Memaknai Nusra Youth Day di Maumere

Oleh: Bernardus Badj*

Perhelatan Nusra Youth Day (NYD) III di Keuskupan Maumere pada 2-5 Juli 2026 bukanlah sekadar gelaran rutin tahunan bagi Orang Muda Katolik (OMK) se-Bali dan Nusa Tenggara. Dengan tema ‘Berjalan Bersama Membangun Bangsa dan Gereja’, peristiwa ini menjelma menjadi refleksi teologis-sosiologis yang mendalam tentang bagaimana iman dihayati, dirayakan, dan diterjemahkan dalam kebersamaan.

Menarik untuk mencermati bagaimana Keuskupan Maumere, yang relatif masih berusia 21 tahun, dipilih sebagai tuan rumah. Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, menyebut bahwa kepercayaan ini merupakan buah dari kematangan iman umat dan pengakuan atas kapasitas keuskupan dalam menyelenggarakan kegiatan berskala besar.

Kematangan iman yang dimaksud bukanlah sekadar kemampuan teknis-logistik, melainkan kedewasaan dalam memaknai iman sebagai daya yang mempersatukan, bukan yang memecah-belah.

Dalam perspektif sosiologis, pengakuan atas kapasitas keuskupan ini menunjukkan adanya kepercayaan publik yang terbangun melalui jejak panjang pelayanan pastoral yang konsisten, sebuah modal sosial yang tidak dapat dibangun dalam semalam, melainkan melalui proses panjang pembentukan karakter komunitas beriman (Putnam, 2000).

Di Maumere, modal sosial itu terbukti masih kuat, terlihat dari antusiasme umat yang tidak sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat aktif sebagai tuan rumah yang membuka hati dan pintu mereka.

Kematangan iman ini teruji dalam sambutan umat Paroki St. Mikhael Nita yang dengan sukarela membuka rumah-rumah mereka bagi 836 peserta dari 9 keuskupan (Gonsales, 2026).

Fenomena live-in ini mengingatkan kita pada eklesiologi dasar Gereja perdana di mana iman tidak dirayakan dalam gedung megah yang dingin, melainkan dalam kehangatan rumah tangga (Kisah Para Rasul 2:46). Model rumah umat sebagai tempat penginapan adalah kritik nyata terhadap gaya hidup konsumtif dan individualistis yang meracuni relasi sosial. Di sinilah sakramen persaudaraan dihidupi secara nyata, bukan sekadar teori, melainkan praktik harian yang mengutamakan relasi di atas fasilitas.

Ketika seorang peserta dari keuskupan Atambua menginap di rumah sederhana seorang petani di Nita, terjadiiah apa yang oleh teolog Jerman Johann Baptist Metz sebut sebagai memori berbahaya sebuah pengingat bahwa iman Kristen pada mulanya adalah iman orang-orang kecil yang berbagi apa yang mereka miliki, iman yang tidak pernah kehilangan daya kritisnya terhadap segala bentuk kemewahan dan keterpisahan (Metz, 1980).

Memori berbahaya Metz bukanlah nostalgia romantis tentang masa lalu. Ia adalah daya kritis yang mengingatkan Gereja pada panggilan awalnya yakni menjadi komunitas yang berpihak pada mereka yang miskin, tersingkir, dan tidak berdaya. Pengalaman menginap di rumah petani sederhana menjadi “memori” yang mengganggu kesadaran yang mempertanyakan gaya hidup konsumtif dan menantang untuk kembali pada esensi iman yang sederhana dan bersaudara.

Fenomena ini menunjukkan masih kuatnya modal sosial di masyarakat Flores, di mana gotong royong dan solidaritas tetap menjadi perekat yang kokoh di tengah gempuran modernitas yang menggerus ikatan komunal (Putnam, 2000). Solidaritas yang terbangun bukan karena kesamaan profesi, melainkan karena kesadaran akan identitas bersama sebagai saudara seiman.

