Indeks Pembangunan Literasi di Ngada Masuk Kategori Sangat Rendah

"Ini salah satu gambaran bahwa masyarakat lebih percaya hoaks ketimbang informasi resmi," kata Paskalis saat acara pelantikan Blandina Mamo sebagai Bunda Literasi Ngada di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngada, Jumat, 27 Maret 2026.

Bajawa, Ekorantt.com – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngada, Paskalis Wale Bai, mengungkapkan Indeks Pembangunan Literasi (IPL) di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur berada di angka 18,3 persen atau masuk kategori paling rendah.

Angka ini sejalan dengan Indeks Kegemaran Minat Membaca di Ngada yang saat ini berada pada angka 61,04 persen.

“Ini salah satu gambaran bahwa masyarakat lebih percaya hoaks ketimbang informasi resmi,” kata Paskalis saat acara pelantikan Blandina Mamo sebagai Bunda Literasi Ngada di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngada, Jumat, 27 Maret 2026.

Paskalis mengatakan literasi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Ia berharap dengan adanya pengukuhan itu dapat membawa masyarakat yang lebih literat dan bijak dalam mengonsumsi informasi.

“Kemajuan suatu daerah sangat tergantung pada kualitas literasi,” kata dia.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, usai melantik Blandina mengatakan literasi memiliki makna yang luas, salah satunya dalam kegiatan budaya yang ada di tengah masyarakat Ngada.

“Saya berharap dengan adanya pengukuhan ini bisa menjadi motivator agar minat baca siswa kita meningkat,” ujar Raymundus.

Di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat saat ini, upaya meningkatkan literasi sangat penting agar masyarakat bisa membedakan informasi yang benar dan hoaks.

Sementara Blandina berkomitmen untuk menguatkan kemampuan dasar masyarakat lewat peningkatan minat baca siswa. Ia mendorong program wajib baca buku 15 menit bagi siswa sebelum pelajaran dimulai.

“Ini perlu kolaborasi semua pihak baik dinas perpustakaan dan dinas pendidikan Kabupaten Ngada,” ujarnya.

Mantan Anggota DPRD Ngada ini juga mendorong kegiatan lomba menulis cerita di setiap jenjang pendidikan lewat program wisata literasi.

Salah satu fokus perhatiannya ke depan yakni penggunaan gadget secara bijak demi mewujudkan literasi digital yang sehat di kalangan siswa.

“Ke depan ada wisata literasi, di mana siswa datang mengunjungi perpustakaan,” tandasnya.

TERKINI
BACA JUGA