“Yang Terhempas, Yang Terkikis” Pukau Kawula Muda Maumere

Maumere, Ekorantt.com– Pementasan teater “Yang Terhempas, Yang Terkikis” oleh Komunitas KAHE di taman Monumen Tsunami Maumere, Rabu (29/5/2019),memberikan warna tersendiri bagi suasana kota Maumere, Kabupaten Sikka. Taman Monumen Tsunami yang selama ini kelihatan adem ayem saja akhirnya perlahan-lahan dimanfaatkan untuk aktvitas kesenian yang bermakna. Apalagi itu dilakukan oleh anak-anak muda Nian Tana sendiri.

Para penontonnya pun kebanyakan datang dari generasi muda, terutama para pelajar. Mereka tumpah ruah di sekitaran area pusat taman dan memerhatikan dengan sungguh gerak-gerik aktor dan aktris yang tampil. Menariknya, desain suasana panggung yang terbuka dan tidak kaku memberikan keleluasaan kepada penonton untuk bergerak mencari fokus tontonan terbaik.

Ada juga bagian tertentu dari pementasan yang melibatkan partisipasi penonton. Hal ini tampak dalam adegan ajakan untuk pungut sampah di lokasi panggung. Sampah-sampah yang awalnya dipakai sebagai properti lantas dipungut kembali oleh para penonton.

Pantauan EKORA NTT, kawula muda yang hadir dalam pertunjukkan itu pun memberikan respons beragam. Ada yang bingung serentak penasaran sambil melafalkan beberapa pertanyaan-pertanyaan kecil. Ada yang mencoba untuk mencari-cari makna. Ada yang tertawa riang sejak awal pementasan. Ada juga yang ekspresinya sangat serius.

Misalnya, Echa (17), salah satu pelajar SMA di kota Maumere, yang mengaku baru pertama kali menonton teater. Menurutnya, “Yang Terhempas, Yang Terkikis” mampu membuat dia bertanya-tanya dan mencari tahu arti dari setiap adegan terlakonkan. “Saya baru tahu kalau teater ya seperti itu. Meskipun agak kurang paham tapi saya sangat menikmati. Mungkin karena baru pertama kali nonton jadi ya begitu sudah, hehehe,” bebernya.

iklan

Selain Echa, pandangan lainnya datang dari Chois, mahasiswa STFK Ledalero. Bagi Chois, teater dari Komunitas KAHE itu berisikan hal-hal keseharian yang di dalamnya terkandung sejumlah kritik sosial, terutama berkaitan dengan kebijakan pemerintahan kepada masyarakat kecil.
“Seninya dapat, kritiknya juga dapat. Semoga ini bisa menjadi refleksi bersama, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan,” papar dia.

Adapun pementasan teater “Yang Terhempas, Yang Terkikis” berangkat dari refleksi pasca tsunami Flores 1992 dan meneropong secara khusus situasi perkampungan Wuring sebagai salah satu daerah yang kena dampak parah. Namun, situasi tersebut tak hanya dilihat dari aspek fisik semata, tetapi juga menerabas persoalan ekonomi-politik di wilayah pesisir tersebut. Makanya, komunitas KAHE berusaha sedemikian rupa untuk mengangkat fenomena tersebut ke dalam medium seni pertunjukkan. Sehingga para penonton pun diharapkan untuk melihat dan melakukan refleksi atasnya.

TERKINI
BACA JUGA