Maumere, Ekorantt.com – Tim Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Dewan Juri Wonderful Indonesia Award (WIA) melakukan visitasi ke sanggar budaya Doka Tawa Tana di Kampung Dokar, Desa Umauta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Asisten Deputi Bidang Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kementerian Pariwisata, Ika Kusuma Permana Sari menjelaskan, visitasi dilakukan untuk menilai calon Local Hero in Tourism atau pejuang pariwisata dalam ajang Wonderful Indonesia Award Tahun 2026.
Program ini melewati beberapa tahapan, mulai dari pengajuan oleh Dinas Pariwisata, asosiasi, universitas hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) untuk menjaring pejuang pariwisata di daerahnya.
“Para nomine merupakan figur yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pariwisata serta berdampak positif bagi masyarakat selama minimal tujuh tahun. Setelah menilai 50 besar kandidat, dewan juri kini telah mengerucutkan pilihan menjadi lima calon terbaik, ” jelas Ika.
Ia menerangkan, tahapan visitasi bertujuan untuk mencocokkan dokumen, menilai dampak nyata di tengah masyarakat serta melihat bentuk kolaborasi bersama pemerintah daerah.
Pimpinan Sanggar Doka Tawa Tana, Cletus Beru menyambut baik kedatangan tim Kementerian Pariwisata bersama dewan juri.
“Harapannya hasil visitasi ini membuka jalan bagi program pembinaan jangka panjang agar kesenian dan budaya lokal terus hidup dan menyejahterakan anggota sanggar dan masyarakat,” tuturnya.
Masuk sebagai nominasi dalam ajang Wonderful Indonesia Award, kata Cletus, memotivasi dirinya untuk terus menjaga kelestarian budaya agar dapat diwariskan kepada generasi penerus.
“Keberhasilan masuk lima besar ini bukan prestasi pribadi, melainkan hasil kerja bersama seluruh masyarakat yang selama ini menjadi warisan budaya para leluhur. Saya hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan besar ini,” tutur Kletus.
Dalam kunjungan tersebut, tim Kementerian Pariwisata disuguhi atraksi budaya meliputi, sapaan adat Huler Wair, Tarian Hegong, Tua Reta Lo’u, Ro’a Mu’u, dan musik kampung.
Mereka juga diperlihatkan proses pembuatan tenun ikat, yang meliputi atraksi ikatan motif benang, penggunaan pewarna alami, hingga pameran kerajinan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo mengapresiasi kerja keras Cletus. Bagi dia, hal ini bisa menjadi teladan bagi pelaku wisata lain.
Pegiat Pariwisata, Arkadius Jong menilai pencapaian yang diraih oleh Cletus sebagai bukti nyata kebangkitan wisata berbasis budaya.
Menurutnya, Cletus layak dinobatkan menjadi pejuang pariwisata. Sanggar Doka Tawa Tana konsisten melestarikan tenun ikat khas Sikka, seni tradisi, hingga ritual adat.
Selain itu, sanggar ini juga membuka ruang bagi perempuan penenun lokal untuk meningkatkan taraf hidup melalui pariwisata berkelanjutan. “Kita harus beri apresiasi,” pungkas Arkadius.













