Oleh: Yuven Fernandez*
Kamis 14 Mei 2020, bumi Nyiur Melambai Maumere Manis e perih disengat mentari. Angin mendadak kencang, membuat dahan-dahan angsana/sono kembang (Pterocarpus indicus) saling berpelukan. Saat bersamaan terbetik berita delapan orang asal Kabupaten Sikka dinyatakan positif virus corona/Covid-19.
Penantian panjang hasil swab di Kupang terjawab sudah. Semuanya seolah pasrah. Doa dan tolak bala yang telah dilambungkan kepada Tuhan dan leluhur seperti tak mampu menghentikan laju gerak covid-19.
Virus yang bermula dari Wuhan ini tiba juga di Nian Tana. Jika dalam ilmu Fisika, para fisikawan memaktubkan bahwa arah gerak sama pentingnya dengan kelajuan maka kecepatan Covid-19 bisa demikian laju dan arahnya. Dari Wuhan, kecepatan virus yang bikin panik ini positif juga menjangkiti orang-orang kita. Ia tiba juga di dekat kita.
Covid-19 tiba bukan dari transmisi lokal melainkan dari beberapa klaster yang membawanya tiba di Sikka. Mulai dari klaster Lambelu (dari penumpang KM Lambelu), dari klaster Gowa dan juga klaster Magetan.
Sejumlah komentar pun bermunculan. Mulai saling mempersalahkan. Mengapa KM Lambelu diizinkan bersandar di pelabuhan Lorens Say Maumere? Mengapa ada yang ‘kepala batu’ dan tidak mematuhi protokol kesehatan selama berada di tempat karantina?
Terlepas dari semua komentar yang memojokkan, satu kata yang wajib kita mahfum adalah semua mereka yang saat ini positif Covid-19 adalah sama saudara kita. Anak-anak manusia asal dan kelahiran Nian Tana yang kita cintai.
Corona memang ada dan dekat dengan kita. Pemandangan yang menghanyutkan naluri kemanusiaan adalah ketika pada Kamis malam, 14 Mei itu, delapan orang saudara yang dinyatakan positif Covid-19 dipanggil untuk bersiap menuju ruang isolasi RSUD TC Hillers Maumere.
Malam yang lengang dan dikepung petugas Covid sambil mengenakan seragam pelindung diri dan menenteng alat penyemprot disinfektan membuat susana makin tercekam.
Pengalaman hidup yang baru pertama kali dialami dalam sejarah hidup manusia ini telah meluruhkan derai air mata seorang perempuan muda yang dinyatakan positif Covid-19. Air matanya jatuh berderai di Sikka Convention Centre (SCC).
Ia harus berpisah dengan teman-teman pelaku perjalanan lainnya yang masih menanti hasil pengumuman dengan harap-harap cemas.
Sebagai jurnalis, tatapan saya tertuju juga pada beberapa pemuda. Tampak mereka lebih tenang. Toh saya yakin, dalam hati kecil mereka ada semacam rasa shock yang berkecamuk. Tampak langkah mereka pasti menuju ruang isolasi.
Tetap kuat! Jangan Menangis! Tuhan akan menyembuhkanmu. Demikan beberapa ucapan peneguhan dari para petugas medis.
Segala umpatan, makian yang sebelumnya ditujukan kepada pelaku perjalanan eks penumpang KM Lambelu berubah menjadi rasa kasihan dan empati.
Tiba-tiba saya membayangkan menjadi seperti salah satu dari pasien Covid-19 yang berada di ruang isolasi. Malam pertama menempati kamar di ruang isolasi bukannya kedamaian, namun sejuta pertanyaan terus mengusik ketentraman tidur.
Stigma negatif yang diberikan, sanksi sosial, reaksi orang yang sudah berinteraksi dengan sesama. Malam pertama di ruang isolasi bukanlah malam yang membahagiakan. Demikian hati kecil saya membayangkan jika saya berada di dalamnya.
Saya tiba-tiba ingat pada kata-kata penulis Tommy Tanney. Ia pernah mengatakan tragedi, kematian, dukacita dan penderitaan telah membuat kebanyakan manusia di dunia ini menjerit dan menangis.
Kenyataan ini mau mengungkapkan bahwa suasana batin manusia tidak selamanya siap untuk memikul beban hidup yang tak terkira datangnya. Keadaan manusia yang hidup serba nyaman, tenteram seakan-akan tidak berarti tatkala mengalami keadaan yang memilukan ini. Namun apakah manusia tetap tanpa harapan untuk menjalani hidupnya?
Belum lenyap ingatan saya pada pasien yang positif Covid-19 di ruang isolasi, pikiran saya seperti tiba-tiba diserbu para pedagang kecil di Pasar Alok, Pasar Tingkat Maumere yang mengeluh pendapatan tak pasti. Belum lagi anak-anak sekolah yang tak punya android dan tak bisa mengakses internet untuk mengirim tugas sekolah.
Ada lagi kisah para guru yang rela mengunjungi para siswa ke rumah. Sampai pada pasutri difabel yang berprofesi sebagai penjahit yak tak lagi dapat orderan dan akhirnya pasrah. Berharap ada rejeki yang segera mengalir.
Tukang ojek yang mangkal tak pastiepan kantor redaksi kami. Lalu saya juga akhirnya ingat pada rekan-rekan seprofesi saya. Para jurnalis yang terpaksa tetap setia mengabarkan liputannya di tengah wabah ini.
Saya haikul yakin dalam diamnya mereka semua ada air mata yang jatuh berderai. Rasa hati yang kisut dan pertanyaan yang terus berkecamuk kapan pandemi ini berakhir?
Jawabannya ya sama seperti anjuran gugus tugas Covid-19. Yang utama adalah tetap menjaga jarak. Dengan menjaga jarak kita sedang mengurangi kecepatan.
Mengurangi gerak dan tentunya menghambat laju Covid-19 yang kini sudah tiba di sini, di Nian Tana kita.
Mari jaga jarak, selalu pakai masker dan terus mematuhi protap kesehatan. Jika tidak maka laju dan gerak Covi-19 makin cepat dan air mata kita akan terus berderai.
*Jurnalis Ekora NTT












