Larantuka, Ekorantt.com – Warga Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki menolak direlokasi pada lahan yang disiapkan pemerintah setempat.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur saat ini tengah menyiapkan tiga lahan di Kuhe, Kecamatan Ile Bura, serta Todo dan Kureng di Kecamatan Titehena. Dalam rencananya, tiga lokasi ini untuk merelokasi warga lima desa di kawasan risiko tingkat III ke tempat aman.
Surat pernyataan penolakan beserta daftar hadir 600 orang diterima Ekora NTT pada Selasa, 17 Februari 2026. Surat telah diantar ke Bupati Anton Doni Dihen, Wakil Bupati Ignas Boli Uran, Ketua DPRD Albert Ola Sinuor, dan Pemerintah Kecamatan Wulanggitang sejak 5 Februari.
“Saya yang antar langsung. Masyarakat semua setuju, yang tanda tangan itu mereka yang sudah dewasa dan memiliki KTP,” ujar Gerardus Wolor, Kaur Umum Desa Nawokote.
Tokoh Adat Nawokote, Tobias Lewotobi Puka mengatakan, masyarakat mengusulkan lokasi di selatan kampung, yaitu Tanah Bunga, Buewolo, Lamalori, Kojarobet, dan Buewolo, Ola Taneng, dan Garong Taneng.
Tobias menyebut lokasi yang diusulkan itu pernah disurvei pemerintah saat awal wacana relokasi mulai didengungkan. Mereka kembali mengusulkannya lantaran tiga lahan yang disiapkan Pemkab Flores Timur terlampau jauh dengan kampung asal.
Beberapa alasan mendasar bagi warga Nawokote dalam usulannya. Pertama, mayoritas warga sebagai petani dan lahan untuk mereka hidup berada di Nawokote. Kesulitan yang lebih berat di waktu mendatang mulai terasa ketika berada di pengungsian Hunian Sementara (Huntara).
Tobias berkata, untuk menyambung hidup dengan menggarap kebun, warga harus menempuh perjalanan sekitar 19 kilometer dari Huntara ke Nawokote dengan ongkos transportasi paling sedikit Rp20 ribu per hari.
Tiga lokasi relokasi untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang disiapkan jaraknya lebih jauh dari Nawokote jika dibandingkan dengan Huntara.
“Kalau satu bulan biayanya Rp600 ribu, itu belum termasuk biaya yang lain-lain, misalkan kalau bawa banyak barang,” tandasnya.
Kedua, tutur Tobias, warga Nawokote punya ritus sakral yang melekat erat dengan Gunung Lewotobi Laki-laki. Tak hanya itu, warga juga gelisah dengan kejelasan relokasi penyintas yang terkatung-katung sejak dua tahun terakhir.
Tobias khawatir akan potensi konflik masyarakat di kemudian hari. “Kami sejatinya sangat mendukung niat baik pemerintah, tetapi kami mohon segala masukan dan niat baik dari kami ini juga dipertimbangkan,” harapnya.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, belum memberi penjelasan saat dikonfirmasi. Terkait surat yang sudah diantar sebelumnya, Anton menyebut akan membacanya terlebih dahulu.
“Saya baca dulu ade,” ujar Anton lewat WhatsApp.












