Maumere, Ekorantt.com – Mia Margaretha Holo, salah satu rekan jurnalis dan warga Boganatar, Desa Kringa, Kecamatan Boganatar bercerita dengan nada panik saat Ekora NTT menghubunginya pada Senin, 07 Juli 2025 siang, sekitar sejam pasca erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Kami menangis tadi. Bingung. Baru dengar dentuman tiga kali, di luar hujan kerikil sudah turun. Warga berlarian ke sana kemari cari keluarga masing-masing untuk menyelamatkan diri,” kata Mia.
Boganatar berdekatan dengan gunung Lewotobi Laki-laki. Jaraknya sekitar 15 kilometer saja. Dengan erupsi setinggi 18 kilometer, sangat mungkin Boganatar menjadi salah satu daerah di Kabupaten Sikka yang lebih dahulu terkena dampaknya.
Cerita Mia, bukan hanya warga Boganatar saja yang panik. Banyak warga Boru, kecamatan Wulanggitang yang sangat dekat dengan gunung tersebut menyelamatkan diri ke Kabupaten Sikka.
“Saya hanya bisa foto sedikit saja. Ada warga kami, juga ada yang lari dari Boru. Tadi di sana sementara pasar juga. Orang-orang lari semua karena panik,” pungkasnya.
Berikut ini foto-foto karya Mia, menampilkan potret warga yang panik di tengah situasi hujan pasir di Boganatar.


















