Larantuka, Ekorantt.com – Mukhtar Slolong, 50 tahun, beranjak dari tempat tidurnya, Sabtu, 11 April 2026. Dengan ayunan kaki tertatih-tatih, ia menengok sebuah bangunan tembok putih yang masih berdiri kokoh di Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.
Jam menunjuk pukul 05.30 Wita. Tiga menit sebelumnya, tanah tempatnya berpijak bergetar. Gempa kembali terjadi subuh tadi. Mokhtar hanya memastikan agar rumahnya tak rubuh. Ia kembali berbaring namun tak bisa terlelap hingga fajar menyingsing.
Sudah tiga malam Mokhtar tidur di tenda darurat bersama tetangganya. Ia sulit beraktivitas karena menderita stroke ringan. Bantuan pemerintah baru datang dua hari setelah peristiwa gempa.
Di depan tenda bantuan BNPB, Mokhtar menyeruput air hangat pemberian Masturah Umar, 42 tahun, tetangganya di Dusun 1 Terong Barat. Jam makan pagi masih disediakan. Masturah bersama tetangga yang berbaik hati tetap setia merawat duda sebatang kara itu.
Masturah memberikan pelajaran penting tentang arti kebersamaan sehingga tetap tangguh di medan bencana. Pengalaman seperti ini turut saya alami selama dua tahun terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Mokhtar, yang tujuh tahun menderita stroke, bersyukur bisa berada dalam perhatian tetangga. Hubungan mereka di kampung bermayoritas muslim itu sangat kuat layaknya keluarga kandung.
“Keadaan saya baik, hanya seperti ini (stroke). Saya selalu diperhatikan (tetangga) dengan baik,” ujar Mokhtar kepada Ekora NTT.
Masturah masih sibuk menbersihkan kompor. Beberapa ibu-ibu sedang memasak. Ada yang menghidangkan kopi dan teh. Semua aktivitas berlangsung di halaman luar. Dari sana terlihat sejumlah tembok ambruk. Banyak juga yang retak.
Mokhtar kemudian ditandu tetangganya yang laki-laki ke toilet. Kadang ia berjalan dengan bantuan tongkat, tetapi tetap dalam pantauan. Hanya beberapa menit berselang, ia sudah keluar. Tak bisa berlama-lama. Guncangan gempa bisa datang kapan saja.
“Untuk makan dan minum semuanya aman, abah (sebutan bapak) selalu kami perhatikan, dia tinggal seorang diri sejak istrinya meninggal setahun yang lalu, dia tidak punya anak, kami keluarganya,” ujar Masturah.
Menurutnya, pemerintah lewat BPBD sudah menyalurkan bantuan bagi korban terdampak. Bantuan berupa tenda, beras, dan kasur lipat juga diprioritaskan bagi Mokhtar.
Di tenda darurat, beberapa meter dari Mokhtar, terdengar nyanyian lagu Indonesia Bangkit oleh belasan siswa-siswi sekolah dasar. Mereka tertawa lepas, bertepuk tangan, dan berpelukan di tenda biru usang itu.
Suwarti Ibrahim, 54 tahun, membawakan cerita lucu. Anak-anak di sana adalah tetangganya. Suwarti adalah guru pada SDN Terong. Guru dan sekolah sementara ini diliburkan.
Pengajar senior yang mengabdi sejak 1993 itu dibantu dua guru muda, Nuraini Rahman, pengajar SMAN 1 Adonara Timur, dan Nurasia Bahi, guru SDN 2 Lamahala. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan riang gembira agar anak-anak tak larut dalam ketakutan.
“Kami bangun lebih awal, tadi subuh dan hampir pagi ada gempa. Kami semua terjaga. Untuk mengisi kekosongan, saya memutuskan untuk mengadakan permainan dan bernyanyi dengan mereka,” katanya.
Sementara itu, data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), merekam sebanyak 139 kali gempa terhitung sejak Rabu, 8 April hingga Sabtu, 11 April 2026 dini hari.
Gempa hari Sabtu pukul 05.30 Wita dengan titik koordinat 8.45 lintang selatan-123.13 bujur timur dengan jarak 23 kilometer arah tenggara dari Kota Larantuka, Ibu Kota Flores Timur. Kedalaman gempa mencapai 5 kilometer.
BPBD Flores Timur mencatat sebanyak 207 rumah dan 20 korban luka. Kerusakan paling banyak di Desa Terong yaitu 134 unit dan 73 unit di Desa Lamahala.
Penulis: Paul Kabelen













