Badung, Ekorantt.com – Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali menanamkan tujuh karakter utama sebagai dasar pendidikan dan pelayanan.
Ketujuhnya yakni; integritas, percaya diri, kepemimpinan yang melayani, keberagaman, kewirausahaan, profesionalitas, dan wawasan global.
Ketua Yayasan Dhyana Pura, Made Nyandra berkata, nilai-nilai tersebut terus diperkuat melalui berbagai renungan dan pembinaan yang diberikan para pendeta, sehingga dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Menurut Nyandra, proses belajar dan bekerja tidak semata-mata menjadi kewajiban akademik dan administratif, tetapi juga bagian dari pelayanan yang harus memberi manfaat bagi sesama.
Di tengah tuntutan dunia pendidikan tinggi yang terus berkembang, Undhira Bali tetap konsisten merawat kehidupan spiritual warganya melalui tradisi Ibadah Rabuan.
Kegiatan yang digelar setiap hari Rabu ini telah menjadi bagian penting dari budaya kampus dan menjadi sarana memperkuat nilai-nilai Kristiani yang menjadi fondasi Undhira.
Setiap pekan, seluruh civitas akademika, mulai dari jajaran yayasan, rektorat, dosen, tenaga kependidikan hingga perwakilan mahasiswa, menghentikan sejenak rutinitas formal untuk berkumpul dalam ibadah bersama di bawah naungan Yayasan Dhyana Pura (YDP).
Nyandra mengatakan, ibadah akan diselenggarakan pada 24 Juni dipimpin langsung oleh Bishop Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB).
Ia menjelaskan, tradisi ini merupakan upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan tanggung jawab pekerjaan melalui prinsip Ora et Labora atau berdoa dan bekerja.
Menurutnya, pertengahan minggu menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan mengisi kembali energi rohani agar seluruh penghuni kampus tetap memiliki semangat pelayanan dan integritas dalam menjalankan tugas masing-masing.
“Rabu pagi hingga siang itu waktu yang paling tepat untuk berhenti sejenak. Kami memperkuat spiritualitas melalui ibadah Rabuan yang juga kami padukan dengan kegiatan refleksi, pendidikan karakter, seminar dan agenda lainnya,” kata Nyandra, Selasa, 23 Juni 2026.
Ibadah Rabuan tidak hanya menjadi sarana pembinaan rohani. Momentum tersebut juga dimanfaatkan oleh manajemen yayasan dan rektorat untuk menyampaikan evaluasi, refleksi, serta berbagai rencana strategis kampus. Melalui forum itu, seluruh unsur kampus diajak bergerak dalam satu visi yang sama demi kemajuan institusi.
Meski berakar pada tradisi Kristiani karena didirikan oleh GKPB, suasana Ibadah Rabuan tetap menjunjung tinggi nilai inklusivitas. Kehadiran mahasiswa dan tenaga kependidikan dari berbagai latar belakang agama dan budaya menjadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk membangun sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Suasana kekeluargaan begitu terasa di Aula Gedung E Undhira saat ibadah berlangsung. Sekat jabatan dan birokrasi seolah melebur. Rektor, dekan, dosen, pegawai, hingga mahasiswa duduk bersama sebagai satu keluarga besar yang dipersatukan oleh semangat kebersamaan dan pelayanan.
Kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan Undhira Bali dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan produktif.
Nyandra meyakini bahwa keberhasilan mencetak sumber daya manusia unggul tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh karakter dan spiritualitas yang kuat.
Melalui tradisi Ibadah Rabuan, Undhira menegaskan komitmennya untuk terus membangun kampus yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual, sehingga setiap pencapaian yang diraih selalu berakar pada rasa syukur dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.













