SMAS Bhaktyarsa Maumere Terima 300 Siswa di Tahun Ajaran Baru

Menurutnya, tantangan terbesar di SMAS Bhaktyarsa Maumere yakni bagaimana mengelola waktu, apalagi karakteristik dari setiap angkatan berbeda-beda.

Maumere, Ekorantt.com – Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Bhaktyarsa Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima 300 siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Penerimaan siswa baru tanpa memberlakukan persyaratan khusus.

Kepala SMAS Bhaktyarsa Maumere, Suster Marcelina Lidi mengatakan, dalam penerimaan siswa baru, sekolahnya menargetkan sebanyak delapan kelas terisi penuh dengan jumlah siswa per kelas maksimal sebanyak 36 orang.

Secara Dapodik, kata dia, maksimal siswa dalam satu kelas adalah 36 orang, dan ruangan kelas yang ada pun mampu menampungnya. Sebab, sejak tiga tahun lalu SMAS Bhaktyarsa Maumere tidak lagi menggunakan meja belajar.


“Sebagai gantinya, kami menggunakan kursi kuliah agar lebih hemat tempat. Sampai hari ini jumlah siswa baru yang mendaftar sudah mencapai lebih dari 300 orang,” ungkap Suster Marcelina saat ditemui pada Senin, 15 Juni 2026.

Ia memaparkan pada tahun 2025 lalu, sekolahnya mengalami peningkatan jumlah siswa yang baru mencapai 100 persen. Bahkan, sebanyak sekitar 60 pendaftar tidak bisa diakomodasi meskipun telah ada penambahan ruangan.

Selain itu, asramanya juga penuh sehingga banyak yang tidak bisa diakomodasi, sebab daya tampung asrama putri untuk SMP dan SMA sebanyak 180 orang saja.

Untuk tahun 2026 ini, Yayasan Santu Gabriel bekerja sama dengan pihak swasta putra asli Sikka Ense da Cunha Solapung membangun asrama putra. Asrama ini dibangun untuk menampung para siswa.

Suster Marcelina mengatakan, pihaknya sedang berupaya membangun ruang kelas tingkat tiga di bagian tengah area sekolah.

“Kami tidak menerapkan sistem pembelajaran shift karena dinilai kurang efektif, terutama untuk mendukung pembelajaran mendalam sesuai kurikulum nasional,” ungkapnya.

Suster Marcelina mengakui sekolahnya tidak mengejar jumlah siswa yang banyak agar bisa mendapat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Menurutnya, tidak ada persyaratan khusus untuk mendaftar di sekolah ini. Pendaftarnya pun lebih banyak berasal dari luar Kabupaten Sikka. Bahkan untuk Kelas XI dan Kelas XII,  sekolahnya menerima siswa pindahan dari sekolah manapun dengan latar belakang karakter berbeda-beda.

Sekolah SMAS Bhaktyarsa merupakan salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Sikka di bawah naungan Yayasan Santu Gabriel ini sejak tahun 2016 menerapkan program pendidikan berbasis Satuan Kredit Semester (SKS) sama seperti di perguruan tinggi sejak tahun 2016.

“Kami sejak tahun 2016 menerapkan pendidikan berbasis SKS sehingga siswa bisa sekolah dua tahun saja langsung tamat,” sebut Suster. Marcelina.

Ia menjelaskan, sekolahnya juga menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015, layanan bimbingan matrikulasi dan inklusi, serta pendampingan karakter.

Selain itu, terdapat program pembelajaran mendalam, pendampingan penulisan artikel karya ilmiah untuk publikasi di book chapter dan jurnal bereputasi nasional maupun internasional, serta program pertukaran pelajar antar sekolah Karya Misi SSpS se- Asia Pasifik

“Kami merupakan sekolah inklusi dan fokus pada pendidikan karakter. Kami tidak boleh menyebut anak difabel sebab dengan menyebutnya maka kita mencap seorang anak itu tidak mampu, sehingga kami menyebutkan anak-anak unik,” ujar Suster Marcelina.

Ia memaparkan bahwa saat ini jumlah siswa di Kelas XI sebanyak 257 orang, sementara untuk Kelas XII jumlah siswanya tidak sampai 200 orang.

“Kita menerapkan home visit sehingga anak, meski jauh dari orang tua, dia akan merasa ada orang tua asuh yang memantaunya. Sejak tahun 2016, seminggu sekali guru-guru juga mengikuti kelas guru kerana di mata saya tidak ada guru yang hebat dan tidak hebat,” sebut Suster Marcelina.

Ia bersyukur kepercayaan masyarakat terhadap sekolah meningkat karena siswa terlayani dengan baik. Di SMAS Bhkatyarsa Maumere, siswa dan orang tua diposisikan sebagai pelanggan, sehingga mereka wajib diperlakukan dengan baik.

Suster Marcelina berharap dapat terus melayani siswa secara berkualitas. Layanan didorong oleh rasa untuk terus berinovasi. Diharapkan pula bisa memberikan layanan bermutu.

“Tahun ajaran baru, kami akan menerapkan pembelajaran bilingual bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Selama ini, kami sudah menerapkan misa bahasa inggris setiap hari Jumat dan saat ini pun para guru sedang mengikuti les bahasa inggris, ” ujarnya.

Suster Marcelina mengatakan, jumlah tenaga pendidik di SMAS Bhaktyarsa Maumere sekitar 50 orang, dan terdapat 12 orang guru berstatus ASN.  Namun, pihaknya tidak membedakan status guru “apakah ASN atau guru dari yayasan karena semua statusnya sama.”

Menurutnya, tantangan terbesar di SMAS Bhaktyarsa Maumere yakni bagaimana mengelola waktu, apalagi karakteristik dari setiap angkatan berbeda-beda. Sebab itu, perlu pengorbanan waktu dan energi untuk mengatasinya.

Tantangan justru muncul ketika kita mengalami keberhasilan. Tantangannya adalah bagaimana agar tetap konsisten, katanya.

“Kami harus bersyukur atas keberhasilan itu, tetapi tidak boleh sombong atau berpuas diri,” pungkas Suster Marcelina.

TERKINI
BACA JUGA