Larantuka, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengimbau warga di zona rawan maupun di luar zona rawan Gunung Lewotobi Laki-laki tetap waspada terhadap banjir lahar dingin.
Pasalnya, material vulkanik berupa pasir dan bebatuan kerikil yang ada di puncak Gunung Api Lewotobi Laki-laki saat ini telah mencapai 3 juta ton kubik atau setara dengan ketebalan mencapai 1,5 meter lebih.
Sekretaris Daerah (Sekda) Flotim, Petrus Pedo Maran, dalam rapat prognosis pemerintah dan DPRD Flotim pada Senin, 8 September 2025 di Kantor Bale Gelekat Lewotana mengatakan bahwa setiap curah hujan yang terjadi wilayah Lewotobi dan sekitarnya berpotensi terjadinya banjir lahar dingin.
“Masyarakat yang berada di zona rawan maupun masyarakat yang ada di pesisir selatan di Kecamatan Ilebura, diminta sebaiknya untuk waspada terhadap bahaya banjir lahar dingin dari Lewotobi,” kata Petrus.
Petrus menjelaskan hasil riset yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dilakukan pada Juli 2025 mengungkapkan bahwa terdapat 3 juta ton kubik lebih abu vulkanik yang berada di atas puncak yang sifatnya seperti semen yang mana jika terjadi hujan akan melelehkan abu vulkanik dan menimbulkan banjir lahar dingin.
“Nah, terkait dengan kondisi ini, kami sudah mengirimkan imbauan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi hujan pada malam hari,” ungkap Petrus.
Saat ini, pemerintah melalui PVMBG akan memasang beberapa peralatan canggih berupa alarm peringatan dini atau alat pendeteksi banjir dan erupsi di sekitar Lewotobi.
“Ada 13 titik peringatan dini untuk banjir dan gunung saat ini sudah disurvei. Namun saat ini sedang menunggu peralatan yang dikirimkan dari BVMG untuk dilakukan pemasangan. Semua titik itu sudah disurvei dan sudah ditentukan semua,” kata Petrus.
“Memang untuk banjir ini tidak ada pilihan lain untuk mengimbau masyarakat untuk keluar dari daerah Kawasan Rawan Bencana (KRB),” tambah dia.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Flotim, Fredy Moat Aeng, menjelaskan bahwa ancaman terhadap banjir lahar dingin tidak saja terjadi pada KRB namun juga di wilayah pesisir Kecamatan Ilebura.
“Desa Nawokote, Dulipali, Klatanlou, Wolorona, Nurabelen, Nobo. Semuanya bakal kena kalau ada terjadi hujan. Yang bebas sedikit itu Desa Riangrita karena masih tertahan dengan Gunung Lewotobi Perempuan,” jelas Fredy.
Sebab itu, Fredy mengimbau warga desa yang berada di pesisir Kecamatan Ilebura agar waspada dan keluar dari wilayahnya jika terjadi hujan lebat.
“Jika cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda mau hujan, diimbau untuk segera meninggalkan kampung,” ungkap Moat Aeng.
Tempatkan Alat Berat
Petrus Pedo Maran, Sekda Flotim, mengatakan sepanjang terjadinya hujan beberapa hari terakhir di wilayah Lewotobi telah menyebabkan putusnya jalur transportasi darat di wilayah pesisir Kecamatan Ilebura.
Putusnya transportasi darat disebabkan oleh material vulkanik yang terbawa banjir lahar dingin menutupi tiga titik jembatan yang berada di sekitar wilayah Desa Nurabelen dan Nawokote.
“Pilihan langkah daruratnya yaitu kita standby alat di sekitar jalur putus itu supaya setiap kali terjadinya banjir atau pasca hujan kita akan lakukan pembersihan atau normalisasi jalur jalan itu,” kata Petrus.
Sementara untuk jangka panjang, Petrus menjelaskan perlu pembangunan jembatan baru dengan konstruksi yang sedemikian rupa agar banjir lahar dingin tidak menutupi jembatan sehingga jalur transportasi darat tidak putus.
“Secara teknis PU sudah survei. Sekalipun kita keruk untuk normalisasi, setiap kali hujan pasti tertutup dan penuh kembali,” ungkap Petrus.
Petrus meminta agar DPRD dapat memberikan dukungan dana untuk normalisasi dan perbaikan kembali tiga titik jembatan yang sering menyebabkan terputusnya transportasi darat.
“Mohon dukungan dari lembaga juga. DAK fisik untuk tahun ini tidak ada. Jadi kita akan gunakan DAU. Sehingga kita bisa normalisasi tiga titik ini dan perbaikan kembali jembatan pada tiga titik ini,” harap Petrus.













