Bajawa, Ekorantt.com – Udara dingin disertai gerimis mengiringi perjalanan menuju kebun milik petani muda Maria Algonda Sada pada Senin, 1 Juni 2026. Letaknya di Desa Bodosare, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, NTT.
Jalan tani rusak parah harus dilalui demi sampai di kebun yang berjarak sekitar satu kilometer dari jalan Trans Flores itu. Harum cengkih dan buah pala, serta keindahan sawah menambah sensasi perjalanan.
Algonda sendiri saban hari melewati jalan tersebut. Kondisi jalan rusak parah tak menjadi hambatan bagi Algonda untuk ulet bekerja di kebun.
“Setiap hari begini, jam delapan pagi sudah di kebun, beraktivitas seperti biasa, pacul, gembur dan tanam,” ujarnya.
Hamparan tanah yang subur dan udara sejuk menambah semangat alumnus Sekolah Tinggi Flores Bajawa (Stiper FB) tahun 2024 ini untuk bertani.
Algonda mengaku setiap hari ia ditemani ibunya Maria Selviana Eto. Keduanya berbagi peran. Maria membersihkan gulma atau rumput, sementara Algonda fokus menanam sayur, wortel, dan cabai.
“Kalau Mama berhalangan, biasanya bapak yang teman saya, tapi bapak fokus urus ternak babinya di belakang,” tutur Algonda sembari menunjuk ternak milik kedua orangtuanya.
Sambil menanam sayur pakcoy, Algonda menceritakan perjalanan memilih bertani usai tamat kuliah pada tahun 2024 lalu.
Menurutnya, kecintaan pada dunia pertanian sejak belajar pertanian di Kampus Stiper Flores Bajawa. Di kampus ini ia belajar pertanian.
“Empat tahun saya kuliah pertanian, sayang kalau tidak diimplementasi di dunia nyata seperti ini,” kata Algonda.
Sebelum fokus bertani, Algonda mengaku sempat bekerja pada salah satu toko di Kota Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Pekerjaan itu dijalaninya selama sebulan saja.
“Sebenarnya motivasi saya bertani, biar ilmu yang saya belajar tidak hilang,” katanya.
Di atas lahan seluas 30 are, Algonda menanam aneka sayur mulai dari pakcoy, wortel, terung hingga cabai. Ia berkata, “kenapa saya tanam berbagai jenis begini, supaya usia panennya bervariatif, ada yang satu bulan dan tiga bulan, biar cepat dapat uang.”
Alogonda mengaku kebun hortikulturanya tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimia namun menggunakan pupuk organik.
“Karena sayur ini kan pasti dimakan, saya pertimbangan aspek kesehatan, biar aman,” ujarnya.
Memilih fokus pada pertanian organik bukan pekerjaan mudah, apalagi mudah terserang penyakit, kata Algonda.
Ia meracik obat-obatan dari beberapa bahan yang ada di sekitar kebun demi mencegah serangan hama. “Setiap hari harus ada di kebun, cek satu-satu, kalau ada ciri-ciri penyakit, segera ditangani,” jelasnya.
Dari keuletannya, Algonda mengaku bisa meraup keuntungan di atas dua juta rupiah per bulan. Umumnya, pelanggan datang langsung ke kebunnya untuk membeli beragam hortikultura.
Ketua Stiper Flores Bajawa, Nikolaus Noywuli mengatakan, Algonda merupakan salah satu tamatan yang pernah mengikuti magang pertanian modern bersama Arafa Internasional Center Of Agriculture Training (AICAT) selama setahun di Israel.
Menurutnya, Israel menjadi salah satu negara yang berhasil mengubah lahan gersang menjadi pusat produksi buah, paprika dan sayur.
“Wilayah ini terkenal dengan irigasi tetes atau drip irrigation,” kata Nikolaus.
Menurutnya, magang itu dalam rangka mendorong mahasiswa agar bisa mempelajari pertanian modern.
Sebagai pimpinan lembaga, Nikolaus terus mendorong mahasiswa untuk menjadi wirausaha muda dan enterpeneur pertanian.
“Ini sejalan dengan misi kampus yakni menghasilkan sumber daya pertanian yang unggul,” katanya.
Apalagi, lanjut dia, saat ini ada program pemerintah saat ini yang fokus pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ngada, Fabianus Sebastianus Pesek mengatakan, pihaknya terus mendorong agar generasi muda atau kaum milenial bisa bertani dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.
“Kita punya program yang namanya brigade pangan, salah satu kelompok ada di Desa Seso, Kecamatan So’a,” ujarnya.
Dalam program ini, para petani muda diberi sejumlah kemudahan, mulai dari bajak hingga bantuan pompa air.
Fabianus berkata, dukungan teknologi atau alat pertanian sangat penting, di mana banyak petani muda yang mau bertani harus dibantu dengan teknologi pertanian modern.
“Karena petani muda, biasa tidak mau yang kerja terlalu kotor dan banyak keluarkan tenaga, sehingga sentuhan teknologi sangat penting,” katanya.













