Memperkenalkan Pangan Lokal Demi Tingkatkan Ketahanan Iklim di Manggarai

Dalam pemaparan materinya, Romo Inosensius Sutam menjelaskan bahwa pangan memiliki posisi yang sangat penting dalam kebudayaan Manggarai.

Ruteng, Ekorantt.com – Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Unika Santu Paulus Ruteng bersama Komunitas Momang Lino dan Local Food Project mengadakan seminar tentang pengenalan pangan lokal untuk meningkatkan ketahanan iklim generasi muda di Unika Santu Paulus Ruteng, Rabu, 26 Februari 2025.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni praktisi budaya Romo Inosensius Sutam, Sekretaris Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Ester Keraru, dan Manajer Program Klub Buku Petra Lolik Apung. Kegiatan ini didukung oleh Yayasan Ayo Indonesia, Yayasan KEHATI, VCA, Biodiversity Warrior, Koalisi Pangan Baik, dan Klub Buku Petra.

Dalam pemaparan materinya, Romo Inosensius Sutam menjelaskan bahwa pangan memiliki posisi yang sangat penting dalam kebudayaan Manggarai.

“Pangan merupakan saudari-saudara yang berkorban dan berkurban untuk kita setiap hari, agar kita hidup, dan agar nafas kita berkanjang (mose mu’u, mose nai, wuli weki),” jelas Pastor Ino.

Menurut dia, berbicara pangan berarti berbicara tentang “ibu bumi (ende wa), bapa langit (ema eta), ase-ka’e wae, buru, api, mata leso, dan lingkungan sekitar kita yang menjadi kuni agu kalo (likang lonto, sapo lako).”

Artinya, pangan menjadi rahim kehidupan yang terus melahirkan. Berkat ibu (ende), bapa (ema), dan keluarga (ase-ka’e), kita dapat membangun benteng pangan (kota mose nai), yang mendatangkan kelimpahan dan kesejahteraan, seperti padi, jagung, sayur, kacang, buah, ubi, dan lainnya.

Hal ini mampu mengatasi kemiskinan, kekurangan gizi, dan membangun lingkungan hidup dan kekuatan fisik, jiwa, dan roh.

“Dengan itu, kita menjadi manusia ideal: sungguh manusiawi, lebih manusiawi, dan mencapai kesempurnaan sebagai manusia,” terangnya.

Namun, menurut Pastor Ino, masyarakat Manggarai mengalami perubahan dan bertransformasi sehingga gambaran tentang pangan dan kesejahteraan hidup juga mengalami perubahan.

Pastor Ino menyebutkan makanan lokal terdiri padi, jagung, lempang pesi (sorgum), sela (jail-jali), hocu. Kemudian ada juga sayur-mayur, ubi-ubian, kacang-kacangan serta daun-daunan.

“Makanan lokal dalam konteks kebudayaan memainkan peran kunci. Karena pangan itu adalah sakral,” tegasnya.

Budaya Manggarai Agrikultur

Pastor Ino menjelaskan, budaya Manggarai tradisional adalah budaya pertanian atau agrikultur yang menjadi kunci bagi seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, agama (ritus-ritus), dan ekologi.

Budaya Manggarai yang bersifat agrikultur itu menempatkan pangan sebagai simbol berkat (religius), kekayaan, status sosial, dan keberlanjutan.

Pastor Ino mengemukakan, krisis iklim disebabkan ulah manusia, antara lain limbah industri dan polusi udara.

“Hal ini mendorong kita untuk berbicara pangan lokal.”

Karena krisis iklim juga disumbangkan oleh pertanian seperti pupuk anorganik, pestisida anorganik yang dihasilkan oleh berbagai mesin pengolahan yang menghasilkan polusi, mesin pengolahan tanah, mesin panen, yang menghasilkan polusi, dan kendaraan transportasi pangan.

Pada umumnya, pangan lokal dekat dengan produsen dan konsumen, sehingga mengurangi polusi kendaraan pengangkut. Juga pengolahan tanah pada umumnya manual mengurangi penggunaan mesin.

“Pangan lokal menggunakan pupuk dan pestisida organik yang tidak membutuhkan sirkulasi transportasi yang jauh dan mesin pengolahan,” terangnya.

“Ini mengurangi polusi,” tambahnya.

Pangan lokal yang sudah diwariskan leluhur mesti terus dipertahankan oleh generasi sekarang. Semua jenis pangan lokal sudah disebutkan dalam doa ritus-ritus pengerjaan kebun yang berpuncak pada ritus penti.

