Maumere, Ekorantt.com – Ruas jalan simpang Watublapi, Kecamatan Hewokloang menuju Sanggar Budaya Doka Tawa Tana di Kampung Dokar, Desa Uamuta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur sungguh memprihatinkan karena dibiarkan rusak. Akibatnya, pariwisata lokal terancam mati suri.
Ketua Sanggar Budaya Doka Tawa Tana, Cletus Beru mengatakan, akses jalan ini sudah lama dibiarkan rusak dan minim perhatian dari pemerintah, mulai dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Prabowo Subianto.
“Usaha kami gagal karena akses jalan menuju sanggar rusak parah, sehingga berdampak buruk pada perekonomian desa wisata,” kata Cletus kepada Ekora NTT, Minggu, 14 Juni 2026.
Menurutnya, dengan adanya akses jalan yang baik, warisan menenun warga juga akan terus dipertahankan.
“Orang akan malas menenun kalau tidak ada dorongan ekonomi bagi rumah tangga. Sebaliknya dengan adanya banyak tamu yang datang, mereka merasakan dampaknya secara langsung dan bisa menjual kain tenun mereka,” ujar Cletus.
Ia mencontohkan di sejumlah daerah, jalan menuju kandang ternak dibangun dengan baik agar hewan yang diangkut tidak mengalami cedera dan tetap memiliki nilai jual.
Namun, menurut dia, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Sikka, di mana banyak ruas jalan umum yang rusak parah justru dibiarkan tanpa penanganan yang memadai oleh pemerintah.
“Kita sangat malu dengan tamu-tamu kita dari mancanegara. Bahkan ada tamu yang tidak bisa bicara banyak dan hanya mengatakan, ‘Oh kasihan, Mr. Cletus, maaf jalan kamu sangat jelek sekali, terima kasih kami sudah berhasil melewatinya,” kata Cletus, menirukan perkataan wisatawan.
Ia pun mempertanyakan kinerja pemerintah yang terkesan membiarkan akses jalan rusak tersebut. Cletus khawatir akan berdampak buruk jika terjadi sesuatu pada wisatawan asing yang melintas.
“Kita tidak menyalahkan pemerintah, karena kita rakyat jelata. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan pemerintahan sehingga akses jalan menuju Sanggar Doka Tawa Tana dibiarkan rusak parah. Orang asing lewat, loh! jika terjadi apa-apa dengan orang asing itu, bagaimana nanti?” ketus Cletus.
Ia mengatakan, para wisatawan asing datang berkunjung ke Sanggar Doka Tawa Tana mendengar tentang kondisi jalan yang rusak parah. Informasi itu mereka ketahui dari cerita mulut ke mulut.
“Sebenarnya saya sudah tidak lagi menjual destinasi wisata ini, tetapi banyak orang terus berdatangan karena penasaran dengan kekayaan budaya kita dari mulut ke mulut. Padahal akses jalan menuju sanggar rusak parah,” ucap Cletus.
Menurutnya, ruas jalan di Wuradohor, Dusun Wojong, Desa Umauta sering longsor setiap musim hujan tiba, sehingga material batu dan kayu menutup akses jalan ke sanggar.
Ia mengaku bersama warga bergotong royong memperbaiki jalan rusak dengan alat seadanya, tetapi terkendala dengan batu besar.
“Kami pernah meminta bantuan alat berat dari dinas terkait, tetapi kita sendiri yang harus mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan membayar mobil pengawalan alat berat tersebut,” ungkap Cletus.
Kata dia, ruas jalan rusak sudah sering kali disampaikan kepada pemerintah, namun hingga saat ini belum ada perhatian untuk memperbaikinya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera menangani ruas jalan tersebut. Selain akses vital menuju sanggar, jalan ini juga menjadi akses warga menuju kota untuk mengangkut komoditi ke pasar
Ia mengapresiasi manajemen Agen Travel PT Rijamo Flores Tour, Romana Rona dan tim, Elisia Digmadari karena telah membawa ratusan tamu kapal pesiar ke Sanggar Budaya Doka Tawa Tana dan Sanggar Budaya Bliran Sina selama kunjungan mereka.
“Kami mendapat informasi bahwa dalam waktu dekat ini akan ada dua ratus lebih tamu kapal pesiar yang mengunjungi Sanggar Doka Tawa Tana di kampung Dokar dan Sanggar Bliran Sina di kampung Watublapi,” kata Cletus.
Sanggar Budaya Doka Tawa Tana, Desa Umauta ikon yang mengharumkan nama Kabupaten Sikka, sebab menyabet nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) serta meraih penghargaan Community Based Tourism (CBT) terbaik ke lima se-Indonesia.