Inkulturasi yang Hidup

Jika kita melihat lebih mendalam, perhelatan ini juga berfungsi sebagai memori kolektif yang memperkuat identitas kultural dan historis Gereja di Flores. Tepat sekali jika NYD III ditempatkan dalam bingkai peringatan satu abad pendidikan calon imam di Flores, yang dimulai dari Seminari Menengah Lela pada 1926.

Di sinilah letak kekuatan strategis Maumere, ia bukan hanya tuan rumah, melainkan pewaris estafet panjang inkulturasi iman Katolik. Inkulturasi, sebagaimana ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Slavorum Apostoli (1985), bukanlah sekadar penyesuaian lahiriah, melainkan perjumpaan antara Injil dan budaya yang mengubah keduanya secara mendalam.

Proses inkulturasi bukanlah satu arah di mana Injil menundukkan budaya, melainkan dialog di mana Injil meresapi budaya dan budaya memperkaya pemahaman akan Injil.

Jejak sejarah itu kentara dalam prosesi Kirab Salib Suci NYD yang melibatkan perarakan panjang dari paroki ke paroki, melewati batas-batas administrasi, dan disambut dengan ritual adat seperti penaburan bunga, tarian penyerahan, dan sapaan “Huler Wair”. Di sini, iman Katolik dan budaya lokal bukanlah dua entitas yang bertentangan, melainkan berjalan bergandengan tangan, sebuah praktik inkulturasi yang hingga kini masih dijaga kuat di tanah Sikka.

Prosesi kirab salib memiliki fungsi penting sebagai ritual kolektif yang memperkuat kohesi sosial. Émile Durkheim, dalam The Elementary Forms of Religious Life (1915), menjelaskan bahwa ritual keagamaan bukan sekadar ekspresi iman pribadi, melainkan momen sakral di mana masyarakat merayakan dan memperkuat solidaritasnya.

Kirab Salib Suci yang melibatkan ribuan umat lintas paroki menjadi ritual pergantian yang menandai transisi dari kehidupan individual menuju komitmen kolektif. Ketika salib diserahkan dari satu paroki ke paroki lain dengan tarian adat, terjadi apa yang oleh Durkheim disebut efervescence kolektif, gelombang energi moral yang menyatukan individu-individu menjadi satu komunitas yang sadar akan kebersamaannya (Durkheim, 1915).

Efervescence kolektif ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan pengalaman sakral yang meninggalkan jejak dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Prosesi kirab salib yang melintasi batas-batas administratif desa dan kecamatan menjadi simbol nyata bahwa iman Katolik tidak mengenal sekat-sekat buatan manusia; iman adalah daya yang meruntuhkan tembok pemisah dan membangun jembatan persaudaraan (Efesus 2:14).

Rasul Paulus mengingatkan bahwa Kristuslah yang mendamaikan kita dengan Allah dan meruntuhkan tembok pemisah, yaitu permusuhan di antara manusia. Kirab Salib yang melintasi batas-batas adalah perwujudan nyata dari pesan perdamaian itu.

Spiritualitas Persaudaraan

Salah satu aspek yang paling menggugah dalam NYD III adalah penegasan bahwa kaum muda bukan penonton pasif, melainkan subjek utama dalam perjalanan iman. Uskup Ewaldus dengan tegas menyatakan bahwa OMK adalah tulang punggung keberlanjutan Gereja.

Pernyataan ini selaras dengan anjuran Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (2019) yang menekankan bahwa kaum muda bukan hanya masa depan Gereja, melainkan masa kini Gereja yang harus didengarkan dan dilibatkan secara aktif.

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa Gereja yang sinodal adalah Gereja yang mendengarkan dan kaum muda memiliki nubuat tersendiri yang sering kali tidak tertangkap oleh orang dewasa (Christus Vivit, 2019,). Nubuat kaum muda itu lahir dari kegelisahan mereka akan ketidakadilan, kepedulian mereka terhadap lingkungan, dan kerinduan mereka akan persaudaraan yang otentik.

