Kupang, Ekorantt.com – Posko Tanggap Darurat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menghadapi kendala transportasi dalam pengiriman logistik bantuan ke wilayah terdampak gempa Flores.
Sekretaris BPBD Provinsi NTT, Yohanes Taka Dosi mengatakan, kebutuhan utama saat ini adalah sarana transportasi laut yang mampu mengangkut kendaraan dan alat berat dari Kupang menuju Flores.
“Kebutuhan saat ini kami butuh sarana untuk menggerakkan logistik dari Kupang ke Flores,” ujar Yohanes Taka Dosi di Kupang pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, transportasi yang dibutuhkan berupa kapal yang dapat mengangkut kendaraan roda empat, seperti kapal feri. Hal ini diperlukan untuk mempercepat mobilisasi kendaraan dan peralatan yang dibutuhkan dalam penanganan bencana.
Sementara kapal yang saat ini disiapkan untuk mengangkut bantuan, yakni kapal TNI AL dan kapal milik Bea dan Cukai, tidak diperuntukkan untuk mengangkut kendaraan maupun alat berat.
“Terkendala karena Ferry yang ada jadwal keberangkatan di hari Sabtu. Jadi kalau untuk kendaraan dan alat berat masih menunggu jadwal,” ungkapnya.
Meski menghadapi kendala transportasi, Yohanes mengatakan Posko Tanggap Darurat tetap memfasilitasi seluruh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Posko tersebut menjadi pusat koordinasi pergerakan logistik, peralatan, personel, serta bantuan melalui jalur darat dan laut menuju wilayah terdampak.
“Posko ini juga untuk memfasilitasi pergerakan logistik, peralatan, personil dan pergerakan bantuan logistik melalui jalur darat dan laut,” ujarnya.
Yohanes menjelaskan, bantuan telah mulai dikirim sehari setelah gempa terjadi. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, Pemprov NTT kembali mendistribusikan logistik berupa obat-obatan dan peralatan medis menggunakan pesawat angkut milik TNI Angkatan Udara.
Selain posko utama di Kupang, Pemerintah Provinsi NTT juga memiliki posko pendukung utama di Kabupaten Ende. Posko tersebut menjadi titik distribusi bantuan logistik sebelum disalurkan ke lokasi-lokasi yang terdampak bencana.
Sementara terkait logistik yang masih tertumpuk di Kabupaten Sikka, pemerintah terus melakukan koordinasi agar bantuan tersebut segera dikerahkan ke wilayah yang membutuhkan.
Yohanes menilai penanganan bencana gempa Flores yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pihak swasta, serta berbagai stakeholder sejauh ini telah berjalan secara terkoordinasi.
Untuk memperlancar distribusi logistik sekaligus membuka akses menuju daerah yang terisolasi akibat bencana, Balai Jalan pada Minggu, 16 Agustus 2026 telah mengirimkan sejumlah alat berat.
Selain itu, operator telekomunikasi Telkomsel dan Indosat juga telah mengirimkan genset serta peralatan pendukung untuk mengaktifkan kembali jaringan komunikasi di tujuh kabupaten terdampak gempa.













