Ruteng, Ekorantt.com – Sanggar Wela Songke SMA Katolik Setia Bakti meraih juara 1 tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Dua siswa tampil memukau lewat tari yang bertajuk ‘Rangga Kaba Pande Randang’.
Ketua Sanggar Wela Songke, Maria Floriana Flora Aburman berkata, capaian tersebut bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kompetisi, tetapi menjadi pengakuan terhadap kekayaan budaya Manggarai yang mampu bersaing di tingkat provinsi.
“Bagi Sanggar Wela Songke, ini validasi atas proses panjang menggali dan mengangkat idiom gerak lokal menjadi karya yang bisa dipertandingkan sejajar dengan daerah lain,” katanya kepada Ekora NTT pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, hal ini menjadi bukti bahwa Setia Bakti tidak hanya menjadi rumah akademik, melainkan rumah bagi anak-anak muda untuk berekspresi lewat karya seni dan budaya.
Karya tari yang ditampilkan, kata dia, mengangkat kerbau atau kaba sebagai metafora yang menghubungkan dunia profan dan dunia sakral dalam kehidupan masyarakat Manggarai.
“Vokabuler geraknya bertumpu pada bentuk rangga kaba atau tanduk kerbau yang menjadi mahkota mbaru niang. Lengkung lengan menelusuri kurva tanduk, kepala tegak atau tunduk sebagai simbol kehormatan dan kaki mengakar ke bumi seperti kerbau menapak tanah,” jelas Irna Burman, sapaan akrabnya.
Ia bilang, karya tersebut dibangun dalam lima fase dramatik, dari hening kosmologis hingga puncak prosesi paki kaba, yakni penanaman tanduk di puncak replika mbaru niang.
“Kami menduga dewan juri tertarik karena karya ini tidak hanya menampilkan gerak yang indah, tapi juga menghadirkan narasi ritual secara utuh, lengkap dengan properti otentik yang membuat penonton merasa hadir di dalam ruang sakral itu sendiri, bukan sekadar menyaksikannya dari luar,” ungkapnya.
Melalui karya tersebut, Sanggar Wela Songke ingin menyampaikan sejumlah nilai; penghormatan kepada Mori Kraeng (Tuhan) dan alam semesta yang digambarkan lewat gerak doa pada bagian pembukaan karya.
Kemudian keseimbangan kekuatan dan kelembutan, konflik dan rekonsiliasi, yang profan dan yang sakral, yang selalu hadir berdampingan dalam kosmologi Manggarai.
Lalu nilai pengorbanan dan tanggung jawab, direpresentasikan lewat prosesi paki kaba sebagai penegasan identitas dan keyakinan.
“Kami ingin generasi muda memahami bahwa filosofi ini bukan cerita masa lalu, tapi pedoman hidup yang masih bisa dipegang hari ini.”
Irna mengaku proses ini berjalan cukup panjang, tidak instan. Ada riset budaya yang harus dilakukan lebih dulu sebelum masuk ke ruang latihan.
Ia ingin memastikan setiap gerak, motif, dan properti yang digunakan benar-benar berakar pada tradisi, bukan sekadar tempelan estetika.
“Setelah konsep matang, latihan intensif dilakukan secara rutin, dengan penekanan khusus pada kekuatan fisik dua penari karena karya ini menuntut stamina dan ketahanan tubuh yang tinggi, terutama di fase konflik atau adu tanduk,” katanya.
Irna berpendapat, tantangan terbesar selama proses persiapan adalah menerjemahkan konsep filosofi yang abstrak, dualitas dunia profan dan sakral, menjadi vokabuler gerak yang konkret dan bisa dibaca penonton.
Selain itu, menghadirkan dua properti besar seperti tanduk kerbau dan replika Mbaru Niang di atas panggung kompetisi membutuhkan perhitungan matang soal transisi, keamanan, dan waktu.
“Setiap detik di panggung kompetisi sangat berharga. Koordinasi fisik dua penari untuk membentuk satu kesatuan bayangan tanduk, seperti pada motif Sua Ata Sua Rangga, juga butuh latihan berulang agar terlihat menyatu, bukan sekadar dua tubuh yang bergerak berdampingan,”
Menurutnya, keunggulan Sanggar Wela Songke dibanding peserta dari daerah lain terletak pada kedalaman riset budaya dan keotentikan penyajian.
Selain narasi ritual secara utuh, karya tersebut juga diperkaya dengan iringan musik yang memadukan gendang dan gong Manggarai dengan komposisi kontemporer sehingga menghadirkan karakter musikal yang khas dan mudah ditemukan di daerah lain.
Ia juga mengapresiasi dukungan penuh dari SMAK Setia Bakti, terutama Suster Yuliana Koten, SSpS yang menyediakan ruang latihan, waktu, serta keleluasaan untuk melakukan proses kreatif selama persiapan lomba.
“Saya juga dibantu oleh mantan anak sanggar Wela Songke Karlos Handu Harsa. Dia juga sama-sama dengan kami menggarap ini tarian,” sebut Irna.
Setelah memastikan diri sebagai wakil NTT di tingkat nasional, tim kini mulai melakukan evaluasi terhadap seluruh aspek pertunjukan, mulai dari teknik penari, ketepatan transisi antarbagian, hingga penyempurnaan properti dan kostum.
“Latihan fisik akan ditingkatkan intensitasnya, dan kami juga akan memperdalam riset agar narasi budaya yang disampaikan makin matang, mengingat panggung nasional akan disaksikan oleh juri dan penonton dari latar belakang budaya yang jauh lebih beragam.”
Meski menargetkan hasil terbaik di tingkat nasional, Sanggar Wela Songke menegaskan bahwa misi utama mereka adalah memperkenalkan budaya Manggarai kepada masyarakat Indonesia.
Kepada pemerintah daerah, ia meminta dukungan terhadap pembinaan seni dan budaya di sekolah.
Dukungan tersebut, bukan hanya saat menjelang kompetisi, tapi juga dalam proses pembinaan jangka panjang: penyediaan ruang latihan yang memadai, dukungan riset budaya, dan pendampingan bagi sanggar-sanggar seni yang bekerja sama dengan sekolah.
“Dengan dukungan yang tepat, kami yakin akan lebih banyak karya berbasis kearifan lokal Manggarai yang bisa lahir dan berbicara di panggung yang lebih luas,” pungkasnya.













