Uskup Agung Ende Basuh dan Cium Kaki Umat Saat Misa Kamis Putih di Ndora

Awalnya, dia mengira prosesi pembasuhan kaki akan terjadi seperti biasanya yakni imam membasuh kaki dengan air lalu membersihkannya dengan kain. Namun setelah dibasuh, kakinya diangkat, lalu uskup menunduk dan mencium.

Mbay, Ekorantt.com – Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden membasuh dan mencium kaki 12 umat yang berperan sebagai rasul dalam Misa Kamis Putih di Gereja St Petrus Martir Ndora, Kabupaten Nagekeo, Kamis malam, 2 April 2026.

Blasius Mosa, orang pertama yang dibasuh kaki lalu dicium oleh Uskup Budi mengaku terharu dan menangis karena baru pertama kali berperan sebagai rasul.

“Saya terharu dan tidak membayangkan seperti ini,” ujar Blasius.

Awalnya, dia mengira prosesi pembasuhan kaki akan terjadi seperti biasanya yakni imam membasuh kaki dengan air lalu membersihkannya dengan kain. Namun setelah dibasuh, kakinya diangkat, lalu uskup menunduk dan mencium.

“Saya menangis karena kerendahan hati seorang uskup terhadap umatnya,” ujar dia.

Perasaan yang sama juga dialami Adrianus Dhae dengan mengenang kembali kisah Yesus membasuh kaki para rasulnya sebelum Ia menderita sengsara di kayu salib.

“Ini simbol kerendahan hati, kesetiaan, dan persaudaraan yang ada dalam diri uskup,” kata Adrianus.

Bagi dia, sikap Uskup Budi ini menggambarkan kerendahan hati dalam melayani umat. Sikap ini pula menunjukkan kesetiaan dalam melayani sesama dan saling memaafkan.

“Ini nilai yang saya petik ketika uskup mencium kaki saya,” ujar Adrianus.

Uskup Budi, dalam kotbah mengatakan, Misa Kamis Putih untuk mengenang perjamuan terakhir Tuhan untuk mempersembahkan diri-Nya secara total terhadap umat manusia.

“Tuhan sudah turun merendah. Dia memberikan seluruh diri-Nya untuk kita, tubuh dan darah,” kata Uskup Budi.

Namun, di malam perjamuan terakhir, setelah kaki para murid dibasuh ternyata tidak semua berjalan bersama Yesus melewati saat-saat getir dalam hidupnya.

Seperti Petrus, tega mengkhianati Tuhan, menyangkal bahwa dia selalu menapaki jejak kakinya seirama kaki Sang Guru. Bahkan kaki Yudas yang sudah disentuh, dibasuh, dikeringkan, dan dicium itu membawanya pergi kepada para tetua bangsa Yahudi untuk menjual tuannya dengan harga tiga puluh keping perak.

“Demikian pula kita yang hari ini dibasuh, besok dapat menjadi kaki yang menjauhi orang yang telah menolong kita dan mengingkarinya,” kata dia.

Mestinya, Uskup Budi melanjutkan, kaki yang sudah dibasuh harus semakin kuat berjuang dan bersih dalam usaha. Dengan kaki yang sudah dibasuh, sebagai orang tua, berjalan bersama anak-anak dalam proses pertumbuhan mereka, memberikan mereka pendidikan yang baik terutama melalui contoh hidup diri sendiri.

“Rajin berjalan bersama mereka ke gereja dan kapela, menghadiri kegiatan di tingkat KUB, lingkungan, stasi, dan paroki.”

“Contoh hidup kita yang baik sebagai orang dewasa dan orangtua, akan meninggalkan bekas yang mendalam pada anak-anak kita, membentuk watak dan kepribadian mereka,” kata dia.

Uskup Budi memimpin Perayaan Misa Kamis Putih di Ndora bersama Pastor Paroki Ndora Pastor Fidelis Markus Demu, yang dihadiri umat paroki itu.

Uskup Budi pun ikut jalan salib tematis yang dipimpin oleh orang muda Katolik (OMK) Paroki Ndora pada Jumat pagi.

TERKINI
BACA JUGA