Tenun Ikat Flores: Antara Tradisi dan Tuntutan Ekonomi

Maumere, Ekorantt.com – Magdalena Kartini (48) menyandarkan alat tenunnya di dinding bangunan mungil itu. Ia kemudian duduk di atas bale-bale sambil menenggak segelas air putih.

Kartini baru saja istirahat setelah menenun seharian penuh di rumah produksi sanggar Tati Nahing pada awal Februari 2023 lalu. Ia meregangkan otot agar badan kembali segar bugar.

“Mau bagaimana lagi, hidup saya itu dari tenun,” kata Kartini membuka pembicaraan.

Kartini terlahir dari keluarga penenun. Mendiang ayah mendirikan sanggar tenun bernama Bliran Sina di Watublapi, yang sekarang dikelola oleh kakak kandungnya, Yoseph Gervasius. Sementara sang ibu mewarisinya ilmu menenun.

Ia sudah belajar menenun sejak kecil, tepatnya saat masih mengenyam pendidikan SMP. Tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Kartini malah memilih untuk fokus belajar menenun.

iklan

“Hasil tenun pertama yang saya buat itu satu selendang kecil. Waktu itu ada tamu yang kunjung dan hari itu tamu beli saya punya kain,” kata Kartini mengenang kejadian puluhan tahun lalu.

Setelah meninggalkan kampung halaman untuk mengikuti suami, Kartini tetap setia menenun. Ia pun merintis sanggar tenun Tati Nahing di Desa Lepolima, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka pada tahun 2014.

Anggota sanggar Tati Nahing berjumlah 12 orang, yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak muda. Tidak semua anggota sanggar bisa menenun. Karena itu, dilakukan pembagian tugas untuk masing-masing anggota.

“Ada yang bagian pewarnaan, kemudian ikat benang. Ada yang khusus untuk menenun, goan (rentang benang), dan wolot (gulung kapas),” kata Kartini.

Sanggar Tati Nahing, tutur Kartini, masih mempertahankan pewarnaan alami dalam aktivitas menenun. Bahkan, untuk pesanan tertentu, mereka masih menggunakan bahan-bahan baku dari alam.

Tidak heran, areal di sekitar bangunan sanggar ditanami pohon mengkudu, pohon raja, tanaman tarum, dan tanaman lain yang nantinya digunakan untuk pewarna alam. Nantinya pohon dan tanaman-tanaman ini diolah untuk menghasilkan warna-warna dalam tenun ikat.

Tati Nahing sendiri bermakna perjuangan hidup yang dikerjakan dalam kebersamaan. Demikian pun menenun, mesti dirawat secara bersama-sama. Kecintaan pada warisan tenun ikat memunculkan elan dalam diri Kartini untuk merawat tenun sampai kapan pun.

Aktivitas menenun di sanggar Tati Nahing (Foto: Dok. Tati Nahing)

Masalah Regenerasi Penenun

Namun Kartini tak menafikan bahwa tradisi menenun kian terancam bila tak ada yang melanjutkannya. Bagaimana tidak, kata Kartini, semakin hari semakin berkurang generasi muda yang berminat untuk menenun.

Kartini ingat betul pepatah dalam bahasa Sikka yang mengatakan du’a deri jata kapa, jata kiok manu koko yang secara harafiah berarti ibu memintal benang saat ayam berkokok.

Pepatah ini menggambarkan gaya hidup ibu-ibu zaman dulu, yang sejak dini hari sudah beraktivitas, khususnya menenun, sembari menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anak.

Sekarang, rata-rata penenun berumur 40 tahun ke atas. Anak-anak muda jarang memilih jalan hidup sebagai penenun. Kartini khawatir bila warisan menenun akan punah bila tidak dijaga dengan baik.

“Siapa yang mau tenun? Paling seumuran kami yang bisa tenun. Tapi untuk anak-anak yang ke depan lagi tidak ada lagi,” kata Kartini.

Itulah kenapa Sanggar Tati Nahing memiliki komposisi anggota anak-anak muda. Mereka diharapkan bisa merawat tradisi menenun ke depan.

“Saya juga minta mama-mama di sini untuk ajak anak untuk menenun mulai dari rumah. Pendidikan dari rumah dulu baru kita keluar.”

