Persawahan ‘Jaring Laba-laba Meler’ Manggarai Alami Kekeringan

Ruteng, Ekorantt.com – Puncak musim kemarau yang menimpa sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai berdampak terhadap sejumlah lahan pertaninan. Persawahan ‘jaring laba-laba’ di Desa Meler, Kecamatan Ruteng, misalnya, mengalami kekeringan.

Sejumlah petak sawah di persawahan yang telah menjadi destinasi wisata di Kabupaten Manggarai ini tak teraliri air. Akibatnya, permukaan sawah mengering dan retak.

Tampak pula irigasi di sekitar sawah hampir kering lantaran debit air yang kecil.

Veronika Oni (52), salah satu pemilik lahan di daerah itu, mengaku sawah miliknya yang seluas setengah hektare terancam gagal panen.

“Sedih sekali karena tidak panen lagi tahun ini,” ungkap Veronika kepada Ekora NTT pada Jum’at (11/9/2020) dengan mata berkaca-kaca.

Saat konfirmasi, Penjabat Sementara Kepala Desa Meler, Robertus Unggut menurutkan, bencana kekeringan yang menimpa petani di desa itu bukanlah yang pertama kali terjadi.

Kekeringan terjadi dari tahun ke tahun, jelas Robertus, lantaran debit air yang kecil akibat kekeringan.

Robertus bilang, area persawahan Lingko Lodok memiliki luas 230 hektare. Dari luas tersebut, sekitar 115 hektare sawah berlokasi di Lingko Ngaung (bagian dari Lingko Lodok) Desa Meler.

“Hampir setengah dari 230 hektare yaitu sekitar 115 hektare di sini yang terancam gagal panen. Tahun lalu juga petani mengalami gagal panen. Beruntungnya dapat bantuan beras sembilan ton lebih dari dinas sosial,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah desa sempat berencana untuk meningkatkan pengairan dari Wae Moro. Tapi belum dilakukan karena debit air sangat kecil dibandingkan dengan luas persawahan.

“Untuk meningkatkan debit air sangat susah karena dari sumbernya memang kecil,” katanya.

“Saat masuk bulan Juli, area persawahan tidak bisa dikelola lagi oleh petani. Bahkan dijadikan lahan tidur yang tidak produktif,” tutupnya.

TERKINI
BACA JUGA