Bupati Ngada Minta Perketat Pengawasan Cegah Perdagangan Komodo Riung

Nikolaus menambahkan, rapat itu juga membahas persiapan Festival Riung yang akan digelar pada 11–13 Agustus 2026 di Desa Lekosambi Utara.

Bajawa, Ekorantt.com – Bupati Ngada, Raymundus Bena meminta semua pihak, baik pemerintah maupun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan aparat keamanan, berkolaborasi mencegah praktik perdagangan Komodo Riung dan satwa lainnya.

Menurutnya, Komodo Riung dan sejumlah satwa yang ada di dalam maupun di luar kawasan 17 Pulau Riung merupakan aset konservasi yang tidak ternilai dan wajib dijaga secara baik.

“Keamanan Komodo di Pulau Ontoloe harus menjadi perhatian serius seluruh pihak,” kata Raymundus dalam sambutannya sebagaimana dibacakan Asisten 1 Setda Ngada, Alfian saat membuka kegiatan rapat koordinasi triwulan III forum konservasi Mbou dan spesies lainya di Aula Kantor Desa Lekosambi Utara, Kecamatan Riung, Jumat, 24 Juli 2026.

Alfian menegaskan, dalam melestarikan dan menjaga keberlanjutan Komodo Riung atau dalam bahasa daerah setempat disebut Mbou tentu saja membutuhkan dukungan semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah.

Masyarakat, kata dia, perlu terlibat secara aktif dalam pengawasan demi mencegah praktik penyeludupan Komodo Riung ke daerah lain.

Kepala BBKSDA NTT wilayah 2 Ruteng, Dadang Suryana mengatakan, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni mengarahkan Pulau Ontole menjadi salah satu destinasi konservasi sebagai alternatif kunjungan wisatawan, seiring meningkatnya jumlah wisatawan di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Menurut Dadang, Pulau Ontole mengalami gangguan karena kurangnya satwa yang menjadi sumber pakan spesies purba Komodo. Bila ini terus terjadi, maka akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan Komodo.

Untuk itu, kata dia, perlu ada pemulihan ekosistem bersama-sama agar keseimbangan dan rantai makanan tetap terjaga.

Sementara itu, Ketua Forum Konservasi Mbou dan Spesies Lain, Nikolaus Noywuli berkata, rapat triwulan III tidak hanya membahas keberlangsungan Komodo Riung, tetapi juga mengevaluasi pemantauan terhadap 10 Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan. Mereka berada dalam wilayah kawasan 17 Pulau Riung.

Bersama Project in Flores, Nikolaus memastikan segala kebijakan harus berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Ia mengaku hanya dengan pemberdayaan dan peningkatan ekonomi, masyarakat bisa hidup berdampingan dengan Komodo Riung dan tidak merambah hutan.

Nikolaus menambahkan, rapat itu juga membahas persiapan Festival Riung yang akan digelar pada 11–13 Agustus 2026 di Desa Lekosambi Utara.

Menurutnya, Fertival Riung menjadi momentun memperkenalkan Mbou ke kancah nasional dan mancanegara.

TERKINI
BACA JUGA