Larantuka, Ekorantt.com – Kabupaten Flores Timur di Nusa Tenggara Timur selalu menjadi pusat perhatian setiap kali prosesi Semana Santa, tradisi Paskah warisan Portugis. Di sana, ada sejumlah tempat penyelenggaraan prosesi yang usianya sudah berabad-abad.
Selain di Kota Larantuka dan Wureh yang menyedot ribuan kunjungan peziarah, masih ada Desa Konga dan Lewolaga di Kecamatan Titehena yang menjalankan tradisi tersebut. Inti perayaan tetaplah sama, mengenang kisah sengsara Yesus hingga wafat.
Jumat, 3 April 2026 siang, beberapa jam sebelum prosesi malam Jumat Agung, suasana Desa Konga masih lengang. Dari tengah kampung terdengar samar-samar laju sepeda motor peziarah yang beriringan dari barat Pulau Flores ke Kota Larantuka.
Terdapat dua kapela dan dua tori. Umat, termasuk penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki bersiap untuk mengarak Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana keliling Desa Konga yang dimulai dari Gereja Mater Dolorosa saat malam Jumat Agung.
Di sela-sela aktivitas menata armida, terdengar langkah kaki lima bocah. Mereka membawa Mataraka, benda yang dibunyikan saat perarakan patung. Mataraka dan Genda Do sebagai alarm kepada umat dalam peristiwa penyaliban.
Anggota konfreria didominasi pria lansia duduk di sebuah tenda di samping Kapela Tuan Ma. Pada pukul 14.00 Wita, Patung Tuan Ma, arca peninggalan Portugis, ditandu empat pria ke Kapela Tuan Ana kemudian dibawa ke Gereja Mater Dolorosa.
Sepanjang perjalanan diiringi dengan lantunan doa hingga tiba di gereja. Ada haru mendalam kala melihat arca Maria berusia berabad-abad itu. Konfreria bersama rombongan menyusuri jalan setapak sambil menggenggam erat kontas rosario.

Malam harinya, prosesi Jumat Agung dilaksanakan. Ribuan orang hadir, termasuk para penyintas Lewotobi Laki-laki yang tinggal di pengungsian Huntara dan warga-warga dalam wilayah kecamatan.
Desa Konga juga menyimpan jejak historis berupa benda-benda sejarah, seperti dua meriam Portugis di depan Gereja Mater Dolorosa Konga.
Anggota konfreria yang juga Perpetu (Pemegang) Armida Pohon Bunga, Marselinus Lawe Ena, memperlihatkan tiga patung peninggalan Portugis.
Arca sakral itu diperoleh sejak ratusan tahun silam dan dijaga oleh orang tua terdahulu. Terakhir kali almarhum ayahnya, Benediktus Pedo Ena Dacunha.
Dongki, sapaan Marselinus Lawe Ena, kemudian menggelar sejumlah lembar kertas berisi catatan sejarah yang ditulis mendiang kakeknya, Emanuel Cosmas Dacunha.

Secara garis besar, ujar Dongki, prosesi Jumat Agung mulai terbentuk di Desa Konga pada tahun 1.800-an. Prosesi itu satu kesatuan dengan Semana Santa Larantuka. Mereka melaksanakan itu di wilayahnya setelah mendapatkan arca sejarah.
“Saya belum baca sampai tuntas,” ungkapnya saat ditemui Ekora NTT di rumahnya.
Beberapa lembar juga dituliskan lagu-lagu ratapan sehubungan dengan Semana Santa. Menurutnya, Emanuel bisa menulis berkat dididik misionaris barat. Kakeknya juga bertugas sebagai guru agama kepada warga di kampung itu.
Bagi Dongki, prosesi Semana Santa atau Hari Bae Nagi adalah bagian dari ikatan sosial dalam kekatolikan. Hal ini terlihat dari simbol pagar lilin atau “Turo” berbahan alam dari kayu kukung, belahan bambu, dan tali gebang.
Ibarat manusia yang hidup, kukung yang kuat tak bisa berdiri tegak tanpa dipersatukan bilahan bambu yang diikat dengan tali gebang.
“Inilah simbol kehidupan sosial masyarakat,” tuturnya.
Selain itu, pada April 2025, tahun lalu, Desa Konga pernah viral usai warga menemukan 16 granat dan 393 amunisi saat menggali lubang septic tank. Bahan peledak yang masih aktif dan berhasil dimusnahkan itu diduga bekas peninggalan bangsa penjajah ratusan tahun silam.
Dari bentuknya, polisi menyimpulkan bahwa granat dan amunisi itu merupakan peninggalan perang dunia II.
Paul Kabelen













