Pemdes Rubit Alokasikan Dana Desa untuk Bedah Rumah Warga Tak Layak Huni

Maumere, Ekorantt.com – Pemerintah Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengalokasikan Dana Desa untuk membedah sejumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik warga miskin.

Kepala Desa Rubit, Polikarpus Heret atau yang akrab disapa Poli kepada media ini, Selasa (12/4/22) mengatakan, bedah rumah tersebut sudah sesuai dengan amanat peruntukan Dana Desa (DD) yang sebagian untuk pemberdayaan dan menyentuh langsung dengan masyarakat Desa.

Penggunaan Dana Desa Tahun 2022 untuk pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ada 4 titik yakni 1 unit rumah di Dusun Ohe, 1 unit rumah di Dusun Watuwitir, dan 1 unit rumah di Dusun Wolokereng.

Poli mengatakan, warga Dusun Ohe, Dusun Watuwitir, Dusun Wolokereng biasanya membentuk kelompok untuk melaksanakan pembangunan RTLH.

Pembangunan RTLH pada 2022 ini dilaksanakan ada 4 unit rumah dengan masing-masing anggaran 1 unit rumah sebesar Rp17,5 juta. Total 4 unit rumah sebesar Rp70 juta.

iklan

“Awalnya saya anggarkan untuk pembangunan RTLH tahun ini sebanyak 15 unit rumah tetapi setelah dikalkulasi anggarannya tidak cukup. Jadi hanya 4 unit rumah saja yang dianggarkan,” kata Poli.

Sebelumnya pada tahun 2019 bulan Desember, Poli menjabat Kepala Desa dan dia menganggarkan untuk pembangunan RTLH itu sebanyak 157 unit rumah.

“Kebetulan ini adalah program utama saya. Akhirnya dari 157 itu saya coba membagi dalam setiap periode di setiap tahun,” terangnya.

Selanjutnya pada tahun 2020 untuk pembangunan RTLH, lanjut Poli, dirinya menganggarkan sebanyak 24 unit rumah. Kemudian, pada tahun 2021, Poli menganggarkan lagi untuk pembangunan RTLH sebanyak 25 unit rumah. Tetapi karena saat itu masih pandemi Covid-19, akhirnya pihaknya menganggarkan hanya 3 unit rumah saja.

Lebih lanjut, dijelaskan terkait dengan bantuan bedah RTLH ini diberikan bukan dalam bentuk uang tapi kita berikan bantuan itu dalam bentuk bahan material berupa seng, batu merah, pasir dan semen.

“Di sini, saya tekankan swadaya itu utama karena target saya itu bahwa selama masa jabatan saya sebagai Kepala Desa Rubit itu bantuan rumah itu permanen tidak ada yang semi permanen,” ujarnya.

Poli menegaskan bahwa swadaya secara pribadi itu harus. Untuk itu, Poli memasang persyaratannya untuk mendapatkan bantuan itu.

“Apabila semua persyaratan itu mereka penuhi maka kita kawal sampai dengan pendropingan material. Itu sudah final. Jadi tidak ada istilah mangkrak,” kata Poli.

Ia menjelaskan, persyaratannya yakni pertama mereka masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS); kedua adalah mereka sudah punya swadaya.

“Jadi harus sudah ada fondasi, kayu, kusen. Kalau sudah ada kami droping material dari desa berupa seng, batu merah, pasir dan semen,” ujarnya.

Dengan adanya pembangunan Rumah Tidak Layak Huni ini, tentunya dapat menghasilkan rumah yang layak huni bagi keluarga tidak mampu.

“Awalnya program saya adalah rumah permanen terima kunci tetapi setelah saya kalkulasikan ternyata dananya besar tetapi manfaatnya untuk 1 orang saja kalau 1 orang hanya habiskan Rp90 juta,” ungkap Poli.

“Akhirnya saya menyampaikan ke BPD bahwa soal pemerataan itu kayaknya kurang, karena kalau kita bantu kepada warga yang sudah mendapat bantuan PKH saya rasa berdosa sekali kalau warga yang tidak dapat bantuan PKH kita tidak bantu,” tambahnya.

Saya berharap bahwa program ini merupakan satu solusi untuk mengurangi kemiskinan kepada warga kita yang sudah dibantu.

Poli mengatakan, sampai dengan saat ini masih ada 112 warga Desa Rubit yang memiliki Rumah Tidak Layak Huni. Total sejak tahun 2020 sampai 2022 sudah 31 rumah permanen yang menggunakan Dana Desa.

“Saya tetap anggarkan sesuai dengan kondisi Dana Desa yang ada. Atau tidak kita akan upayakan melalui dana pokir,” ungkapnya.

Warga Dusun Watuwitir, Arnoldus Yansen mengatakan, dirinya dan keluarganya mengucapkan terima kasih kepada Pemdes Rubit yang sudah membantu proses bedah rumahnya.

“Saya tidak bisa bayangkan tiba-tiba saja dapat bantuan uang banyak dari pemerintah untuk bangun rumah. Kalau tidak ada program dari pemerintah sangat sulit bagi kami untuk bangun rumah yang layak huni. Apalagi pekerjaan kami hanya petani. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih,” ungkapnya.

TERKINI
BACA JUGA