Pesona Musik Kampung dalam Ritus “Lodo Kusang”, Pembebasan Jiwa Orang Mati dari Maumere Timur

Maumere, Ekorantt.com – Bunyi musik gong waning bertalu-talu membahana di pelataran kampung Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.

Para anak muda tampak serius menabuh gendang dan memukul gong, sementara beberapa orang ibu dan bapak menari serius dengan balutan pakaian tradisional.

Mereka rupanya tampil dalam upacara adat Lodo Kusang dari Suku Keytimu di daerah tersebut.

Upacara ini merupakan ritus pembebasan jiwa bagi orang yang telah meninggal dunia.

Dan di dalamnya terdapat serangkaian atraksi, termasuk musik gong waning tadi.

iklan

Anak-anak muda tersebut merupakan bagian dari kelompok musik Tana Bunga Wolomotong.

Jumlah mereka sekitar belasan orang. Namun, tak hanya itu, ketika diperhatikan lebih saksama ke lokasi mereka bermain, ada juga beberapa anak kecil yang memegang alat musik.

Sambil menikmati irama gong waning, Ekora NTT menemui ketua kelompok tersebut, Arnold Buko.

Arnold bercerita bahwa “Tana Bunga” baru berusia empat bulan.

Kelompok ini dibentuk pada 29 Oktober 2018 lalu dan merupakan nama dari sanggar kampung itu sendiri.

“Namun, berhubung sanggar itu masih dalam perencanaan, sehingga kami bentuk dulu kelompok-kelompok kecil, seperti musik etnik ataupun tenun ikat,” terangnya.

Terkait gong waning, Arnold mengatakan, mereka sebenarnya tidak melatih diri secara khusus untuk memainkan alat musik tersebut.

Semuanya terjadi karena kebiasaan saja. Sejak kecil, mereka sudah diperkenalkan dengan alat-alat musik semacam itu sehingga ketika besar semuanya tinggal digembleng saja.

Pengakuan ini juga datang dari Ignasius Santus, seorang pemain gendang.

Kepada Ekora NTT, Ignasius mengaku, waktu kecil anak-anak seperti dia sering memerhatikan orang tua mereka bermain gong waning.

Hal inin memberikan rasa ketertarikan tersendiri. Situasi alam dan geografi Wolomotong turut serta membentuk gaya tubuh dan kekuatan pukulan mereka.

“Saya awalnya main-main saja tetapi akhirnya bisa lincah juga seperti sekarang,” cerita pria yang akrab disapa Santus ini.

Meskipun begitu, Santus masih tetap ingin belajar agar bisa menghibur khalayak yang lebih luas.

Tentang ini, dia pun berharap agar kelompok musik mereka tak hanya tampil untuk acara-acara di kampung saja.

“Semoga kami bisa punya kesempatan untuk tampil di luar kampung atau juga di luar daerah,” timpalnya.

Sementara itu, Kepala Desa Wolomotong, Romanus Rabu, menyatakan dukungan sepenuhnya atas geliat kreativitas anak muda semacam itu.

Bagi dia, anak-anak muda harus punya kepercayaan diri dalam mengembangkan minat dan bakat mereka.

Ini juga masuk dalam aspek promosi khazanah desa.

“Desa ini kaya akan alam dan budaya. Kalau anak-anak muda sudah inisiatif begitu, kita pasti akan dukung,” terangnya.

Sebagai bentuk dukungan dari desa, Romanus katakan bahwa desa telah menyumbang beberapa alat musik kampung dan mereka telah mencanangkan kalenderium untuk kegiatan seni budaya pada bulan Juli 2019.

Nanti yang akan berperan sebagai penyelenggara adalah forum anak desa itu sendiri.

Tapi sudah barang tentu ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa itu sendiri.

“Intinya, kita yang tinggal di pinggiran ini bisa unjuk gigih dan dilihat orang dari luar. Saya yakin pelan-pelan, desa ini bisa jadi destinasi wisata budaya dan alam suatu saat nanti,” beber Romanus optimis.

TERKINI
BACA JUGA