Pengelola Sanggar Bliran Sina, Yosef Gervasius melakukan hal yang sama dengan mendorong generasi-generasi muda agar mau menenun. Usaha pertama yang dilakukan adalah dengan memperkenalkan tenun dan cara menenun.

“Kami di sini mencoba melatih anak-anak muda untuk menenun. Kalau tenun ditinggalkan, maka tidak ada lagi generasi-generasi penenun yang akan datang,” ujar Yosef.

Sanggar yang memiliki anggota 30-an orang ini mencoba bernegosiasi dengan sekolah-sekolah formal untuk memasukkan program belajar tenun ke dalam pelajaran muatan lokal. Ini dilakukan agar regenerasi penenun berjalan.

Menjadi seorang penenun, kata Yosef, harus punya kemauan dalam diri sendiri, butuh kesabaran, dan tekun dalam mengerjakannya. Dengan begitu, seseorang akan terpacu untuk mengerjakan tenun.

“Jadi kalau dasarnya saja tidak tahu, tidak punya kemauan untuk bekerja maka percuma, tidak akan bisa menjadi seorang penenun,” kata Yosef.

Penenun muda di Sanggar Bliran Sina, Antonia Arifin (37) mengaku belajar menenun bukan perkara enteng, seperti membalikkan telapak tangan. Dan itu yang tidak ada dalam diri anak muda sekarang.

Banyak anak muda yang mengenakan tenunan, kata Antonia, tetapi tidak mengetahui proses pembuatannya atau cara menenunnya.

“Siapa yang jaga dan pertahankan kalau bukan kita, maka dari itu kita harus tetap mempertahankan warisan kita sendiri dan itu akan terjadi secara turun-temurun supaya tidak hilang dan tetap ada,” ungkapnya.

Dionisius Kartino Pratama, anggota sanggar Tati Nahing sedang membereskan benang yang baru dicelup (Foto: Dok. Tati Nahing)

Upaya Merawat Tradisi Menenun

Sekretaris Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Sikka, Even Edomeko mengakui adanya kecenderungan menurunnya jumlah penenun. Penenun hanya menjadi pekerjaan orang-orang tua di kampung.

Baginya, upaya pelestarian tenun bukan hanya menjadi tugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, tetapi semua pihak mesti terlibat. Dibutuhkan kerja sama untuk menggairahkan dan menumbuhkan semangat generasi muda untuk mencintai tradisi menenun.

Upaya pertama yang dilakukan, jelas Even, yakni dengan memasukkan mata pelajaran menenun ke dalam kurikulum sekolah. Beberapa sekolah telah menerapkan hal itu.

“Sudah ada sekolah yang menjalankan misalnya di SMP PGRI Egon Waigete, yang sudah ada program pendidikan menenun dan itu berjalan bagus,” kata Even dan menambahkan bahwa pengalaman di SMP PGRI Egon Waigete seharusnya menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.

Even mengatakan, peran sanggar-sanggar budaya sangat penting dalam upaya melestarikan tenun. Melalui sanggar-sanggar itu, anak muda bisa belajar dan merawat tenun yang sudah diwariskan nenek moyang.

“Jangan hanya mama-mama yang menenun, tetapi orang muda juga harus menenun. Bahkan, kami senang sekali anak-anak SD juga belajar menenun, itu dilihat di beberapa sanggar mereka sudah mulai,” katanya.

Tidak Menjanjikan Secara Ekonomi

Salah satu alasan menenun mulai ditinggalkan, kata Even, adalah pilihan pekerjaan generasi muda yang semakin bervariasi. Menenun dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.

“Faktanya, usia dari para penenun itu 40 tahun ke atas, 40 tahun ke bawah tidak ada karena generasi muda lebih suka jadi pekerja milenial karena tenun sarung itu dianggap sebagai pekerjaan sampingan para perempuan desa yang nganggur,” kata Even.

Namun bila berkaca pada apa yang dialami oleh Kartini di Sanggar Tati Nahing, tradisi menenun rupanya mampu menopang ekonomi rumah tangga. Hal itu bisa terwujud bila penenun memiliki kemampuan untuk memanajemeni keuangan.

“Kami penenun hanya tahu tenun. Kami juga harus belajar atur keuangan. Jangan sampai kita tenun lalu tidak dapat apa-apa,” kata Kartini.

