Maumere, Ekorantt.com – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka melalui Bidang Kesehatan Hewan mengonfirmasi temuan kasus positif rabies pada ternak babi di Desa Wairkoja, Kecamatan Kewapante dan Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Quartus Jenus Keupung mengatakan, terdapat dua kasus positif rabies pada babi ditularkan oleh hewan penular rabies (HPR) seperti anjing.
“Kami temukan positif rabies itu di otak babi setelah digigit anjing rabies. Sebelum mati, babi tersebut menunjukkan perubahan perilaku, menjadi liar dan menggigit pohon di kandang,” kata Jenus kepada Ekora NTT, Jumat, 27 Februari 2026 di ruang kerjanya.
Sementara hewan kucing tertular rabies terdapat di Desa Iligai, Desa Talibura, dan Desa Nele Urung.
Dinas Pertanian mencatat, total otak sampel spesimen HPR yang telah diperiksa sebanyak 505 pada 2025. Sebanyak 68 positif dan 437 negatif.
Kasus rabies terbanyak terdapat di Kecamatan Waigete yakni 10 kasus, disusul Kecamatan Hewokloang sembilan kasus, Kecamatan Nita dan Talibura delapan kasus, Kecamatan Kewapante, Mego dan Doreng lima kasus.
Kecamatan Bola dan Magepanda empat kasus positif, Lela dan Waiblama tiga kasus, Kecamatan Tanawawo dua kasus, Kecamatan Koting dan Nele satu kasus.
Pada 2026 terdapat satu kasus positif rabies di Desa Done, Kecamatan Magepanda. Kasus gigitan HPR Januari 2026, ada 115 kasus, dan Februari terdapat 67 kasus.
Jenus menyebut, stok vaksin anti rabies (VAR) pada 2025 tersisa 10 ribu dosis dari APBN melalui Provinsi NTT. Untuk pengadaan vaksin tahun 2025 sebanyak 12.500 dosis.
Sejak Januari 2026 hingga Februari, sebanyak enam ribu ekor anjing di Kecamatan Waigete, Talibura, Waiblama, dan lainnya telah divaksin.
Tahun 2025, Dintan telah melakukan vaksinasi HPR di Desa Hoder sebanyak 400 ekor, Wairterang 224 ekor, dan Nangatobong 253 ekor.
“Hingga saat ini kegiatan vaksinasi tetap berjalan dari sisa stok vaksin tahun 2025, ” kata Jenus.
Ia menambahkan, populasi anjing di kabupaten Sikka diperkirakan mencapai 30 ribu ekor, dan mengalami penurunan dibandingkan pada 2025 yakni 40.788 ekor.
Penurunan populasi anjing, kata Jenus, terjadi setelah pemerintah melakukan kebijakan eliminasi (pemusnahan) dan dibunuh untuk dikonsumsi.
Sub Koordinator Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Elvrida Carvalo mengklaim, pihaknya telah melakukan sosialisasi, namun respons masyarakat masih rendah.
Hewan peliharaan seperti anjing dibiarkan berkeliaran dan tidak mau divaksin. Ada wilayah yang responsnya bagus dalam penanganan rabies, ujar Elvrida.
“Seperti Desa Watukobu menjadi percontohan karena partisipasi aktif warga dalam mengandangkan dan memvaksinasi hewan peliharaan mereka,” ujar Elvrida.
“Semua harus mendukung dan bekerja sama untuk memutus mata rantai penyebaran rabies,” pungkasnya.












