ASF Kembali Serang Puluhan Babi di Nagekeo

Hal itu disampaikan lantaran belum ditemukan vaksin atau obat penawar sehingga penting bagi peternak menjaga kebersihan kandang dan kebersihan ternak.

Mbay, Ekorantt.com – Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, NTT Klementina Dawo menanggapi sejumlah wilayah terpapar virus African Swine Fever (ASF) terhadap puluhan ternak babi sejak akhir Februari 2024.

Ia menyatakan berdasarkan hasil investigasi dan pengawasan petugas kesehatan hewan (Keswan) gejala klinis ASF di Kecamatan Boawae terkonfirmasi tiga wilayah yakni Kelurahan Natanage, Natanage Timur, dan Rowa.

Sedangkan di Kecamatan Aesesa, ASF menyerang ternak babi di Lego, separuh wilayah Desa Aeramo.

“Di wilayah Boawae terdapat lima ekor sedangkan wilayah Aesesa sudah puluhan dan masih mencatat. Petugas kami masih melakukan pengawasan dan monitoring,” ujar Klementina yang dikonfirmasi melalui telepon pada Rabu, 3 April 2024.

Petugas keswan, kata Klementina, telah melakukan penyemprotan atau proses desinfeksi di sentra ternak babi terutama wilayah yang populasi ternak babi banyak untuk menekan tidak terjadi penyebaran penyakit secara masif.

“Vaksin ASF belum ada, tapi kita hanya melakukan penyemprotan dan imbauan sanitasi. Di Boawae (Peternak babi) masih aman, tidak ada lagi laporan ASF,” kata dia.

Langkah itu disusul dengan penerapan sistem ngawas oleh pemerintah terhadap proses jual beli hewan babi di Pasar Boawae dan Pasar Mbay.

“Karena kami melihat penyebaran lebih cepat itu melalui pasar,” ucapnya.

“Instruksi sudah disiapkan karena masih menunggu arahan dan tandatangan bupati,” kata Klementina menambahkan.

Sejalan dengan itu, ia mengimbau kepada masyarakat peternak babi agar selalu menerapkan biosecurity karena virus tersebut sangat berbahaya bagi babi.

Hal itu disampaikan lantaran belum ditemukan vaksin atau obat penawar sehingga penting bagi peternak menjaga kebersihan kandang dan kebersihan ternak.

Selain itu, hindari pemberikan makanan sisa daging babi atau produk olahan babi kepada ternak babi yang sehat. Memisahkan babi yang sakit serta mengubur babi yang sudah mati.

“Yang mati dikuburkan. Kami masih menemukan oknum yang nakal membuang bangkai babi sembarangan di parit atau tempat-tempat tertentu. Itulah yang membuat penyebaran (ASF) cepat,” terang dia.

Klementina juga meminta petugas keswan agar terus melakukan pengawasan lalu lintas babi domestik di wilayah perbatasan secara rutin.

TERKINI
BACA JUGA