Loda wini woja, pa’u wini latung  (padi, jagung) Renang wini sela, kawo wini tago (jelai, kacang) Weri wini pesi, weras wini lempang (sorgum) Totur wini hocu, kuret wini uté (jewawut, sayur-mayur) Pesek sangged tete (ubi-ubian)

“Namun sekarang benih-benih asli agak susah didapat. Namun syukur, di beberapa tempat masih ada,” katanya.

Pangan lokal yang dipamerkan saat seminar Pengenalan Pangan Lokal untuk Meningkatkan Ketahanan Iklim Generasi Muda (Foto: Adeputra Moses/Ekora NTT)

Peluang Usaha Pangan Lokal

Sementara Ester Keraru menjelaskan, pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha, asalkan didukung oleh sektor-sektor terkait, seperti regulasi pemerintah.

Gerakan diversifikasi pangan dan regulasi lingkungan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan bisnis pangan lokal.

Ester menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan konsumsi pangan lokal.

Hal ini mencakup kesadaran terhadap kesehatan diri, gizi yang seimbang, dampak terhadap lingkungan, serta kearifan lokal yang perlu dilestarikan.

“Kesadaran ini tidak hanya mendukung pola konsumsi yang lebih sehat, tetapi juga berdampak positif pada keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, dengan pesatnya perkembangan media sosial, informasi mengenai pangan lokal dapat disebarluaskan dengan lebih mudah.

Media sosial memungkinkan edukasi kepada masyarakat luas, menjangkau berbagai kalangan dengan cara yang efektif dan efisien.

Ester juga mengungkapkan dampak negatif dari industri pangan terhadap lingkungan. Menurut data dari World Wildlife Fund (WWF) 2020, sektor pangan berkontribusi pada 75 persen deforestasi, 30 persen erosi tanah lapisan atas, serta 24 persen emisi gas rumah kaca.

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa perubahan hutan lindung menjadi kebun singkong mengakibatkan bencana besar, seperti banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya, hilangnya keanekaragaman hayati, serta habitat asli orangutan yang terancam punah. Dampak lain yang signifikan adalah pelepasan 250 ribu ton emisi karbon ke atmosfer.

Laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO) juga menunjukkan bahwa transportasi pangan menyumbang sekitar 6 persen dari total emisi gas rumah kaca.

Makanan yang diimpor dari jarak jauh biasanya membutuhkan transportasi menggunakan kapal, pesawat, atau truk, yang semuanya menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Dengan semua tantangan tersebut, Ester bilang bahwa untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan, perlu adanya kolaborasi antara regulasi pemerintah, kesadaran masyarakat, serta penggunaan teknologi dan media sosial untuk meningkatkan informasi dan edukasi terkait pangan lokal.

Literasi Pangan Lokal

Sedangkan Lolik Apung berkata, makin bergemanya suara atau gerakan tentang pangan lokal bisa dibaca dari dua sisi: pertama, sisi literasi. Hal ini karena pengetahuan dan praktik lokal di bidang pangan kalah oleh narasi modern tentang jenis, metode, produk, dan packaging pangan modern.

“Suara dan gerakan hadir untuk mengampanyekan sekaligus menghidupkan kembali praktik-praktik lokal tersebut,” ucap Lolik.

Kedua, sisi krisis iklim. Krisis iklim, bagi dia, telah memiliki andil makin gaungnya suara dan gerakan pangan lokal. Sebab praktik pangan lokal dari produksi, distribusi, hingga konsumsi mampu mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Minimal emisi yang dihasilkan dari kegiatan distribusi. Kita tidak perlu mengimpor bahan baku sekaligus tidak perlu mengekspor produk dari pangan lokal tersebut,” tandasnya.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Project Officer Yayasan Ayo Indonesia, Eni Setyowati.

Kepada Ekora NTT, Eni menekankan pentingnya edukasi dan promosi pangan lokal yang bersumber dari ladang petani kita. Edukasi dan promosi yang cukup akan membantu masyarakat untuk kembali mengonsumsi pangan lokal, selain beras padi.

Itulah kenapa Ayo Indonesia gencar mempromosikan pangan lokal selama ini, seperti pelatihah menanam pangan lokal sepeti sorgum, kacang tanah, termasuk bagaimana cara memasaknya.

Ayo Indonesia, kata Eni, juga memfasilitasi desa dalam mengembangkan pangan lokal. Di sisi lain, bekerja sama dengan anak muda dalam mempromosikan pangan lokal.

TERKINI
BACA JUGA