Ruteng, Ekorantt.com – Sejumlah tenaga kesehatan dan kader posyandu mengikuti pelatihan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) di Aula Efata Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai pada Rabu, 15 April 2026.
Para peserta berasal dari beberapa desa wilayah kerja tugas puskesmas, yakni Puskesmas Anam, Ketang, dan Wae Mbeleng.
Project Officer Yayasan Ayo Indonesia, Eni Setyowati menjelaskan, pelatihan ini bertujuan mendorong kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) agar bertugas secara maksimal.
Kerja sama Ayo Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai sejak 2025, kata dia, sudah mempromosikan tentang program Posyandu ILP. Kader pun wajib memiliki 25 kompetensi dasar.
“Dari jumlah itu harus menguasai 15 siklus hidup, yang di posyandu sebelumnya itu belum ada,” kata Eni.
Eni mengatakan, pihaknya berupaya mencetak kader yang berkualitas melalui berbagai macam pelatihan. “Pelatihan yang kita buat itu 25 kompetensi kader yang kemudian diikuti pelatihan deteksi dini. Sasarannya sebanyak 20 kader posyandu dan 10 orang tenaga kesehatan.”
Ia bilang, kader wajib melakukan deteksi dini terkait tumbuh kembang anak, terutama melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dalam pelaksanaannya nanti, tenaga kesehatan yang menjadi mitra Ayo Indonesia memonitor dan mengevaluasi Posyandu ILP pasca-pelatihan, terutama kontribusi dalam penurunan angka stunting maupun mencegah disabilitas sejak dini.
“Metode pelatihannya kasih materi, kemudian metode simulasi. Jadi tidak hanya omong materi saja tetapi praktik,” kata Eni.
Hal serupa disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto. Kader posyandu dan tenaga kesehatan mesti belajar mendeteksi dini perkembangan anak.
“Misalkan di usia sekian harus sudah bisa tertelungkup. Sehingga itu bisa diantisipasi, sehingga dia tidak jadi problem jangka panjang,” tuturnya.
Selain deteksi dini, kata dia, kader dan tenaga kesehatan juga memberikan edukasi kepada orang tua anak maupun masyarakat umumnya. “Karena kader ini bekerja dengan hati, memang butuh orang yang relakan waktu dan tenaganya untuk melayani orang lain,” ujar Jefrin.
Jefrin meminta orang tua mendukung program ini lewat partisipasi aktif dalam setiap posyandu. “Karena yang ada dengan anak adalah orang tua, maka mereka juga butuh diedukasi bagaimana menstimulasi.”
Angelina Vera Jerubu, salah satu peserta mengatakan, posyandu ILP di wilayah kerja puskesmasnya berjalan secara baik dan penuh tanggung jawab. Demikian juga dengan peran kader yang selalu aktif.
Vera yang juga tenaga kesehatan di Puskesmas Anam itu berkata, pihaknya selalu mendampingi para kadernya setiap kali melakukan posyandu.
“Para kader harus menguasai lima langkah; pendaftaran, penimbangan, pencatatan, penyuluhan, dan pemeriksaan kesehatan,” sebutnya.
Ia berharap, para kader mengimplementasikan materi pelatihan dalam kehidupan sehari-hari.
Robertiana Luju, salah satu kader mengaku mendapat pengetahuan baru lewat pelatihan tersebut. Ia berkomitmen menerapkannya secara baik dalam tugasnya. “Semoga ke depannya lebih semangat lagi untuk terlibat,” tuturnya.













