Para pelaku ekonomi kreatif di Ngada sedang berdiskusi tentang tumbuh kembang ekonomi kreatif di Ngada. BELMINRADHO/EKORANTT

Bajawa, Ekorantt.com – Sejumlah pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) berskala kecil pada Sabtu (23/1/2019) berdiskusi di Cafe Maidia, Bajawa, Ngada. Mereka memanfaatkan waktu luang  liburan akhir pekan untuk berdikusi tentang tumbuh kembang Ekraf di Kabupaten Ngada. Hadir dalam kesempatan itu Andreas Goru, Emanuel Djomba, Kety Siba, Jeje Daga, Ayu Nau, Merlyn Idju dan Modesta dari Kominfo, dan Kepala Desa Ngabheo, Kecamatan Soa, Edy Wago.

Andreas Goru bercerita tentang program ekonomi digital dan cara membangun platform digital berbasis website.

Kety Siba, lulusan terbaik jurusan komunikasi di Unika Kupang tahun 2019 membagikan pengalamannya mengelola homestay dan cafe di Kawasan Wisata Air Panas Mengeruda. Letaknya tak jauh dari Bandar Udara Ture Lelo, Soa, Ngada.

Jeje Daga dalam empat tahun terakhir menekuni usaha kecil Jejey HandmadeGypsy Style ala Bajawa, cafe, dan homestay di kawasan Tanalodu Bajawa.

Jurnalis dari Rumah Literasi Cermat Ngada Emanuel Djomba sudah mulai merintis kegiatan Ekraf dalam enam bulan terakhir. Dia sudah menghasilkan produk handmade seperti anyaman tradisional dari bambu dalam berbagai bentuk, produksi madu hutan asli, kerajinan berbasis limbah kertas. Beliau juga menjual produk sabun kesehatan lokal, minyak gosok, minyak rambut, dan obat tradisional berbasis lokal lainnya. Emanuel memulai kegiatan ini dengan mendampingi para pengrajin lokal dalam kelompok Ekraf. Tujuannya adalah memberdayakan potensi lokal, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam setempat.

Kepala Desa Ngabheo Edy Wago mengaku baru mengikuti diskusi forum Ekraf akhir pekan ini. Dia merasa momentum ini sangat tepat bagi desa yang dipimpinnya untuk mengangkat potensi lokal desa melalui media digital untuk menumbuhkan ekonomi kreatif.

Jalannya diskusi berlangsung baik. Pada kesempatan pertama, Andreas Goru menceritakan program ekonomi digital dan pembangunan platform digital berbasis website. Selanjutnya, para peserta berlati membuat website praktis dan murah. Setelah itu, setiap peserta diberi kesempatan membagikan pengalamannya memasarkan produk.

Diskusi ini melibatkan para pemula di bidang Ekraf. Dalam diskusi, Jeje Daga, Kety Siba, dan Emanuel Djomba mengaku masih mengalami kendala dalam memasarkan produk sehingga bisa dikenal pasar secara lebih luas. Bagi tiga pelaku Ekraf ini, media website dapat menjadi sarana menjual produk Ekraf lokal hingga tembus ke pasar global. Itulah alasannya mereka meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan pembuatan website ini.

Ayu Nau mengusulkan, forum Ekraf Ngada menjadi wadah pertemuan bersama para pelaku Ekraf. Dari wadah yang kecil ini, komunikasi dan sinergisitas membangun Ekraf di Kabupaten Ngada pada khususnya dan Flores pada umumnya bisa dilaksanakan. Gagasan Ayu diamini Merlyn, Modes, Edy, dan pelaku Ekraf lainnya.

Para peserta umumnya menyadari bahwa meski memiliki keterbatasan finansial, yang paling penting adalah semangat untuk mulai memanfaatkan potensi lokal dan potensi diri. Jika kesadaran kewirausahaan para pelaku Ekraf tumbuh dan mulai berjejaring satu sama lain, maka hal itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Ngada ke depan.

“Selama ini, sebenarnya, banyak orang sudah bergerak. Hanya masih bergerak sendiri-sendiri dan bermain di ruang tertutup. Maka, kita perlu wadah dan mulai berjejaring,” katanya.

Sementara itu, Ayu Nau melihat bahwa di Ngada terdapat banyak sekali komunitas Ekraf yang sudah mulai bertumbuh. Akana tetapi, mereka berjalan sendiri-sendiri.

“Jadi, kita sebenarnya perlu wadah bersama, bersinergi, dan berjejaring. Kalau potensi-potensi komunitas ini diperkuat dengan jaringan akan mendorong percepatan tumbuh kembang Ekraf di Ngada,” papar Ayu.

Andreas Goru, Sang Fasilitator Kegiatan mengatakan, sebenarnya, sasaran kegiatan ini  awalnya ditujukan untuk melatih para operator desa mengembangkan website di desa. Tujuannya adalah agar para operator desa memiliki keterampilan memmbuat dan mengelola website desa. Hal itu dilakukan untuk menyambut program desa digital yang kini didengung-dengungkan pemerintah. Website desa diharapkan dapat mengangkat potensi desa ke pasar yang lebih luas.

“Tetapi, setelah coba kami sosialisasikan, ternyata lebih banyak disambut oleh para pelaku ekonomi kreatif berskala kecil dari pada para operator desa. Pelatihan menjadi jawaban atas kebutuhan mereka dalam mempromosikan produk lokal ke dunia luar dengan biaya yang murah,” ungkapnya.

Di penghujung diskusi, forum mendaulat Kety Siba menjadi Koordinator Forum Ekraf Ngada.

Belmin Radho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here