Di Balik Senyum Mama Edis: Pulih dari Gangguan Jiwa dengan Dukungan Komunitas

Mama Edis sendiri merupakan seorang pasien penyandang disabilitas psikososial. Kisahnya bermula saat ia bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan belasan tahun lalu.

Ruteng, Ekorantt.com – Senyum terpancar dari wajah Lusia Edista Lamut saat dijumpai di kediamannya di Bobong, Desa Tengku Lese, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai awal Maret lalu.

Mama Edis, sapaan karibnya, berpakaian usang, kaos kuning dilapisi jaket hijau. Sebuah kain melilit di pinggangnya.

Selama ini, ia mendapatkan pendampingan dari Marta Tia dan Agustina Ariayati, dua kader kesehatan jiwa dari Yayasan Ayo Indonesia yang bertugas di Desa Tengku Lese. Mereka bertugas mendampingi, mengedukasi, dan mendeteksi secara dini masalah kesehatan mental.

Mama Edis sendiri merupakan seorang pasien penyandang disabilitas psikososial. Kisahnya bermula saat ia bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan belasan tahun lalu.

Kakaknya Maria Magdalena Eweng berkisah, niat Mama Edis ke Makassar hanya ingin mencari sesuap nasi. Keputusan itu ia ambil setelah lama berpisah dengan suaminya. “Dia pergi pas dua anaknya masih kecil. Satunya seusia SD (sekolah dasar),” tutur Magdalena.

Magdalena mengetahui kondisi adiknya setelah mendapat informasi dari kerabat sekampungnya yang juga bekerja di Makassar. Karena kondisinya mulai parah, Mama Edis pulang kampung. Ia hanya bertahan setahun di perantauan.

Magdalena kaget ketika adiknya pulang dan melihat langsung kondisi dan sikapnya yang jauh berbeda sebelum ia merantau. “Kadang-kadang omong sendiri. Pas kami mau sarapan, dia selalu bilang ‘kamu duluan’. Dia tidak mau makan sama-sama.”

“Sebelum merantau, dia tinggal dengan kami, karena sudah lama berpisah dengan suaminya. Setelah mereka berpisah suaminya meninggal,” tutur Magdalena

Kondisi berubah drastis dalam beberapa bulan belakangan, ujar Magdalena. Mama Edis rajin bangun pagi. Ia kemudian beraktivitas di dapur: memasak.

Dua kader kesehatan jiwa sedang mendampingi pasien penyandang disabilitas psikososial (Foto: Adeputra Moses/Ekora NTT)

Tak sampai di situ, Mama Edis kini disibukkan dengan usaha ternak babi. Ia memelihara seekor babi di sebuah kandang yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. “Saya sendiri yang mencari pakang,” kata Mama Edis. Pakang merupakan bahasa warga setempat yang berarti makanan ternak.

Magdalena mengaku kaget dengan perubahan yang dialami sang adik. Mama Edis kini lebih banyak menyibukkan diri dengan memasak, menyapu, bahkan menganyam tikar. “Dia seorang pekerja keras. Seperti sebelum mengalami sakit,” tutur Magdalena.

Perubahan terjadi, kata dia, saat Mama Edis mendapatkan pendampingan dari kader kesehatan jiwa. Ia berharap sang adik secepatnya pulih.

Hapus Stigma

Saat pertama kali bertugas pada Februari 2025 lalu, Agustina Ariayati sempat berpikir, keluarga pasien maupun warga sekitar menolak kedatangannya. Beruntungnya hal tersebut tidak pernah terjadi.

Pikiran akan adanya penolakan lahir dari pengalaman selama ini, kata Agustina. Hal yang paling sering ia temui yakni anggapan atau stigma tentang penderita gangguan jiwa sebagai aib keluarga.

Pelabelan negatif itu juga justru datang dari keluarga pasien, bahwa si penderita gangguan jiwa membebani anggota keluarga yang lain karena sudah tidak berguna lagi. “Dari keluarga kadang-kadang bilang penyakit ini tidak bisa sembuh. Kadang kala orang selalu bilang penyakit ini penyakit turunan,” kata Agustina.

