Selamat Jalan Suster Eusthochia SSpS

Oleh: Dominggus Elcid Li

Dalam banyak hal Gereja Katolik identik dengan elemen patriarkat. Di dalam stereotip semacam itu lah Suster Eusthochia telah tumbuh menjadi batu marmer di dalam gereja maupun masyarakat untuk melindungi kaumnya yang teraniaya dan menderita. Tembok biara adalah tempat perlindungan terbaik yang Ia dan komunitasnya berikan selama sekian dekade.

Namanya harum hingga jauh. Menyebut namanya, seolah sudah menjadi garansi integritas bahwa korban akan dilindungi dan hak mereka akan dipenuhi.

Jika pemerintah, aparat keamanan, bahkan pengadilan menjadi tempat permainan, maka pada Suster Eusthochia dan komunitasnya kata tetap lah kata yang didaraskan dalam doa untuk turut melepaskan beban yang menderita. Kata bukan untuk dipermainkan tetapi untuk dijalani dengan semua konsekuensi.

Jika mampir ke biara, pertanyaannya singkat dan padat. Instrumen verifikasinya sederhana. Jika sudah dirasa cukup ia behenti dan katakan ‘baik’.

iklan

Setelah itu semua seolah sudah siap dijalani, seperti doa yang ia biasa daraskan: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Hampir dua dekade, sejak pulang kampung, nama Suster Eusthochia adalah nama yang tidak lepas dari jejaring para perempuan tangguh di Timur. Mereka bekerja, mereka berdaya, dan mereka hadir menolong kaumnya.

Ibarat bulir-bulir Rosario, Suster Eusthochia adalah titik perhentian peristiwa. Mengenangnya membuat kita merenung. Dalam sekian ketidaksempurnaan perjalanan manusia, manusia yang berdosa dan lemah pula yang berdiri membantu mereka yang lemah dan tak berdaya.

Dalam tubuh yang menua, tidak pernah ia merasa tua untuk bersuara. Turun ke jalan sekali pun tetap ia lakukan untuk mengingatkan mereka yang lupa pada kenyataan.

Selamat jalan Suster Eusthochia, berdoa dengan mata terbuka tidak bisa dilakukan oleh semua orang, tetapi Suster adalah satu dari sedikit yang mampu itu. Epang gawang!

Kupang, 8 November 2021

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA