Maumere, Ekorantt.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berkomitmen untuk mendukung Cletus Beru yang berhasil masuk dalam lima besar nomine pejuang pariwisata nasional.
Perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Paulus Histo Safrodan berkata, kerja sama yang telah terjalin dengan Cletus Beru selama ini selalu berjalan baik dan memuaskan.
“Kerja sama yang sudah dilakukan dengan Cletus Beru adalah kerja sama yang tidak pernah mendatangkan kekecewaan,” ujar Paulus saat kegiatan visitasi dari Kementerian Pariwisata bersama Dewan Juri Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 di Kampung Dokar, Desa Umauta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia berharap, Cletus bisa melangkah menjadi pemenang pejuang pariwisata tahun 2026. Menurutnya, pahlawan sejati adalah mereka yang tidak bekerja hanya karena mencari sorotan kamera, tetapi Cletus bekerja dalam sunyi.
“Kita tahu dari tempat yang terpelosok Cletus mampu kampung Dokar, Desa Umauta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, menjadi spirit nasional sehingga ia layak menjadi pejuang pariwisata,” ujar Paulus.
Menurutnya, kunjungan ini bukan sekadar menilai apakah Cletus layak masuk lima besar Local Hero. Lebih dari itu, kunjungan ini membuktikan kepada warga Kampung Dokar bahwa kerja keras mereka dicatat sebagai bagian dari upaya merawat budaya.
“Budaya lokal diyakini akan menemukan jalannya untuk pulang demi kelangsungan hidup anak cucu dan pertumbuhan ekonomi warga,” kata Paulus.
Ia menuturkan, ketika setiap orang memilih merantau demi kemapanan di kota, Cletus justru mengambil keputusan besar memilih pulang ke kampung halamannya.
Cletus meninggalkan kenyamanan di kota demi meneruskan perjuangan sang ayah untuk menghidupkan kembali sanggar budaya yang sempat mati suri.
“Kalau kita lihat di depan ini ada banyak penghargaan, bukan ini yang Cletus minta. Penghargaan yang sesungguhnya adalah ketika anak-anak kecil kampung Dokar berani menari tampil dengan bagus dan percaya diri,” ungkap Paulus.
“Generasi muda Dokar begitu semringah melakukan tenun ikat, tetapi mereka percaya bahwa dapur ekonomi mereka berjalan,” tambahnya.
Bagi Paulus, Cletus adalah sosok jujur dan kritis selalu menuntut hak masyarakat termasuk memperjuangkan perbaikan jalan 12 kilometer menuju sanggarnya tanpa pandang bulu.
“Cletus itu jujur dan ceplas-ceplos. Dia tidak diam melihat saat melihat jalan 12 kilometer rusak parah, dan terus menuntut tanggung jawab pemerintah meski ada bantuan,” ujarnya.
Menurut Paulus, Kampung Dokar sangat layak menjadi lokasi penelitian seni yang hampir punah. Cletus dinilai layak masuk nominasi karena memilih pulang demi menegakkan peradaban.
“Sebagai pemerintah provinsi kami memang belum banyak membantu. Kendati demikian, Cletus tetap berkarya. Ia tidak tersanjung karena pujian, dan tidak pula jatuh karena kurangnya dukungan, melainkan terus maju,” ujarnya.