Semangat sinodalitas ini terwujud dalam format dialog interaktif ngopi bersama para uskup dan seminar kepemudaan yang menghadirkan narasumber dari kalangan rohaniwan (Gonsales, 2026). Dalam ruang-ruang dialog itu, orang muda diajak untuk bukan sekadar menerima ajaran, melainkan merumuskannya bersama. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari model Gereja yang hierarkis-vertikal menuju Gereja yang partisipatif-horizontal.

Sebagaimana diingatkan oleh teolog Leonardo Boff, Gereja harus menjadi sakramen persaudaraan yang nyata, bukan sekadar institusi yang menjalankan ritual tanpa menyentuh kehidupan umat (Boff, 1985). Sakramen persaudaraan yang dimaksud Boff adalah Gereja yang kehadirannya menjadi tanda nyata dari kasih Allah yang merangkul semua orang, tanpa kecuali.

Dialog ngopi yang santai menjadi simbol bahwa iman tidak harus selalu dirayakan dalam kemegahan liturgi yang kaku, tetapi juga dalam kehangatan percakapan sehari-hari yang menggugah kesadaran. Hal ini mencerminkan apa yang oleh Jurgen Habermas disebut sebagai tindakan komunikatif, sebuah ruang di mana partisipan saling mendengarkan, menghargai, dan bersama-sama mencari kebenaran melalui diskursus yang rasional dan terbuka (Habermas, 1984). Ini adalah fondasi bagi terbentuknya masyarakat sipil yang demokratis dan partisipatif, di mana setiap suara didengar dan dihargai.

Dampak Sosial

Semangat persaudaraan dan sinodalitas yang terbangun dalam NYD memiliki potensi besar untuk melampaui dimensi seremonial dan menjadi gerakan sosial yang nyata. Pengalaman efervescence kolektif yang dialami ratusan peserta, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi energi moral yang mendorong perubahan perilaku dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Durkheim (1915) mengingatkan bahwa momen-momen sakral seperti ini memiliki daya transformatif yang luar biasa karena ia menyentuh lapisan terdalam kesadaran kolektif masyarakat. Ketika seseorang mengalami secara langsung kebersamaan yang hangat, penerimaan yang tulus, dan persaudaraan yang otentik, ia tidak mungkin kembali ke kehidupan lamanya tanpa perubahan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial intoleransi, ketidakpedulian, dan jurang pemisah sosial NYD menawarkan narasi alternatif tentang kebersamaan yang inklusif. Kirab Salib yang melintasi batas-batas desa, penerimaan umat yang membuka rumah bagi orang asing, dialog antar generasi, semua ini adalah praktik konkret yang membangun apa yang oleh teolog Jurgen Moltmann disebut sebagai komunitas persaudaraan yang universal, sebuah komunitas yang tidak mengenal sekat-sekat suku, agama, ras, dan golongan (Moltmann, 1967).

Moltmann menegaskan bahwa iman Kristen adalah iman yang berorientasi masa depan, iman yang tidak pernah puas dengan ketidakadilan dan selalu mendorong perubahan menuju Kerajaan Allah yang lebih adil dan penuh damai.

Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium (2013), mengingatkan bahwa seorang penginjil tidak boleh terlihat seperti orang yang baru saja pulang dari pemakaman. Artinya, iman harus dirayakan dengan sukacita yang melimpah, tetapi sukacita itu harus melahirkan tindakan nyata bagi sesama. NYD telah menunjukkan bahwa sukacita itu nyata terlihat dalam tarian, nyanyian, dan gelak tawa para peserta.

Orang muda yang menjadi subjek utama NYD menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dalam perspektif teologis, panggilan untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13-16) bukanlah metafora yang manis, melainkan tuntutan eksistensial yang menuntut keberanian dan pengorbanan.

Menjadi garam berarti berani memberi rasa dan nilai-nilai Injil di tengah kehampaan moral. Menjadi terang berarti berani menerangi kegelapan, ketidakadilan, kebodohan, dan keputusasaan yang menggelayuti kehidupan banyak orang.

