasil mete tetapi panen mete semakin menurun dari waktu ke waktu. Praktis kebun mete 1 hektare belum tentu menghasilkan sampai 500 kg mete gelondong. Bisa dibayangkan penghasilan per KK tani dari mete. Untuk itu pasar beras ini solusi demi menambah penghasilan petani,” terang Thomas.

Sebelumnya, kata Thomas, jarak petani produsen padi/beras dengan konsumen sangat jauh. Konsumen tidak tahu perilaku produsen padi saat produksi. Sehat atau tidak.

“Untuk itu, di Hewa kami gandeng dengan WiSH Bogor untuk dapatkan pupuk hayati. Kami berharap kerja sama ini bisa bantu petani untuk tingkatkan produksi,” jelas Thomas.

Mewakili para petani dari Desa Hewa, Sirilus Jilu, Yosef Dopi, dan Benyamin Widin mengungkapkan kebanggaan mereka pada produk beras organik kini mulai dikembangkan di Desa Hewa.

“Kami bangga pak punya beras organik ini apalagi beras kami dibeli oleh BUMDes,” ujar Yosef.

TERKINI

Staf Khusus Kemendesa: PKTD di Ende Libatkan Pekerja di Desa

Ende, Ekorantt.com – Staf khusus Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Ahmad Imam meminta agar kegiatan Padat Karya Tunai Desa (PKTD) desa-desa di...

Bikin Miris, Sejumlah Kambing di Ende ‘Berwisata Ria’ ke Taman Permenungan Bung Karno

Ende, Ekorantt.com – Sebuah pemandangan yang bikin miris terjadi di Taman Permenungan Bung Karno pada Rabu (12/8/2020). Nampak empat ekor kambing berkeliaran bebas di...

Demi ‘Anandao’ yang Cerdas dan Berkarakter (Refleksi Hari Jadi SMPK Frateran Ndao ke-72)

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd* “Ibu adalah sekolah. Ibu adalah lembaga pendidikan pertama. Ibulah yang membekali anak sikap, watak, kepribadian, akhlak, iman,...

Seorang Anggota DPRD di Ngada Diduga Terkonfimasi Positif Covid-19

Bajawa, Ekorantt.com - Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ngada bernisial PN diduga terkonfirmasi positif Covid-19. Anggota dewan tersebut terkonfirmasi positif Covid-19...

BACA JUGA

Kerupuk Ikan Tuna dari Maumere, Camilan Renyah di Meja Makan Anda

Maumere, Ekorantt.com - Kriuknya kerupuk telah memberikan nuansa berbeda di meja makan kebanyakan masyarakat. Tidak hanya sebagai camilan, kerupuk sudah lumrah dijadikan pelengkap lauk...

Demi ‘Anandao’ yang Cerdas dan Berkarakter (Refleksi Hari Jadi SMPK Frateran Ndao ke-72)

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd* “Ibu adalah sekolah. Ibu adalah lembaga pendidikan pertama. Ibulah yang membekali anak sikap, watak, kepribadian, akhlak, iman,...

Mobil ‘Pick Up’ di Ende Boleh Angkut Penumpang, Ini Syaratnya

Ende, Ekorantt.com - Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan mengelompokkan mobil bak terbuka atau pick up sebagai mobil barang. Namun tak jarang...

Protes Tambang Galian C, Tiga Warga Lengkosambi, Ngada Dipanggil Polisi

Bajawa, Ekorantt.com - Tiga warga Desa Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, dipanggil oleh pihak kepolisian karena memerotes keberadaan tambang galian C di wilayah mereka....

Diberhentikan Tanpa Kejelasan, 26 Karyawan Barata Kupang Mengadu ke DPRD NTT

Kupang, Ekorantt.com - Sebanyak 26 karyawan PT Barata Guna Indo Ganesa Cabang Kupang mendatangi kantor DPRD NTT pada Rabu (12/8/2020) sore. Mereka ingin mengadu...

Penerapan Pembelajaran Daring bagi Pelajar Berkebutuhan Khusus di Maumere tidak Efektif

Maumere, Ekorantt.com - Penerapan pembelajaran Daring (Dalam Jaringan) alias online tidak efektif dijalankan oleh pelajar berkebutuhan khusus di Maumere, Kabupaten Sikka. Kepala Sekolah SLB...

Pemprov NTT Akan Lakukan Kajian untuk Mengaktifkan KBM di Sekolah

Kupang, Ekorantt.com – Pasca-pemberlakuan masa adaptasi kebiasaan baru pada 15 Juli 2020 di Provinsi NTT, aktivitas kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan sekolah menengah...

Resmikan Gedung CUBS Nita, Wabup Romanus Tekankan Pentingnya 6 Nilai Inti Credit Union

Maumere, Ekorantt.com – Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga bersama Uskup Maumere, Mgr. Martinus Edwaldus Sedu meresmikan gedung Credit Union Bahtera Sejahtera (CUBS) Tempat Pelayanan...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here