Pelajar Sekolah Vokasi di Sikka Olah Bambu Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

Menurutnya, bambu kerap dianggap sebagai bahan baku nomor dua. Bambu identik dengan kemiskinan. Padahal bambu punya nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi material yang ramah lingkungan bila diolah dengan tepat.

Maumere, Ekorantt.com – Para pelajar SMK Negeri Habibola, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengikuti pelatihan pengolahan bambu menjadi hasil kerajinan tangan yang punya nilai ekonomi tinggi seperti meja, lemari, dan kursi.

Adalah Sebastianus Leo, seorang pelaku usaha pembuatan furniture bambu, yang melatih para pelajar. Melalui kegiatan ini, para pelajar dibimbing untuk merakit kerajinan tangan berbahan baku bambu.

Kepala SMK Negeri Habibola, Angelinus Heni mengatakan, sekolah yang ia pimpin bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari Lingkungan (YBLL) untuk mengadakan pelatihan dalam rangkaian kegiatan bertajuk ‘Bamboo Goes to School’.

Dalam pelatihan, kata Angelinus, pelajar tak sekadar melatih kreativitas, tapi juga memperkuat karakter pelajar berlandaskan kearifan lokal.

“Kami usahakan kegiatan seperti ini masuk dalam jadwal pelajaran mulok kreativitas berbahan dasar bambu. Ini bekal luar biasa bagi mereka setelah tamat sekolah nanti,” ujar Angelinus kepada awak media di Maumere pada Rabu, 29 Juli 2026.

Koordinator Kabupaten YBLL, Yuyun Darti Baetal, mengatakan program ‘Bamboo Goes to School’ dicanangkan untuk karena sangat kontekstual dengan masyarakat lokal. Potensi bambu yang cukup melimpah sayang kalau tidak dikembangkan secara baik.

Menurutnya, bambu kerap dianggap sebagai bahan baku nomor dua. Bambu identik dengan kemiskinan. Padahal bambu punya nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi material yang ramah lingkungan bila diolah dengan tepat.

“Kami ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap bambu,” ujar Yuyun.

Pemilihan SMKN Habibola sebagai lokasi pelatihan karena sekolah vokasi ini punya potensi sumber daya manusia yang mumpuni. Tinggal saja didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Kehadiran Sebastianus Leo sebagai pemandu pelatihan diharapkan menjadi contoh bagi pelajar bahwa potensi di lingkungan sekitar bisa menjadi peluang yang sangat menjanjikan.

Pelatihan pembuatan furniture dari bambu, jelas Yuyun, bertujuan sebagai bekal keterampilan hidup.

“Pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang mandiri, kreatif, dan mampu melihat peluang usaha dari potensi sekitar,” jelasnya.

Yuyun mendorong pelatihan yang sama dilakukan secara kontinu. Ke depan, YBLL akan berkolaborasi dengan pihak sekolah lewat penanaman bibit bambu, pembentukan kebun sekolah, hingga sekolah lapang pembibitan bambu.

“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini para siswa semakin mengenal potensi bambu, mampu memanfaatkannya untuk menjaga lingkungan, sekaligus melihatnya sebagai peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa depan,” tutup Yuyun.

TERKINI
BACA JUGA