Secara sosiologis, gerakan kepemudaan berbasis iman memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan transformatif. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, dalam The Social Construction of Reality (1966), mengingatkan bahwa realitas sosial selalu dikonstruksi melalui interaksi dan makna bersama.

Orang muda memiliki kemampuan unik untuk mengkonstruksi ulang realitas sosial karena mereka berada di persimpangan antara pewarisan tradisi dan inovasi budaya. NYD telah menyediakan ruang bagi kaum muda untuk mengalami realitas alternatif realitas di mana persaudaraan, kebersamaan, dan kegembiraan iman menjadi pengalaman yang otentik. Tugas selanjutnya adalah membawa realitas alternatif itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dialog interaktif dan seminar dalam NYD harus mampu membekali OMK dengan kesadaran kritis akan realitas sosial, bukan sekadar pengetahuan doktrinal yang abstrak. Kaum muda perlu dilatih untuk membaca tanda-tanda zaman sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (1965).

NYD tidak boleh berhenti pada acara empat hari di Maumere. Ia harus berlanjut dalam program-program pendampingan pasca-NYD yang melibatkan paroki-paroki, komunitas basis, dan gerakan kepemudaan di tingkat lokal. Hanya dengan cara inilah semangat Berjalan Bersama tidak akan menjadi slogan kosong.

Ziarah yang Tidak Berhenti di Maumere

NYD di Maumere adalah manifestasi dari visi besar Gereja yang keluar dari diri sendiri. Ia adalah panggung bagi kaum muda untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pewaris iman yang tangguh, yang mampu merawat persaudaraan lintas wilayah.

Dalam semangat sinodalitas Paus Fransiskus, kaum muda diajak untuk berjalan bersama bukan hanya dengan sesama umat Katolik, tetapi dengan seluruh umat manusia yang merindukan keadilan, kedamaian, dan kebersamaan.

Kirab Salib yang melintasi batas-batas desa, sambutan umat yang membuka pintu rumah mereka, dialog santai antara uskup dan muda-mudi semua ini adalah sakramen kecil yang menampakkan wajah Gereja yang sesungguhnya, Gereja yang hangat, terbuka, dan merangkul semua.

Gereja dipanggil untuk menjadi sakramen keselamatan bagi dunia. NYD telah menunjukkan bahwa sakramen keselamatan itu tidak hanya dirayakan dalam liturgi yang khusyuk, tetapi juga dalam kebersamaan yang hangat, dalam tarian yang gembira, dan dalam rumah-rumah yang terbuka. Keselamatan bukan hanya urusan akhirat, ia adalah realitas yang mulai dihidupi di sini dan sekarang, dalam relasi-relasi yang adil dan penuh kasih.

Makna sejati NYD hanya akan terukur jika semangat kebersamaan dan dialog yang dibangun di Maumere mampu membentuk karakter kaum muda yang berani menjadi garam dan terang di tengah kegelapan dunia. Jurgen Moltmann (1967) mengingatkan kita bahwa iman Kristen adalah iman yang berorientasi masa depan, iman yang tidak pernah puas dengan status quo, tetapi selalu mendorong perubahan menuju Kerajaan Allah yang lebih adil dan penuh damai.

Dari Maumere untuk seluruh Indonesia, semoga ziarah iman ini bukan hanya menjadi kenangan yang manis, melainkan sebuah gerakan transformasi yang nyata. Gereja, melalui momen-momen seperti NYD, diharapkan dapat terus menghadirkan wajahnya yang profetis dan transformatif, menjadi berkat bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa memandang latar belakang suku, budaya, dan golongan.

Inilah makna sejati berjalan bersama sebuah perjalanan iman yang tidak pernah usai, tetapi terus bergerak dinamis menuju perwujudan Kerajaan Allah di bumi Nusantara, di mana kasih, keadilan, dan persaudaraan menjadi fondasi kehidupan bersama.

*Penulis tinggal di Maumere

TERKINI
BACA JUGA