Kini Agustina sudah terbiasa dengan tugasnya sebagai kader kesehatan jiwa. Ia rutin mengunjungi pasien penderita gangguan jiwa tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, pasien sangat membutuhkan dukungan orang sekitarnya, terutama dukungan keluarga.

Di desanya terdapat 13 pasien disabilitas psikososial atau biasa disebut penderita gangguan jiwa. Mereka sangat membutuhkan dukungan semua pihak agar bisa pulih. “Makanya pada saat kami dampingi, kami menyampaikan kepada keluarganya agar stigma tidak boleh muncul dari keluarganya sendiri. Demikian juga dengan masyarakat sekitar.”

Pengalaman selama setahun belakangan merupakan hal yang berharga bagi Agustina. Ia bisa belajar berkomunikasi dengan pasien dan menjumpai keluarga pasien. Ia pun berharap keluarga maupun masyarakat semakin peduli dengan kesehatan jiwa, terutama bagi orang yang ada di sekitar kita.

Kepala Puskesmas Wangko, Evania Nathalia Maricah bilang, keluarga pasien aktif mengambil obat ke puskesmas, didampingi kader kesehatan jiwa. “Petugas puskesmas ada jadwal satu kali sebulan turun kunjungan rumah ke pasien,” ujarnya.

Pelayanan medis terhadap pasien penderita gangguan jiwa berupa pemberian obat dan mengkaji tingkat kestabilan pasien. “Karena dengan obat, pasien dapat terkontrol dan banyak perubahan dari yang agresif menjadi terkontrol.”

Evania menambahkan, puskesmas mendistribusikan obat ke fasilitas kesehatan di desa seperti di pustu, poskedes, dan polindes. Dengan begitu pelayanan kesehatan menjadi lebih dekat. “Keterlibatan keluarga sangat penting dalam mengontrol pasien minum obat.”

“Kendala kami yang terjadi di puskesmas, kadang ada keluarga yang tidak mendukung pasien minum obat dan sering diabaikan oleh keluarga,” tambahnya.

Pendampingan berbasis komunitas, kata dia, memperkuat peran kader untuk edukasi dan pendampingan. Sementara puskesmas menyediakan layanan klinis lewat diagnosis dan ketersediaan obat. “Keluarga memastikan kepatuhan pasien di rumah,” ujar Evania.

Jerry Santoso, Program Officer Kesehatan mental Ayo Indonesia sedang bersama salah satu ODDP di Kabupaten Manggarai (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Pendampingan Berbasis Komunitas

Jerry Santoso, selaku Program Officer Kesehatan mental Ayo Indonesia mengatakan, pihaknya melakukan pendampingan kesehatan jiwa berbasis masyarakat (community-based mental health). Model pendampingan seperti ini lebih menekankan pemulihan pasien yang tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi juga pada dukungan sosial di komunitas.

“Dalam praktiknya, pendampingan dilakukan melalui kunjungan rumah kepada Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP),” kata Jerry.

Pendampingan juga mencakup edukasi kepada keluarga, merawat dan memahami kondisi pasien, dan pelibatan kader desa yang memantau perkembangan pasien. Harapannya, pasien bisa mengakses layanan kesehatan, mengurangi stigma, serta mendorong pasien untuk kembali terlibat dalam aktivitas sosial dan ekonomi sesuai kemampuan mereka.

“Pendampingan kita di tiga kecamatan di Kabupaten Manggarai, yaitu Wae Ri’i, Ruteng, dan Rahong Utara,” sebutnya. Ayo Indonesia sedang mendampingi sekitar 140 ODDP yang tersebar di tiga kecamatan tersebut.

Khusus di Rahong Utara, program ini menyasar enam desa yakni Tengku Lese, Manong, Buar, Bangka Ruang, Bangka Ajang, dan Golo Langkok, yang berada di wilayah kerja Puskesmas Nanu dan Puskesmas Wangko.

Pendampingan tidak hanya menyasar pasien, kata Jerry, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses pemulihan.

