Borong, Ekorantt.com – Seorang pemuda asal Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, berinovasi mengembangkan usaha budidaya jamur tiram. Pria bernama lengkap Petrus Kanisius Guras (26) adalah orang pertama yang merintis usaha tersebut di Manggarai Timur.
Ia mengaku tertarik membudidayakan jamur tiram sejak masih kuliah di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, setelah melihat usaha sejenis milik salah seorang dosennya.
Selama tiga tahun selepas kuliah, Us – sapaannya – terus mendalami pengetahuan budidaya jamur tiram melalui video-video di youtube. Akhirnya, ia memantapkan pilihannya untuk membangun usaha tersebut pada 2019 .
“Pada 2019, setelah saya belajar lebih dalam di youtube, saya pun mencoba. Untuk awal-awal usaha ini saya buat 50 baglog,” tuturnya kepada Ekora NTT, Jumat (25/6/2021).
Ia mengaku, takut membuat banyak baglog – plastik berisi serbuk kayu halus yang sudah dipres untuk pembibitan jamur tiram – karena takut gagal. Namun, setelah 50 baglog pertama itu 100 persen berhasil, Us pun terus meningkatkan produksi, dan kini sudah mencapai 700 baglog.
Dari jumlah tersebut, setiap minggu Us memanen 9 hingga 12 Kg. 1 Kg jamur tiram dibandrol dengan harga 75 ribu rupiah.
“Sebelum pandemi, saya jual 100 ribu rupiah per Kg. Sejak pandemi harga jualnya saya kasih turun 75 ribu rupiah per Kg,” sebutnya.
Ia mengatakan, sistem pemasarannya masih dor to dor, belum masuk ke restoran atau rumah-rumah makan.
“Saya juga jual sesuai kebutuhan konsumen. Orang bisa beli sesuai keadaan uang, mulai dari 10 ribu rupiah,” sebutnya.
“Selama pandemi, pembeli juga agak berkurang, tidak seperti sebelumnya,” tambahnya.
Kendala
Us mengatakan, kendala utama usahanya yakni peralatan kerja seperti alat pres baglog, banker steril dan beberapa lainnya. Selama ini, untuk steril baglog, ia menggunakan drum bekas dengan bahan bakar kayu. Kemudian, untuk pres baglog, Us menggunakan alat sederhana yang ia buat dari kayu.
“Kalau pakai mesin, pasti produksi baglog bisa lebih banyak. Tetapi karena saya kerja, semua serba manual, jadi jumlah baglognya tidak bisa banyak,” ucapnya.
Meski demikian, Us bersyukur karena usahanya itu bisa membantu menopang ekonomi keluarga.
Ia berpesan agar semakin banyak anak muda di Manggarai Timur yang mengembangkan UMKM ke depannya.
“Saya memulai usaha ini dengan modal 500 ribu untuk beli drum bekas, bibit jamur, dan plastik baglog. Menurut saya, usaha itu bukan soal modal ukuran pertamanya, tapi niat,” pungkasnya.
Rosis Adir













