Susana Naluk, seorang pedagang di Pasar Metina, Lobalain, Rote Ndao.

Ba’a, Ekorantt.com – Suasana di Pasar Metina, Lobalain, Rote Ndao, Kamis (1/8/2019), tampak tak terlalu ramai. Hanya ada segelintir pembeli yang lalu-lalang di situ. Juga sekitar belasan pedagang duduk di lapak-lapak jualan.

Barangkali saat itu adalah siang hari – dengan terik yang sangat menyengat – sehingga orang-orang enggan melakukan kegiatan jual beli.

Meskipun di jalanan umum, aktivitas-aktivitas formal keseharian senantiasa berlangsung. Anak-anak sekolah baru saja pulang; petugas keamanan mengatur kendaraan; pegawai kantor sibuk melintas membawa kepentingannya masing-masing.

Tepat di area depan kompleks pasar, Susana Naluk sedang mengatur beberapa barang yang dia jual. Ada gula air, gula lempeng, sayur-mayur dan beberapa peralatan rumah tangga tradisional. Sesekali mukanya berpeluh, sesekali rambutnya tersibak angin yang sedikit kencang.

“Semakin hari, (pasar) semakin sepi,” tuturnya singkat kepada EKORA NTT.

Toh selama lebih dari sepuluh tahun, Susana – wanita paruh baya itu – mengadu nasib di Pasar Metina. Sehingga sudah barang tentu dia menjadi saksi perubahan, gerak pun decak situasi yang terjadi di tempat jual beli tersebut.

“Dulu, pasar ini ramai. Sekarang orang sudah jualan di banyak tempat,” kisah dia.

Tapi, Susana tetap setia berada di situ. Dia tidak mau pindah. Dia merasa bahwa alur kehidupannya sungguh tak terlepaspisahkan dari Pasar Metina. Mulai dari kematian sang suami hingga berjibaku membesarkan lima orang anak seorang diri.

“Ya, saya gantungkan hidup dengan jualan. Kasi makan anak, urus mereka sekolah.”

“Semuanya sekolah ko Mama?” tanya EKORA NTT.

“Iya, mereka semua sekolah. Orangtua boleh susah, tapi anak harus sekolah.”

Dia juga mengakui bahwa sampai kapan pun, bahkan hingga ajal menjemput, pekerjaannya sebagai pedagang tak akan ditinggalkan. Dia begitu mencintai profesinya.

“Biar usaha kecil begini, yang penting halal. Kita tidak curi. Mau foto, silakan foto,” ungkapnya lagi.

Susana Naluk

Hanya saja, keluhan yang sempat dia ucapkan tadi sungguh tak dapat terelakkan.

Pengunjung pasar yang semakin hari semakin sedikit akibat munculnya “pasar-pasar” kecil di kompleks pertokoan atau mungkin pergeseran aspek konsumerisme masyarakat, menjadi sekelumit masalah yang harus Susana hadapi.

Memang dari cerita singkat Mama Susana Naluk, kita boleh saja belajar tentang makna kesetiaan hidup. Terhadap pekerjaan, kasih sayang keluarga dan sikap menempa diri di tengah kehidupan yang kian kompleks.

Walaupun pada sisi yang sebetulnya lebih penting, sikap menerima nasib sebagai warga negara seyogianya bukanlah urusan nasihat moral atau belajar bersetia atau kata-kata peneguhan sebagaimana yang terlintas dalam ayat-ayat kitab suci.

Di ruang publik, setiap manusia adalah setara dan berhak mendapatkan kebijakan yang berperi kemanusiaan dan berkeadilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here