Kupang, Ekorantt.com – Gempa bumi yang melanda wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak besar terhadap sarana dan prasarana pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo berkata, bencana tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah.
“Telah menimbulkan dampak yang luar biasa, menimbulkan korban jiwa dan juga kerusakan pada sarana dan prasarana pendidikan,” ujar Ambrosius Kodo di Kupang, Selasa, 18 Agustus 2026.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, sebanyak 512 satuan pendidikan terdampak gempa yang tersebar di tujuh kabupaten.
Jumlah siswa yang terdampak mencapai 94.552 orang. Sementara guru dan tenaga kependidikan yang terdampak sebanyak 8.755 orang, terdiri dari 7.920 guru dan 835 tenaga kependidikan.
Dari sisi kerusakan fasilitas, sebanyak 1.925 ruang kelas mengalami kerusakan. Selain itu, terdapat 166 sekolah yang mengalami rusak berat.
“Jumlah ini sebanyak 34 persen dari sekolah yang terdampak,” jelas Ambrosius.
Gempa juga menyebabkan sebagian warga sekolah harus mengungsi. Tercatat sebanyak 1.077 warga sekolah terdampak dan mengungsi akibat bencana tersebut.
Untuk menjamin keberlangsungan proses pembelajaran, saat ini dibutuhkan 675 ruang kelas darurat yang tersebar pada 167 satuan pendidikan.
Ambrosius mengatakan, Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana telah mendorong dukungan berupa tenda-tenda belajar darurat bagi sekolah-sekolah yang terdampak gempa.
Sementara itu, menyikapi kondisi yang masih diwarnai gempa susulan, pemerintah telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh satuan pendidikan agar kegiatan pembelajaran tidak dilakukan di sekolah maupun ruang kelas yang dinilai belum aman.
“Pembelajaran dapat dilakukan secara daring dengan penugasan-penugasan dan dengan pengawasan ketat dari orangtua,” ungkapnya.
Menurutnya, hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah. Namun, pelaksanaannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi kedaruratan pascagempa.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait sekolah-sekolah yang mengalami kendala jaringan seluler.
“Dinas telah mengirim data sekolah-sekolah terdampak melalui Seknas untuk koordinator di level kementerian untuk segera menjadi atensi dan diperhatikan,” terangnya.
Ambrosius menegaskan, untuk sekolah yang mengalami kerusakan berat, aktivitas belajar mengajar akan dilaksanakan melalui ruang kelas darurat atau secara daring hingga kondisi sekolah dinyatakan aman untuk digunakan kembali.













