Maumere, Ekorantt.com – Keterbatasan tenda darurat membuat aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum terlaksana usai gempa melanda pada Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Proses evakuasi sarana penunjang belajar juga menjadi alasan pembelajaran belum berjalan normal di lokasi Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF-SKB) Maumere.
“Kami baru menerima dua unit tenda darurat bantuan dari Kementerian Sosial,” ujar Kepala SMPN 1 Maumere, Maria Heliana kepada Ekora NTT pada Senin, 31 Agustus 2026.
Maria mengatakan, SKB Maumere telah menyiapkan delapan ruang kelas untuk mendukung operasional sekolah sementara. Tujuh ruang disiapkan sebagai kelas belajar dan satu ruangan difungsikan untuk penyimpanan buku sekaligus tempat pembelajaran agama.
“Pengaturan ruang khusus agama ini sangat penting mengingat siswa kami menganut lima agama yang berbeda, sehingga membutuhkan ruang terpisah pada tiap jam pelajaran agama,” kata Maria.

Gedung Sekolah Rusak
Gempa Flores menyebabkan kerusakan berat pada 40 ruangan di SMP Negeri 1 Maumere. Dari total 40 ruangan yang ada di sekolah, termasuk 20 ruang kelas utama.
Sebanyak 30 tiang penopang dasar mengalami keretakan parah. Lapisan semen pada tiang telah terkelupas hingga memperlihatkan struktur besi di dalamnya. Retakan besar juga ditemukan pada lantai 1 dan lantai 2 gedung sekolah. Kerusakan paling parah terjadi di lantai 2. Lantai ruang perpustakaan mengalami penurunan hingga terasa bergetar ketika dilewati.
Kondisi gedung sekolah seperti itu tak layak untuk aktivitas belajar mengajar yang aman dan nyaman untuk peserta didik. Maria berharap ada perhatian cepat dari pemerintah, minimal penambahan lima tenda terlebih dahulu agar proses evakuasi kegiatan belajar mengajar segera berjalan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko mengatakan, kerusakan bangunan sekolah akibat gempa tidak hanya terjadi di SMP Negeri 1 Maumere.
Dari identifikasi terhadap 70 sekolah, kata Patrisius, sebanyak 24 sekolah mengalami kerusakan total dengan 96 ruang kelas. Kerusakan tersebut membutuhkan penanganan khusus agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Sementara itu, Kemendikdasmen mencatat 1.918 satuan pendidikan terdampak gempa Flores di tujuh kabupaten. Terdapat 665 sekolah rusak berat, dengan 6.927 ruang kelas yang rusak berat.
“Kebutuhan akan Ruang Kelas Darurat (RKD) yang diusulkan oleh 785 sekolah adalah sebanyak 2.908 unit,” demikian dirilis dalam Kemendikdasmen.go.id.
Patrisius bilang pihaknya menyediakan tenda sebagai tempat pembelajaran sementara. Sekolah dengan tingkat kerusakan bangunan di atas 50 persen harus merelokasi aktivitas pembelajarannya ke tempat lain, berdasarkan kesepakatan dengan orangtua siswa dan berkoordinasi dengan Dinas PKO Kabupaten Sikka.
“Kami juga akan meminta kepada semua sekolah untuk melaksanakan pertemuan dengan orangtua murid untuk memahami kondisi ini. Dengan begitu orangtua murid punya satu pemahaman bahwa anaknya bisa belajar dengan nyaman di sekolah,” ujar Patrisius.
Ia mengimbau seluruh satuan pendidikan tidak memaksakan penggunaan bangunan sekolah yang rusak berat mengingat potensi gempa susulan masih ada.
Maria bakal menindaklanjuti imbauan Dinas Pendidikan untuk bertemu orang tua murid, membahas proses pembelajaran setelah gempa. Ia berharap orang tua melihat langsung kondisi riil sekolah sekaligus mempersiapkan mental dan kebutuhan anak-anak untuk menjalani proses belajar mengajar di fasilitas tenda darurat.

Pemulihan Psikologis
Hal berbeda terjadi di SDK Bhaktiyarsa Maumere. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mulai berjalan pada Senin, 31 Agustus 2026, setelah kejadian gempa melanda Flores dua pekan sebelumnya.
Pihak sekolah tidak langsung memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas. Peserta didik mengikuti program trauma healing dan sosialisasi mitigasi bencana. Berbagai kegiatan edukatif yang menyenangkan dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis anak dari rasa trauma. Para siswa terlihat antusias dan menyimak dengan serius materi mengenai langkah-langkah menyelamatkan dan melindungi diri saat terjadi gempa.
Kepala SDK Bhaktiyarsa Maumere, Suster Veronika Sunuina Dawan menegaskan, sekolah memastikan mental dan psikologi peserta didik mesti pulih, sehingga siap mengikuti pembelajaran secara aman dan nyaman sesuai arahan dari Dinas Pendidikan setempat.
Walaupun gempa susulan sudah mulai berkurang, Suster Veronika mengimbau peserta didik agar tetap waspada, tidak keluar dari lingkungan sekolah, dan tetap dalam pengawasan guru.
“Kami menggunakan sistem pake shift (pembagian hari) bukan perbedaan jam. Shift pertama pada Senin, Rabu, dan Jumat. Sementara shift kedua pada Selasa, Kamis, Sabtu selama satu minggu ke depan untuk semua kelas, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6, ” ujar Suster Veronika kepada Ekora NTT pada Senin siang.
“Harapan kami kepada orang tua, meskipun pembelajaran belum maksimal, mohon tetap menjaga anak-anak di rumah agar selalu aman dan nyaman. Kami di sini fokus untuk memulihkan rasa trauma mereka,” tambahnya.