Jerry melihat beberapa perkembangan positif. Sebagian pasien yang sebelumnya mengalami isolasi sosial mulai lebih aktif berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan, beberapa sudah lebih rutin menjalani pengobatan, dan ada yang mulai kembali melakukan aktivitas produktif sederhana.

Selain itu, pemahaman keluarga dan masyarakat terhadap gangguan jiwa juga perlahan berubah, sehingga stigma terhadap pasien mulai berkurang. “Pendampingan ini melibatkan berbagai pihak di tingkat komunitas.”

Selain tim dari Ayo Indonesia, program ini juga melibatkan 20 kader desa yang dipilih oleh pemerintah desa untuk mendampingi proses pemulihan pasien di komunitas. Menurut Jerry, kader berperan penting dalam melakukan pemantauan dan menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan layanan kesehatan.

“Program ini juga bekerja sama dengan keluarga pasien, pemerintah desa, serta tenaga kesehatan di Puskesmas Nanu dan Puskesmas Wangko,” ujarnya.

Pendekatan kolaboratif dinilai penting, kata Jerry, karena pemulihan kesehatan jiwa membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Dengan dukungan yang lebih kuat, lebih banyak pasien dapat dijangkau dan didampingi dalam proses pemulihan mereka,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto (Foto: Dok. Pribadi)

Memperluas Layanan Kesehatan Jiwa

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto mengatakan, pendampingan berbasis komunitas yang dilakukan oleh Ayo Indonesia, membantu pemerintah dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan jiwa. “Khususnya dalam pendampingan sosial dan pemantauan kondisi ODGJ di tingkat komunitas,” ujar Jefrin.

Dinas Kesehatan mencatat, jumlah ODGJ di Kabupaten Manggarai sekitar 900 orang pada 2025. Angka ini bersifat dinamis karena terus diperbaharui melalui proses pendataan di fasilitas kesehatan dan di tingkat desa.

Jefrin menjelaskan, program ini sejalan kebijakan pemerintah yang mendorong keterlibatan keluarga, kader, dan masyarakat dalam mendukung pemulihan ODGJ. “Pemerintah daerah pada prinsipnya sangat mendukung keterlibatan organisasi masyarakat.”

Dukungan diberikan melalui koordinasi dengan puskesmas, fasilitasi kegiatan sosialisasi, serta kolaborasi dalam program promosi kesehatan jiwa dan pendampingan pasien di masyarakat, kata Jefrin.

Ia menambahkan, koordinasi biasanya dilakukan melalui puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan primer. Dengan begitu, tenaga kesehatan jiwa di puskesmas bekerja sama dengan kader kesehatan jiwa dan organisasi masyarakat untuk memantau kondisi pasien, kunjungan rumah, serta edukasi kepada keluarga mengenai perawatan dan kepatuhan minum obat.

Jefrin menilai, pendekatan berbasis komunitas cukup efektif karena pasien mendapatkan dukungan sosial secara langsung dari lingkungan terdekatnya. Pendampingan dapat membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan, mengurangi stigma, serta mendukung proses reintegrasi sosial bagi penyandang disabilitas psikososial.

Kader kesehatan jiwa sedang memantau ternakan salah satu ODDP di Manggarai (Foto: Adeputra Moses/Ekora NTT)

Jefrin berkata, pendampingan komunitas dapat menjadi salah satu strategi untuk mengatasi keterbatasan tenaga kesehatan jiwa, terutama dalam aspek pemantauan dan dukungan sosial. Namun, peran komunitas tetap bersifat melengkapi, “bukan menggantikan peran tenaga kesehatan profesional.”

Dinas Kesehatan, kata dia, memastikan keberlanjutan pengobatan melalui layanan kesehatan di puskesmas, pemantauan oleh tenaga kesehatan, serta dukungan kader dan keluarga.

“Kader dan pendamping komunitas juga berperan membantu mengingatkan pasien untuk kontrol rutin dan minum obat sesuai anjuran tenaga medis,” ujarnya.

TERKINI
BACA JUGA