Minggu, 5 Juli 2020

Isaac Newton dan Hikmah ‘Belajar dari Rumah’

- Advertisement -

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK. M. Pd*

Sejak bulan Maret hingga kini, wabah Covid-19 belum juga ada tanda-tanda akan berakhir. Mau tidak mau, suka atau tidak, kita terpaksa masuk dalam masa yang belakangan lumrah diucapkan sebagai new normal. New normal merupakan pola hidup baru yang berbeda dari sebelumnya, dan kalau boleh penulis sebut sebagai habitus baru.

New normal itu sendiri mengacu pada penyesuaian atau perubahan perilaku dalam beraktivitas. Perubahan perilaku itu berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Protokol kesehatan memuat sejumlah imbauan seperti jaga jarak/hindari kerumunan, pakai masker, dan jalani pola hidup sehat dengan mencuci tangan.

New normal berlaku juga dalam dunia pendidikan. Untuk konteks Indonesia, penerapan new normal butuh pertimbangan matang dan tidak boleh menjadi kebijakan yang tergesa-gesa. Mengapa? Selain rendahnya kesadaran, kurva Covid-19 belum menunjukkan gejala yang positif.

Dengan alasan di atas, pilihan belajar dari rumah masih jadi salah satu pilihan yang rasional. Metode belajar dari rumah, baik dengan online maupun dengan tatap muka, memiliki esensi yang sama. Apakah itu belajar Daring (dalam jaringan) atau belajar Luring (Luar Jaringan), tetap punya roh yang sama yakni belajar.

Yang namanya belajar tidak mengenal waktu, tempat, yang berarti kapan saja dan di mana saja dan bahkan bersama siapa saja. Belajar bisa dari buku, dari internet, dari guru, dari orang tua, dari makhluk hidup, dari alam lingkungan sekitar, dan dari pengalaman. Apapun situasinya, tentu tidak akan menghalangi si pembelajar untuk belajar.

Belajar Dari Isaac Newton

Wabah Yersinia Pestis melanda Eropa pada tahun 1665 hingga tahun 1666. Aktivitas lumpuh total. Sekolah dan kampus tutup. Para pelajar tak bisa keluar rumah. Mereka hanya bisa ‘belajar dari rumah’. Tak terbayangkan oleh generasi sekarang, seperti apa model belajar dari rumah zaman itu. Tidak ada jaringan internet, handphone, dan fitur teknologi lainnya seperti sekarang.

Adalah sosok Isaac Newton, melihat ‘belajar dari rumah’ bukan sebagai halangan. Malah sebaliknya, ia semakin punya banyak waktu untuk menerapkan discovery learning. Ia berlanglang buana, menemukan hal-hal baru. Berada dari rumah tidak membuat dirinya malas tapi justeru membuat dia menemukan banyak inspirasi.

Ada sebuah pengalaman menarik yang dialami Isaac Newton. Ia biasa duduk di bawah sebuah pohon apel di depan rumahnya. Saat buah apel jatuh, ia bertanya-tanya: kira-kira mengapa buah apel jatuh ke bumi?

Bermula dari pengalaman sederhana ini ia berhasil mengembangkan teori gravitasi. Bahwa kekuatan gravitasi tidak terbatas pada jarak tertentu dari bumi saja, tetapi bisa meluas jadi lebih jauh. Jadi, gaya gravitasi ini jugalah, yang membuat sebuah apel bisa jatuh dari pohon ke tanah. Atau dengan singkat teori gravitasi menyatakan bahwa setiap benda di bumi akan jatuh ke bawah.

Teori ini kemudian diakui dunia hingga sekarang. Teori gravitasi juga membuat Isaac Newton dikenal sebagai ilmuwan dunia.

Wabah Yersinia Pestis dan apa yang dialami oleh Isaac Newton mirip dengan apa yang dialami peserta didik saat ini di tengah meluasnya wabah corona. Para peserta didik terpaksa harus ‘belajar dari rumah’. Tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Sama seperti pengalaman Isaac Newton, peserta didik harus memahami makna belajar. Belajar merupakan kegiatan mencari ilmu dan pengetahuan. Aktivitas belajar tak mengenal waktu dan tempat, kapan saja, di mana saja dengan siapa saja dan dalam situasi apa saja. Artinya, ketika wabah corona melanda, peserta didik tak perlu putus asa. Jangan sampai wabah corona membuat peserta didik malas untuk belajar, malas untuk berkreasi, malas untuk berpikir, atau berhenti untuk belajar.

