Maumere, Ekorantt.com – Momen haru terjadi saat universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengukuhkan 708 wisudawan dan wisudawati dalam rapat senat di Aula Nawacita Unipa pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Rektor Unipa Maumere, Jonas K.G.D. Gobang meminta ayah dari Muhammad Rizky Al Khali seorang lulusan sarjana Teknik Informatika untuk naik ke podium dan memindahkan sendiri kuncir toga anaknya.
Rizky sendiri merupakan penyandang disabilitas asal Pariaman, Sumatera Barat.
Raut wajah ayah Rizky terlihat bahagia saat melakukan prosesi tersebut di hadapan rektor, para dekan, serta seluruh lulusan dan tamu undangan yang hadir. Momen tersebut disambut tepuk tangan karena perjuangan seorang ayah yang mengantarkan anaknya hingga menjadi sarjana.
Rizky mengaku bangga dan terharu saat ayahnya diminta langsung oleh Rektor Unipa untuk memindahkan kuncir toga miliknya.
Bagi dia, keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Sebab, menempuh pendidikan di perguruan tinggi merupakan mimpi besarnya.
“Saya memilih untuk kuliah karena bagi kami penyandang disabilitas, pendidikan itu sangat penting. Menempuh pendidikan di perguruan tinggi adalah impian kami yang sangat besar, ” ujar Rizky.
Ia mengungkapkan, motivasi besar kuliah adalah cita-citanya menjadi seorang programer hebat. Rizky juga ingin membangun bangsa lebih maju sekaligus memperjuangkan hak-hak yang sama bagi para disabilitas.
Perjuangannya selama empat tahun tidaklah mudah. Ia sering menghadapi kendala selama di kampus. Tantangan utama faktor transportasi dan harus naik turun tangga, juga faktor kesehatannya.
Di tengah keterbatasan itu, Rizky merasa bersyukur kepada orangtua dan teman-temannya yang selalu mendukung dan setia mendampingi.
“Terima kasih kepada orangtua saya mereka tidak minder punya anak seperti saya dan selalu mendukung saya. Terima kasih juga kepada kakak saya yang sedang sakit, yang selalu memberikan motivasi kepada saya sebagai adik serta teman-teman yang selama ini membantu saya kuliah,” ucap Rizky.
Setelah sukses menyelesaikan kuliah diploma selama empat tahun, Rizky merasa tidak cukup. Ia kemudian ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang strata dua melalui jalur beasiswa LPDP.
Ayah Rizky, Herman Fadrizal mengaku terharu sekaligus bangga saat Rektor Unipa yang meminta dirinya ke podium untuk memindahkan kuncir toga anaknya.
Sebagai orangtua, ia mendukung penuh keinginan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata Dua melalui jalur LPDP.
“Semoga anak saya bisa lulus jalur LPDP bisa lanjut di S2, ” ujarnya.
Rektor Unipa Maumere, Jonas K.G.D. Gobang mengatakan, Unipa menjadi kampus inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh pendidikan, termasuk penyandang disabilitas.
“Di Unipa sudah banyak penyandang disabilitas yang studi di beberapa program studi. Salah satunya Muhammad Rizky di Program Studi Teknik Informatika, ” ujarnya.
Jonas menuturkan, setiap hari kuliah, Rizky selalu diantar oleh orangtuanya menggunakan sepeda motor. Pihaknya pun memberikan kemudahan akses.
“Kami membuka ruang. Mestinya untuk sepeda motor langsung ke are parkiran, tetapi khusus untuk Muhammad Rizky, motor boleh langsung menuju tangga ruang kelas karena fasilitas gedung belum dilengkapi lift dan eskalator, ” jelasnya.
Jonas mengapresiasi rasa kepedulian sesama mahasiswa di kampus. Selama empat tahun masa kuliah, teman-teman kelas selalu kompak bergotong-royong membantunya.
“Selama empat tahun, teman-temannya selalu membantu menggotong Rizky masuk ke ruang kelas yang berada di lantai dua, ” ungkapnya.
Jonas berkata, pihaknya menyadari pentingnya pembenahan infrastruktur di kampus. Hal ini juga selalu menjadi catatan dan masukan dari para asesor dalam setiap proses akreditasi kampus.
“Catatan dari setiap asesor saat akreditasi adalah setiap gedung harus ramah terhadap penyandang disabilitas. Ke depannya kami akan menambah fasilitas ramah disabilitas, termasuk menyiapkan toilet khusus untuk mereka, ” pungkasnya.













