Larantuka, Ekorantt.com – Kegembiraan Yuliana Wilhelmina Dariajia Dalopez menyambut musim panen seketika sirna. Awal April 2026, perempuan 50 tahun itu mendapati empat petak tanaman padi habis dilahap hama tikus.
Yuliana bukan satu-satunya petani yang mengalami nasib buruk. Masih ada belasan petani lain bernasib serupa. Padi yang mereka usahakan dengan keringat hingga tumbuh di persawahan Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, kini dipastikan gagal panen.
Hama tikus semula terdeteksi pada akhir 2025. Populasinya bertambah kala tiba musim tanam. Yuliana bersama suami dan anak-anaknya menyemprotkan obat pembasmi, namun itu tak cukup membunuh tikus.
Dalam sekejap mata, kisah Yuliana, gerombolan tikus menggerogoti padi yang telah menguning. Ibu lima anak itu semakin sedih kala membayangkan biaya pengerjaan hampir Rp2 juta. Angka yang besar di kalangan petani kampung.
Demi kebutuhan makan, Yuliana membeli beras toko seharga Rp15 ribu per kilogram, mengandalkan uang suaminya sebagai tukang bangunan.
“Panen tidak sampai sekarung, jadi sewaktu saya giling hanya dapat beberapa kilogram saja. Tidak cukup untuk kebutuhan makan tujuh anggota keluarga,” katanya saat ditemui di Sawah Konga, Kamis, 30 April 2026.
Pada Kamis pagi, Yuliana dan enam perempuan menyabit padi di lahan milik Martinus Juang Lewar. Hasilnya pun tak seberapa. Lima petak sawah hanya menghasilkan kurang dari 40 karung sedang.
Martinus Juang Lewar menyewa tenaga satu laki-laki dan enam perempuan untuk memanen padi. Biaya upah sehari Rp 50 ribu per tenaga laki-laki dan Rp35 ribu untuk tenaga perempuan. Mereka tergabung dalam kelompok tani Nyora Dona.
Martinus bercerita, hama tikus awalnya melahap 15 hektare padi. Ketika dihitung, terdapat 10 hektare yang ludes tanpa sisa. Potensi pertanian di Desa Konga lebih banyak padi, jagung, dan sayuran. Beragam tanaman pangan itu juga diserang ulat.
Para petani berinisiatif melakukan sanitasi, kemudian membeli racun dengan merogoh kantong sendiri serta bantuan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur.
Sayangnya, populasi tikus sulit diberantas. Kondisi iklim yang tak menentu dinilai menjadi penyebab munculnya beragam masalah pertanian.
“Mungkin kita sering gunakan racun jadi hama macam sudah terbiasa, apa lagi akhir-akhir ini iklim sangat tidak menentu,” tuturnya
Ketua Kelompok Tani Nyora Dona, Laurensius Witoama Soge (52), mengungkapkan petani sudah menyampaikan Keluhan kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur.
“Mereka (Dinas Pertanian) sudah turun tetapi lamban, mungkin karena urusan birokrasi yang ribet, jadi saat ini belum menjawab masalah,” ungkapnya.
Menurutnya, serangan hama kali ini lebih parah dari tahun sebelum-sebelumnya. Hasil panen hanya 30 persen, turun jauh dari biasanya di angka 80 persen. Petani yang terlebih dahulu menanam di bulan Februari mengalami nasib lebih buruk, salah satunya Yuliana Dalopez.
“Yang dipanen itu sisa-sisa dari yang dimakan tikus, sampai dengan sekarang serangan hama masih banyak,” ujarnya.
Laurensius mengaku pernah melihat kawanan tikus sedang bermigrasi lewat jalur laut di sekitar Pantai Konga. Dari temuan itu, petani mulai melakukan sanitasi termasuk mengusir hama dengan kearifan lokal. Hasilnya pun belum maksimal.
Laurensius berharap pemerintah mencari jalan keluar yang tepat dalam mengatasi masalah hama. Ia mengajak sesama petani bekerja sama membersihkan semak-belukar di sekitar persawahan. Sebab, lingkungan yang kotor akan menjadi sarang hama.
“Kita juga rencanakan untuk menggelar ritual adat,” ucap Larensius.
Selain hama, petani juga berharap adanya perbaikan irigasi yang rusak. Beberapa badan irigasi tampak bocor sehingga pengaturan air tak tersalur merata ke lahan pertanian.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Yoseph Sadi Open, belum merespons saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Paul Kabelen