Kartini menerapkan manajemen keuangan yang ketat dalam aktivitas menenun. Minimal, kata Kartini, seorang penenun memiliki gambaran tentang pengeluaran dan pendapatan yang didapatkan dari menenun.

Kartini mengatakan, seorang penenun harus memiliki perhitungan ekonomis, mulai dari biaya produksi hingga harga penjualan kain tenun ikat. Sehingga tenun tidak sekadar warisan, tapi juga menguntungkan secara ekonomi.

“Kalau kami hitung, biaya produksi kami Rp500 ribu per lembar kain tenun. Itu kita hitung sampai hal yang kecil. Kita hitung juga air yang diminum. Dari situ, baru kita tentukan harga jualnya, supaya kita juga untung,” kata Kartini.

Kartini bersyukur karena Sanggar Tati Nahing juga bekerja sama dengan Pendopo, sebuah merek usaha Kawan Lama Group yang menjadi rumah bagi para UMKM lokal yang berbasis di Jakarta. Para anggota sanggar mendapat pendampingan yang intensif dari Pendopo.

Direktur Utama Pendopo, Tasya Widya Krisnadi mengatakan bahwa usaha pendampingan telah menjangkau lebih dari 90 penenun dari empat kelompok tenun di Kabupaten Sikka. Pendampingan itu telah menghasilkan produk tenun ikat yang dipasarkan lewat Pendopo.

Hasilnya, perekonomian para penenun meningkat hingga 122 persen. Di sisi lain, pihaknya telah menerbitkan sebuah modul berisi panduan standardisasi tenun dan bahan pembelajaran bagi penenun baru.

Diakui Tasya, tenun ikat Sikka merupakan kekayaan budaya yang memendar nilai estetika dan filosofis yang tak ternilai. Wajar saja Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual menerbitkan tenun ikat Sikka sebagai indikasi geografis.

Pendopo, kata Tasya, memiliki tiga fokus utama yakni pengembangan produk, kolaborasi dengan para pengrajin, pemerintah, maupun desainer lokal, lalu memperkenalkannya kepada publik.

“Salah satu wujudnya adalah program pendampingan dan pelatihan di Sikka yang kami lakukan,” kata Tasya.

Adapun materi pendampingan, jelas Tasya, mencakup pelatihan SDM (termasuk regenerasi penenun), penyusunan laporan keuangan, manajemen produksi dan penerimaan pesanan, hingga pembuatan demplot (metode penyuluhan) pewarnaan alam.

Lebih jauh, Pendopo memberikan workshop ekonomi kreatif untuk menggali potensi, menghadirkan inovasi, dan mengeksplorasi produk turunan dari tenun ikat Sikka sesuai dengan selera masa kini.

Langkah yang sama dilakukan Dekranasda NTT dengan terus melakukan upaya pelestarian tenun NTT. Sejauh ini, sekitar 737 motif tenun asal NTT didaftarkan dalam indikasi geografis. Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan, pendaftaran indikasi geografis bertujuan untuk melindungi motif kain tenun NTT dari klaim pihak lain.

Dekranasda NTT pun telah merajut kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat program kewirausahaan khusus untuk tenun. Sekitar 1.000 anak putus sekolah di NTT mengikuti program ini.

“Mereka nantinya akan menjadi wirausaha. Mereka sudah bisa mencari uang dari menenun,” ujar Julie Laiskodat.

Layanan dan Pendampingan Perbankan

Selain pelayanan keuangan biasa, Bank NTT memiliki program khusus yakni membentuk desa binaan di kabupaten/kota di NTT. Program ini bermaksud untuk menggali potensi daerah yang selanjutnya dikelola demi kesejahteraan masyarakat.

Dirut Bank NTT, Harry Alexander Riwu menjelaskan bahwa program desa binaan membantu kelompok masyarakat yang ada di desa untuk mengembangkan potensi secara kreatif. Dengan begitu, ekonomi bertumbuh di desa.

Sejalan dengan itu, Sekundus Wolfhadus Olga selaku Sepervisor Dana Bank NTT Cabang Maumere, bilang bahwa melalui program desa binaan,  Bank NTT ikut mendampingi masyarakat pedesaan, termasuk ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok penenun. Pendampingan dilakukan, baik pelatihan maupun akses permodalan.

TERKINI
BACA JUGA