Larantuka, Ekorantt.com – Dua ruas jalan penghubung Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, putus akibat banjir lahar Gunung Lewotobi Laki-laki, Rabu, 18 Maret 2026.
Dua titik itu berada di Kali Waimuring, perbatasan antara Desa Nawokote dan Waiula, Kecamatan Wulanggitang, dan TPI Nurabelen di Desa Nurabelen, Kecamatan Ile Bura.
Warga Desa Hewa, Paskalis Ipir mengatakan, ruas Waimuring dan TPI Nurabelen dalam satu poros jalan itu menjadi satu-satunya akses transportasi warga sembilan untuk menjangkau Kota Larantuka, Ibu Kota Flores Timur dan Kota Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka.
Ipir menuturkan, perputaran ekonomi dari sektor jasa transportasi hingga pelayanan publik di pusat ibu kota kian terhambat jika akses jalan putus. Belum lagi risiko pasien gawat saat hendak dirujuk ke Rumah Sakit.
“Aktivitas warga sementara ini masih lumpuh, intensitas hujan lebat masih terjadi hingga siang ini,” katanya.
Warga khawatir dengan tumpukan material erupsi yang menurut riset BNPB tercatat mencapai 3,6 juta ton kubik. Saat hujan, material berupa batu, pasir, dan abu vulkanik ikut terseret dan melanda ke permukiman hingga badan jalan.
“Itu (potensi banjir susulan) yang sangat kita khawatirkan. Soal banjir lahar ini kan sudah berulang-ulang kali terjadi,” tutur Ipir.
Warga Nurabelen, Fabianus Wang, mengatakan banjir di TPI mencapai betis kaki orang dewasa. Badan jalan penuh dengan batu, pasir, tanah, dan dahan pohon. Panjangnya mencapai puluhan meter. Kendaraan roda dua masih bisa melintas.
“Mobil juga masih bisa lewat, tetapi memang sulit. Warga setempat ada yang bantu bersihkan dengan peralatan seadanya,” katanya.
Kepala Pos PGA Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro mengimbau warga termasuk pengendara selalu waspada saat berkendara di jalur rawan, seperti di PPI Nurabelen, Waimuring, dan beberapa tirik di Jalan Trans Flores.
Herman sebelumnya menginformasikan bahwa alat PGA sedang merekam getaran banjir pada Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Mohon kita semua selalu berhati-hati dan menjauhi kali-kali yang berhulu dari puncak Gunung Lawotobi, terutama Jalan Trans di Hokeng ke Nobo, dari Nobo ke Nurabelen dan dari Nawokote ke Hewa dan Tabana,” tutur Herman.
Dalam catatan Ekora NTT, selain jalur TPI dan Waimuring, titik-titik rawan berikutnya berada di Desa Dulipali hingga kompleks perkebunan PT Rerolara Hokeng. Setidaknya ada tiga lintasan banjir yang mengancam pengguna jalan.
Di sana tercatat dua kasus kecelakaan yang menimpa dua pemotor, salah satunya Maksim Shmelev (27), warga asal Rusia. Maksim terluka parah dirujuk ke rumah sakit setelah menabrak pohon mahoni di pinggir jalan itu. Ia hilang kendali saat berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan yang licin dan penuh material banjir tersebut.
Penulis: Paul Kabelen












