Kampung Paupanda Ende Jadi Langganan Banjir, Pemerintah Hanya Bantu Mi Instan

Kepala Desa Wewaria, Firmus Lise melaporkan banjir merendam sekitar 50 rumah di Dusun Dua Paupanda.

Ende, Ekorantt.com – Kampung Paupanda di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende kerap menjadi langganan banjir saat hujan lebat datang. Seperti yang terjadi pada Selasa, 27 April 2026, puluhan rumah warga di kampung tersebut terendam banjir.

Luapan air dari Kali Loworea tak terbendung akibat penahan sungai jebol yang jaraknya sekitar 70 meter dari pemukiman warga. Ditambah pula intensitas hujan yang cukup tinggi di wilayah tersebut.

“Sekitar jam empat sore air sudah muncul. Sekitar kurang lebih jam 5.30 tadi, air sudah masuk ke rumah warga sampai sekarang,” kata Ardyan Salvatore, warga Dusun Paupanda, Selasa malam.

Ia menuturkan, hingga malam air belum juga surut dan rumah-rumah warga masih terendam banjir.

Kepala Desa Wewaria, Firmus Lise melaporkan banjir merendam sekitar 50 rumah di Dusun Dua Paupanda.

“Ini warga sudah panik, sudah siap-siap melakukan evakuasi barang karena air sudah masuk ke dalam rumah,” ujar dia.

Warga memilih bertahan di rumah sambil berharap hujan berhenti dan air kembali surut. “Kalau masih hujan terus, terpaksa mengungsi, tapi kita doakan agar hujan di hulu (Welamosa) berhenti supaya cepat surut.”

Banjir tersebut, lanjut Firmus, tidak hanya mengancam keselamatan warga namun juga mengancam lahan pertanian warga. Sekitar lima hektar sawah terancam gagal panen.

“Terancam gagal panen karena padinya usia sudah menguning. Siap panen tapi banjir begini hancur semua padi itu,” ujarnya.

Firmus menuturkan, banjir kerap terjadi ketika hujan lebat. Pemerintah desa sudah berulang kali melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah kabupaten namun belum ada tindaklanjut.

Banjir rendam rumah salah satu warga di Paupanda, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, NTT pada Selasa, 28 April 2026 (Foto: Dokumen Pribadi/HO)

“Saya sempat buat laporan kepada bupati dari awal saya menjabat. Zaman Pak Djafar kemarin itu saya sempat antar surat laporan, terus masa Pak Yosef ini pun saya pernah antar juga surat,” kata Firmus.

“Tetapi belum ada tindaklanjut, terhadap keluhan masyarakat.”

Ia mengaku, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ende selama ini hanya datang meninjau lokasi bencana dan memberikan bantuan berupa beras dan mi kepada masyarakat.

Warga butuh sesungguhnya butuh penanganan seperti pembangunan tanggul atau relokasi kali agar air tidak meluap hingga merendam pemukiman dan sawah-sawah warga.

“Masyarakat masih punya beras, masih bisa beli mi, bisa beli minyak goreng. Tapi masyarakat butuh tanggapan pemerintah bagaimana supaya tidak terjadi lagi banjir yang merendam rumah warga,” tutur dia.

Meskipun demikian, Firmus masih berharap perhatian serius dari pemerintah agar persoalan tersebut tidak terulang lagi.

“Kita minta agar pemerintah kabupaten bangun beronjong. Kalau anggaran kurang bisa normalisasi kali atau pembersihan kali,” kata Firmus.

TERKINI
BACA JUGA