Pesannya adalah bahwa Isaac Newton menemukan teori gravitasi bukan pada saat ia berada di laboratorium di kampusnya, melainkan justeru di laboratorium alam di rumahnya, saat ia dirumahkan akibat wabah besar Yersinia Pestis di London Inggris.

Dalam arti yang lebih luas belajar adalah aktivitas seumur hidup, bukan saja di sekolah dan kampus. Pemahaman seperti ini diakomodir dalam konsep ‘merdeka belajar’ sebagaimana yang digagas Mendikbud.

Salah satu intisari gagasan “merdeka belajar” yakni dari peserta didik yang pasif menuju peserta didik yang aktif. Sistem pembelajaran yang awalnya cenderung di dalam kelas berubah menjadi sistem pembelajaran yang bisa dilakukan juga di luar kelas. Hal ini akan memantik peserta didik untuk mencari dan mendalami sesuatu secara mandiri dan kreatif.

Akhirnya, seperti Isaac Newton menemukan teori gravitasi saat belajar dari rumah di tengah wabah Yersinia Pestis, peserta didik sekarang juga harus punya semangat yang sama. Teruslah belajar dalam kondisi apapun. Dan jadilah Isaac Newton masa kini.

* Kepala Sekolah SMPK Frateran Ndao-Ende

TERKINI

‘Detusoko Rest Area’ Siap Jadi Tempat ‘Display’ Produk Wisata Desa

Ende, Ekorantt.com – Taman Nasional (TN) Kelimutu mendukung potensi agrowisata Detusoko sebagai salah satu desa penyangga Kelimutu. Kali ini, dukungan itu ditunjukkan lewat pembangunan...

Hidupkan Geliat Ekonomi, Desa-Desa Wisata Diminta Kembali Dibuka

Jakarta, Ekorantt.com – Demi menghidupkan kembali geliat ekonomi di desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar meminta desa-desa...

Miliki Laboratorium TCM, RSUD Tc Hillers Maumere Prioritaskan ODP dan PDP

Maumere, Ekorantt.com - Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo didampingi Wakil Bupati, Romanus Woga meresmikan laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) di Rumah Sakit Umum Daerah...

Sebut Flores Bukan Wilayah Karts yang Dilindungi, Bupati Agas: Entah itu benar atau tidak, saya bukan ahli geologi

Borong, Ekorantt.com - Dalam dialog dengan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menolak pabrik semen dan tambang batu gamping di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba...

BACA JUGA

Johnny Plate Minta Masyarakat Manfaatkan Internet Desa untuk Kegiatan Produktif

Larantuka, Ekorantt.com - Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Republik Indonesia, Johnny G. Plate meminta masyarakat desa agar memanfaatkan akses internet untuk kegiatan produktif. Hal...

Jumlah Pemilih di Kabupaten Ende Mencapai 170.183 Orang

Ende, Ekorantt.com – Jumlah pemilih di Kabupaten Ende mencapai angka 170.183 orang. Hal ini dikemukakan Ketua KPU Ende, Adolorata Maria Da Lopez Bi dalam...

Miliki Laboratorium TCM, RSUD Tc Hillers Maumere Prioritaskan ODP dan PDP

Maumere, Ekorantt.com - Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo didampingi Wakil Bupati, Romanus Woga meresmikan laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) di Rumah Sakit Umum Daerah...

Hidupkan Geliat Ekonomi, Desa-Desa Wisata Diminta Kembali Dibuka

Jakarta, Ekorantt.com – Demi menghidupkan kembali geliat ekonomi di desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar meminta desa-desa...

Demo di Matim, Bupati Harus Cabut Izin Lokasi Pabrik Semen

Borong, Ekorantt.com - Aliansi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai menggelar aksi demonstrasi di...

Berebut Kursi Wabup Ende, PKB: Terlalu Dini Kita Bicara Nama Figur

Ende, Ekorantt.com - Tensi politik di Kabupaten Ende kembali memanas. Mengisi kekosongan kursi Wakil Bupati Ende, tujuh partai koalisi pendukung paket Marsel-Djafar belum menemukan...

Hari Bhayangkara Ke-74 di Sikka, Dari Baksos Hingga Penerbitan SIM Gratis

Maumere, Ekorantt.com - Menyambut Hari Bhayangkara ke-74 pada 1 Juli 2020, Polres Sikka telah menggelar serangkaian kegiatan Bakti Sosial (Baksos), diantaranya; donor darah, ziarah...

Demo Mahasiswa Tolak Tambang di Matim, Begini Tanggapan Bupati Agas

Ruteng, Ekorantt.com - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng dan GMNI Cabang Manggarai menggelar aksi demonstrasi di Kantor Bupati Manggarai Timur, Kamis...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here